Mari saya artikan. Eheheheh...
Lama tidak update blog ini saya, dan inilah saya, datang dengan cara pandang berbeda tanpa mengubah sudut pandang saya, bahasa yang berbeda juga.
Sekalinya update, mungkin saya akan dicap mendiskreditkan wanita atau mungkin profesi pelacur, tapi apalah itu terserah penafsiran dari kalian, sudah saya katakan bahwa sudut pandang saya tidak berubah, jadi ini dari pemikiran saya, anda berpikir lain? Itu urusan kalian.
Jangan jadi pelacur adalah hal pertama yang ingin saya jadikan judul pada posting pertama setelah vakum beberapa saat. Kenapa? Karena saya merasa miris saja dengan tingkah anak muda jaman sekarang. Bukan hanya para laki-lakinya saja, tapi juga wanitanya.
Kemarin saya diceritakan ada seorang wanita (Cewek) ditertawakan karena masih menjaga Virginitasnya, aneh menurut saya, ini sungguh memprihatinkan, kenapa perawan malah ditertawakan? Oleh wanita-wanita lainnya. Damn... Ini bodoh kawan, sungguh sangat goblok, dan terkesan wanita-wanita itu seperti bajingan, see? BAJINGAN, mungkin kata yang tidak etis, tapi dengan itu saya menyebut mereka, jika kalian para wanita tersinggung, berarti anda seperti mereka, seperti wanita-wanita yang saya bicarakan.
PELACUR, wanita mana yang mau disebut pelacur? Bahkan mungkin seorang pelacur sungguhan pun tidak mau disebut dengan panggilan itu. Singkatnya, wanita kebanyakan saat ini secara tidak langsung menjadi pelacur, bagaimana bisa? Ada beberapa orang wanita yang mungkin berani menceritakan kepada saya pengalaman pribadinya, tentang pacar mereka, tentang pernah atau tidaknya mereka melakukan hubungan sex, ya, sex bebas, bisa diartikan seperti itu.
Saya : "Kenapa kamu lakukan?"
Teman : "Karena aku sayang dia."
OK, alasan klise anak muda jaman sekarang, lalu beberapa bulan kemudian merekapun putus, tidak lagi menjadi pasangan "Pacar" yang mesra sampai ke ranjang. Hahaha... Kenapa saya tertawa? Karena memang patut ditertawakan. Lalu si wanita ini memiliki lagi seorang pacar, melakukan hubungan sex lagi seperti yang pertama. Ketika saya tanya lagi mengapa dia melakukannya, jawabannya tetap sama dan mungkin ada penambahan "blahblahblah dan dia juga sayang aku." Saya terkesima, sungguh, lalu beberapa bulan kemudian, mereka putus lagi, ok, skip, tiga kali bertuut-turut seperti itu, saya mungkin sudah malas untuk bertanya kenapa dia melakukan hal itu, karena saya tahu benar jawaban apa yang akan keluar dari dia. Tak pantaskah jika saya menyebut orang-orang seperti ini pelacur? Atau mungkin lebih rendah daripada seorang pelacur? Bagaimana tidak? Seorang pelacur mengerjakan profesi ini mungkin karena himpitan ekonomi, alasan yang klise lagi, hanya saja menurut saya, pelacur paling tidak mendapatkan hasil dari hubungannya dengan seorang laki-laki meski hanya semalam, yah, anda taulah mungkin tarifnya bervariasi. Tapi tidak begitu dengan wanita-wanita seperti diatas, mereka hanya dibayar dengan "Rasa Sayang" yang saya yakin mereka belum memahami deskripsi dari apa itu "Sayang" dan arti dari sebuah kepercayaan.
Kadang saya berfikir terlalu berlebihan, jika sudah seperti itu, saya merasa takut dan kadang muak, adik saya seorang calon wanita, saya takut membayangkan betapa pergaulannya nanti akan sangat berbahaya. Pergaulan saat ini sudah melewati batas, sangat melewati batas.
Tubikontinyu....
Lama tidak update blog ini saya, dan inilah saya, datang dengan cara pandang berbeda tanpa mengubah sudut pandang saya, bahasa yang berbeda juga.
