Hidup Petani = 3X

Kenapa? Karena masa tanam dan panen itu rentang waktunya 4 bulan, diperkirakan seperti itu, jadi satu tahun itu petani hanya menikmati 3 kali masa panen, padahal kebutuhan hidup pada umumnya dihitung perbulan, bukan begitu? Kadang saya mikir sendiri. bagaimana kehidupan mereka perbulannya? Ini untuk petani kecil, anggap saja seorang petani yang hanya memiliki satu hektar tanah sawah/tanah garapan. Dalam sebulan, pengeluaran pak tani ini pun tidak sedikit, meski mereka mencoba berhemat tapi tuntutan jaman tidak bisa membohongi ketidak mampuan mereka, seperti biaya anak mereka sekolah, meski mereka berhemat untuk kepentingan lain, mereka akan dipaksa dengan biaya tersebut, bukan begitu? Kalau setiap bulannya petani harus mengeluarkan biaya sekolah untuk 2 orang anaknya, sudah berapa duit itu? Belum lagi keperluan lain, mungkin bagi sebagian orang yang pendapatannya diatas rata-rata/sedikit lebih punya(Ada) biaya sekolah bukan hal yang berat, tapi untuk petani yang saya katakan diatas ini sangat berat, iya g?

Intinya, pendapatan mempengaruhi apa itu yang disebut taraf hidup, haha... Iya kan? Jadi, apakah tidak ada metode lain bertani dengan satu hektar tanah saja yang dapat menghasilkan/panen setiap bulannya, yang kita bicarakan disini Padi tentunya, dengan harga jual yang seperti sekarang ini(Dimonopoli yang bermodal). Dan saya berpikir... Kenapa tidak satu hektar tanah ini kita bagi tiga? Seperti ini

Gb. 1
Kalau saya tidak salah hitung, seperti diatas, itu saya hitung dengan 3 bulan masa panen, jadi dengan padi super. Kalau kita bagi tiga seperti pada gambar bawah itu, petak pertama kita tanam bulan Januari, jadi maret kita bisa panen. Petak kedua kita tanam bulan Februari jadi kita bisa panen bulan April. Petak ketiga kita tanam bulan Maret jadi kita bisa panen bulan Mei, coba diteruskan sendiri penghitungannya, kalau saya benar dan tidak salah, maka pak tani bisa panen setiap bulannya. Pendapatan dari panen ini memang tidak seberapa, tapi dibandingkan dengan yang 3 bulan sekali atau bahkan 4 bulan sekali, ini lebih efektif, menurut saya yang kurang mengerti benar pertanian. Efektifnya ada pada pendapat perbulan, dengan begitu pak tani bisa menganggar pengeluaran untuk satu bulan kedepan lebih nyaman dan tentram, mungkin pak tani bisa nabung untuk biaya penggarapan sawah nantinya, seperti minus pada Pupuk atau terserang hama.

Nhah tugas mahasiswa pertanian ini yang pintar-pintar itu, untuk menciptakan benih padi yang bisa menyamakan pendapatan 2/3 hektar dalam 1/3 hektar saja, peningkatan buahnya atau apa gitu, kan saya tidak terlalu mengerti juga, yang saya tau hanya Pak Tani sekarang ini tidak seperti jaman ORBA, dimuliakan dan diperhatikan pemerintah, banyak penyuluhan-penyuluhan, perlombaan-perlombaan dalam masalah pertanian, bahkan kita pernah surplus Beras kalau tidak salah, sekarang? Kita bahkan Import beras dari negeri orang, bayangkan saja betapa memalukannya Indonesia kita ini? Negeri subur tapi Import pangan dari luar negeri. Perlu diingat, kalau kita benar-benar ingin menjadikan Indonesia ini negara Industri, hanya akan merusak apa yang ada saat ini, nhah, nanti mau apa kalau semuanya sudah terindustrialisasi? Tidak ada lagi tanaman, tidak ada lagi bahan makanan alami, mau apa? Makan besi? Kenapa tidak kembalikan saja Indonesia menjadi negara Agraris seperti jaman ORBA? Kita kuasai pangan Dunia, maka dunia akan berada dibawah kita. Tentu saja kita bisa memonopoli pangan dunia untuk kesejahteraan Indonesia, memperkuat pertahanan DLL, negara tetangga bikin masalah? Embargo saja, pasti menyerah, tidak seperti saat ini, jika kita maju perang, memang kita akan menang, tapi hanya dengan negara kecil itu, ujung-ujungnya juga akan terjadi perang dunia, mending kalau hanya perang dingin, kalau sampai nuklir?

Mana generasi muda yang berpikir? Tunjuk jari... Haha... 1% diantara sebegitu banyak anak muda generasi kita ini yang mau berpikir jernih, maju dan kedepan. Sisanya, generasi konsumtif budak kapitalis... MERDEKA!!!!
Share:

0 Comments:

Post a Comment

Yang punya nama, kasih nama donk woe!!!