Ketahui Siapa Dia

Jika kamu bilang, rasa aman dan tentram serta nyaman pada orang yang menatapmu dengan biasa saja atau penuh dengan tanda tanya, itu bukan cinta, sekedar perasaan yang poin-poinnya bisa diciptakan dengan mudah oleh orang yang kamu anggap mencintaimu dan kamu anggap kamu mencintainya, itu semua palsu. Saat mereka dengan mudahnya pertama kali menyatakan "I Love You" dengan terlihat tenang dan tidak gugup, itu perlu ditanyakan. Aku tidak mengharuskan orang untuk gugup saat menyatakan cintanya, tapi kita coba telaah sedikit tentang ini, ini bukan kolot, tapi inilah kenyataannya, saat dia bergetar dan hatinya berdegup kencang saat menemuimu ataupun memandangmu, kamu harus tau jika dia memang mencintaimu, ini bukan sekedar kebiasaan, getaran-getaran itu nyata, bukan juga karena memang pemalu.


Buktikan saja, meski dia malu-malu dan sedikit berkeringat dingin saat menggenggam tanganmu, itu berarti dia sedang merasakan kegundahan, keresahan akan terlepasnya tanganmu dari genggamannya, yang itu artinya kamu sangat berarti untuknya. Saat dia bergetar ketika menyentuhmu, itu berarti dia sedang sangat gugup, tidak rela jika kamu disentuh oleh orang lain seperti dia menyentuhmu, itu artinya dia sangat ingin menjagamu.


Bandingkan saat tanganmu digenggam orang lain dengan tidak terjadi apapun pada tangannya, itu mungkin karena dia sudah bisa menggenggam tangan-tangan lain, tapi bisakah kamu rasakan denyut nadinya, jika tidak terarah, itu seperti halnya yang diatas, tapi jika tidak, pertanyakan kembali hatinya dan hatimu. Ketika seseorang menyentuhmu dengan lembut, itu sebenarnya kasar, pikirkan, coba tolak sentuhan itu, lalu apa yang terjadi? jika sebuah amarah yang datang, pertanyakan lagi hatinya dan hatimu, bahkan jika dia tersenyum. Jika reaksinya adalah gugup dan ketakutan saat tau kamu menolak sentuhan itu, tersenyumlah.
Share:

Menghamba Hitam

Jika semua yang ada di dunia ini hitam, tentu akan sangat menyenangkan bagiku, untukku. Untuk mereka pecinta warna-warni, sungguh itu akan sangat membosankan, lebih membosankan lagi bagiku, jika harus melihat mereka para pecinta warna-warni kebingungan menentukan ke arah mana mereka menetapkan tujuan, karena didepan mereka semua hitam, sepertimu, ketidak-konsistenanmu terkadang tertawa kecil, sedikit terbahak saat kau terjatuh karena warna kesukaanmu mulai pudar, dan aku akan terbahak saat kau mengubah warna itu, mungkin saat ini merah muda, jika sudah mulai pudar, mungkin akan kau ganti menjadi ungu, dan itulah yang sangat membuatku tak habis pikir, kenapa? karena warna yang kau yakini itu tidak kau pertahankan.


Aku, jangan kau tanyakan lagi, aku disini masih saja menghitamkan seluruh duniaku sendiri, menatapinya penuh satu, konsistensi bukan sekedar adaptasi setiap perubahan warna yang memang kau rubah sendiri, idealisme bukan sekedar latah dengan keadaan, jika aku bicarakan sebuah sikap disini, sikapmu itu sangat mempengaruhimu, pikiranmu, kau tak akan mampu menghadapi keadaan yang kau ciptakan saat masih berwarna merah muda, kenyataan keadaan pada warna ungu itu sekarang kau bilang sangat tidak bersahabat, selanjutnya, kau akan mengubah warnamu lagi menjadi biru, saat keadaan biru kau mengerti, kau akan mengubahnya lagi, ini sebuah ketidak-pastian yang sangat-sangat membingungkan orang-orang disekitarmu, termasuk aku.