Sekalinya update, mungkin saya akan dicap mendiskreditkan wanita atau mungkin profesi pelacur, tapi apalah itu terserah penafsiran dari kalian, sudah saya katakan bahwa sudut pandang saya tidak berubah, jadi ini dari pemikiran saya, anda berpikir lain? Itu urusan kalian.
Jangan jadi pelacur adalah hal pertama yang ingin saya jadikan judul pada posting pertama setelah vakum beberapa saat. Kenapa? Karena saya merasa miris saja dengan tingkah anak muda jaman sekarang. Bukan hanya para laki-lakinya saja, tapi juga wanitanya.
Kemarin saya diceritakan ada seorang wanita (Cewek) ditertawakan karena masih menjaga Virginitasnya, aneh menurut saya, ini sungguh memprihatinkan, kenapa perawan malah ditertawakan? Oleh wanita-wanita lainnya. Damn... Ini bodoh kawan, sungguh sangat goblok, dan terkesan wanita-wanita itu seperti bajingan, see? BAJINGAN, mungkin kata yang tidak etis, tapi dengan itu saya menyebut mereka, jika kalian para wanita tersinggung, berarti anda seperti mereka, seperti wanita-wanita yang saya bicarakan.
PELACUR, wanita mana yang mau disebut pelacur? Bahkan mungkin seorang pelacur sungguhan pun tidak mau disebut dengan panggilan itu. Singkatnya, wanita kebanyakan saat ini secara tidak langsung menjadi pelacur, bagaimana bisa? Ada beberapa orang wanita yang mungkin berani menceritakan kepada saya pengalaman pribadinya, tentang pacar mereka, tentang pernah atau tidaknya mereka melakukan hubungan sex, ya, sex bebas, bisa diartikan seperti itu.
Saya : "Kenapa kamu lakukan?"
Teman : "Karena aku sayang dia."
OK, alasan klise anak muda jaman sekarang, lalu beberapa bulan kemudian merekapun putus, tidak lagi menjadi pasangan "Pacar" yang mesra sampai ke ranjang. Hahaha... Kenapa saya tertawa? Karena memang patut ditertawakan. Lalu si wanita ini memiliki lagi seorang pacar, melakukan hubungan sex lagi seperti yang pertama. Ketika saya tanya lagi mengapa dia melakukannya, jawabannya tetap sama dan mungkin ada penambahan "blahblahblah dan dia juga sayang aku." Saya terkesima, sungguh, lalu beberapa bulan kemudian, mereka putus lagi, ok, skip, tiga kali bertuut-turut seperti itu, saya mungkin sudah malas untuk bertanya kenapa dia melakukan hal itu, karena saya tahu benar jawaban apa yang akan keluar dari dia. Tak pantaskah jika saya menyebut orang-orang seperti ini pelacur? Atau mungkin lebih rendah daripada seorang pelacur? Bagaimana tidak? Seorang pelacur mengerjakan profesi ini mungkin karena himpitan ekonomi, alasan yang klise lagi, hanya saja menurut saya, pelacur paling tidak mendapatkan hasil dari hubungannya dengan seorang laki-laki meski hanya semalam, yah, anda taulah mungkin tarifnya bervariasi. Tapi tidak begitu dengan wanita-wanita seperti diatas, mereka hanya dibayar dengan "Rasa Sayang" yang saya yakin mereka belum memahami deskripsi dari apa itu "Sayang" dan arti dari sebuah kepercayaan.
Kadang saya berfikir terlalu berlebihan, jika sudah seperti itu, saya merasa takut dan kadang muak, adik saya seorang calon wanita, saya takut membayangkan betapa pergaulannya nanti akan sangat berbahaya. Pergaulan saat ini sudah melewati batas, sangat melewati batas.
Tubikontinyu....
Tapi emang sih, hari ini g tau kenape juga ane keinget sama yang kemaren-kemaren, beberapa bulan lalu, Ehehehe... Tapi whateverlah... Yang penting hepi...




kedinginan
ditonjokin
ampe babak belur
kecebur di laut ampe basah kuyub
akhirnya mati
, Lebay banget kan? 