Tepian Cemara Hitam

Aku sedang berada dipersimpangan jalan, menatap kelu langit hitam, ya, di pojok jalan temaram lampu pudar, sekeliling berbalut kabut terombang ambing angin, daun-daun cemara berguguran jatuh menimpa tanah, jelegar petir fatamurgana membuaiku dalam pilu sendu syahdu, dibalik pagar semak-semak, ada kelinci garang tertikam kuku-kuku musang hitam, memerah darah putihnya selimut tubuhnya, gemerincing lonceng-lonceng air menusuk rongga-rongga hati menyayupkan mata fana ini, di tepi hutan cemara, mencoba membiaskan wajahmu kembali dalam desiran ranting cemara hitam, cahaya purnama menyelinap disela-sela dedaunan membelah batang-batang kokoh pembawa kehidupan lain, membawa roh dari malam ditepi hutan cemara.


Dentang berisik detik jarum jam mengganggu telinga, mengusik ketenangan pikiranku, mengindahkan damainya embun yang membasahi dunia hitam ini, membiarkannya berlalu menetes diantara dahan-dahan getas, mengikis kehangatan perlahan. Dibawah cemara hitam, kelam, basah. Aroma ini, membawaku sekali lagi kedalam sebuah pembodohan imaji, ciptaanku, untukku dan karena aku.


Kali ini waktu benar-benar mengulitiku, menggores sedikit luka kecil dan lalu menyiramnya dengan asam, melepuh, mengering lalu membusuk. Lumut yang ikut menghitam bersama cemara, rerumputan yang mengering berubah merah, menyala, panas dan sangat membosankan.


Tepian cemara hitam, jalan yang dulu sering kita lalui mengisyaratkan kelelahan jiwa menahan semuanya, sendiri, tanpamu.
Share:

0 Comments:

Post a Comment

Yang punya nama, kasih nama donk woe!!!