Intinya, pendapatan mempengaruhi apa itu yang disebut taraf hidup, haha... Iya kan? Jadi, apakah tidak ada metode lain bertani dengan satu hektar tanah saja yang dapat menghasilkan/panen setiap bulannya, yang kita bicarakan disini Padi tentunya, dengan harga jual yang seperti sekarang ini(Dimonopoli yang bermodal). Dan saya berpikir... Kenapa tidak satu hektar tanah ini kita bagi tiga? Seperti ini
![]() |
| Gb. 1 |
Nhah tugas mahasiswa pertanian ini yang pintar-pintar itu, untuk menciptakan benih padi yang bisa menyamakan pendapatan 2/3 hektar dalam 1/3 hektar saja, peningkatan buahnya atau apa gitu, kan saya tidak terlalu mengerti juga, yang saya tau hanya Pak Tani sekarang ini tidak seperti jaman ORBA, dimuliakan dan diperhatikan pemerintah, banyak penyuluhan-penyuluhan, perlombaan-perlombaan dalam masalah pertanian, bahkan kita pernah surplus Beras kalau tidak salah, sekarang? Kita bahkan Import beras dari negeri orang, bayangkan saja betapa memalukannya Indonesia kita ini? Negeri subur tapi Import pangan dari luar negeri. Perlu diingat, kalau kita benar-benar ingin menjadikan Indonesia ini negara Industri, hanya akan merusak apa yang ada saat ini, nhah, nanti mau apa kalau semuanya sudah terindustrialisasi? Tidak ada lagi tanaman, tidak ada lagi bahan makanan alami, mau apa? Makan besi? Kenapa tidak kembalikan saja Indonesia menjadi negara Agraris seperti jaman ORBA? Kita kuasai pangan Dunia, maka dunia akan berada dibawah kita. Tentu saja kita bisa memonopoli pangan dunia untuk kesejahteraan Indonesia, memperkuat pertahanan DLL, negara tetangga bikin masalah? Embargo saja, pasti menyerah, tidak seperti saat ini, jika kita maju perang, memang kita akan menang, tapi hanya dengan negara kecil itu, ujung-ujungnya juga akan terjadi perang dunia, mending kalau hanya perang dingin, kalau sampai nuklir?
Mana generasi muda yang berpikir? Tunjuk jari... Haha... 1% diantara sebegitu banyak anak muda generasi kita ini yang mau berpikir jernih, maju dan kedepan. Sisanya, generasi konsumtif budak kapitalis... MERDEKA!!!!

0 Comments:
Post a Comment
Yang punya nama, kasih nama donk woe!!!