Jika hitam, sudah, hitamkan semua dunia, jika putih, putihkan semua, pendirian, prinsip, terima keadaan yang sudah kita buat, kenyataannya memang kitalah awal dari keadaan-keadaan ini, kita yang menciptakan keadaan ini meski tanpa tersadar, hukum sebab dan akibat, hidup tetap akan ada sebab jika ada akibat, tak akan ada akibat tanpa sebab, itulah kenapa aku sering bilang padamu, jika semua perlu alasan, dan alasan itu harus benar-benar tepat, sebelum menjatuhkan pilihan pada keputusan, agar akibat dari semuanya seperti yang kita inginkan. Akibat, bisa kita pikirkan saat sebelum membuat sebuah Sebab, ini yang haruis kau tau, karena dirimu tak pernah mau tau apa Akibat dari Senan yang tak pernah kau pikirkan itu, seperti yang aku katakan, aku akan tertawa saat akibat itu menemuimu.


Hitamku, Warna-warnimu, berlainan, aku tak mengharuskanmu menghitamkan warnamu, cukup pilih salah satu warnamu, tak perlu menggantinya dengan yang lain meski kau tau satu saat warnamu akan pudar, itu sudah menjadi siklus yang memang harus dan musti terjadi, tidak akan pernah bisa kita mengelak darinya, kecuali dengan kebodohan menggantinya dengan warna lain, dan itu menjijikkan.
Share:

Ketika Indonesia kehilangan ke-Indonesia-annya

Kebudayaan dianggap sebuah hal kuno peninggalan sejarah, dianggap primitif dan ke-terbelakang-an. Ketika Jawa kehilangan ke-Jawa-annya, ketika Sumatera kehilangan ke-Sumatera-annya, ketika Kalimantan kehilangan ke-Kalimantan-annya, ketika Sulawesi kehilangan ke-Sulawesi-annya, ketika Papua kehilangan ke-Papua-annya, maka Indonesia kehilangan Indonesia, kemajuan jaman yang disalah artikan, menyedihkan, melupakan sebuah tradisi Indonesia. Ironisnya, mereka bangga untuk kepalsuan budaya baru mereka dan mencampakkan kebudayaan turun temurun mereka.

Adat istiadat merupakan sebuah Maha Karya moyang, yang jika mereka saat ini masih mampu melihat penerusnya, mungkin mereka akan berdoa pada Tuhan untuk segera mengambil nyawa mereka. Saat ini, Adat Istiadat merupakan bahan cemoohan dan tertawaan kalangan yang tidak memiliki aturan dan prinsip idealisme, generasi pengikut.

Norma, Agama dan sebagainya dianggap sebuah sampah, moral bejat dari otak-otak yang sudah dicuci dengan doktrin kebebasan. Mental Budak busuk, diperbudak mode, style, kebudayaan kolonial imperial liberalis. Kaum hedon yang diciptakan oleh kapitalis materialistis, memporak porandakan aturan-aturan, menciptakan arogansi-arogansi generasi muda bodoh yang dengan bangga menerima pembodohan-pembodohan itu.

Segala kerusakan timbul dari sebuah nama "Hilangnya ke-Indonesia-an Indonesia" yang akan tidak mengherankan terbentuklah sparatisme dari kalangan-kalangan tertentu yang akan juga dianggap sebagai pemberontak atau kelompok perusuh oleh manusia yang tidak memanusiakan mereka, ini semua karenamu, karenaku dan karena mereka. Memuakkan mendengar berita-berita tentang generasi yang akan meneruskan bangsa ini, atau generasi bangsa ini memang sudah merelakan dirinya menjadi budak bangsa lain? Menjijikkan melihat kelakuan-kelakuan generasi ini, generasi yang seharusnya mengerti akan dibawa kemana bangsa ini nanti, menuhankan kebebasan tanpa batas, menuhankan kepalsuan-kepalsuan yang memang dibuat sedemikian menyenangkannya oleh manusia-manusia ambisius yang berambisi menguasai seluruh dunia, menjadikannya tunduk dalam satu perintah yang akan dianggap Dewa.

Keamanan. Ketenangan, Keceriaan, Kesenangan kali ini bukan milik generasi seteah kita, mereka mungkin akan menderita karena segala ketenangan, ketentraman, keceriaan, dan kesenangan kita hari ini.

Kembalikan Indonesia menjadi Indonesia, dimana semua mengenalnya sebagai bangsa yang penuh adab dan sopan santun dengan norma-norma yang baik dan dijunjung tinggi.
Share:

Untukmu Bunga Lilyku

Kamu tau saat ini aku benar-benar kebingungan karenamu, kemarin kamu merengkuhku erat dengan kasihmu, saat ini kamu terombang-ambing apa yang seharusnya sudah kita tau sebelum ini, kita pernah memikirkan semua ini, bukankah seperti itu? Aku sempat goyah sepertimu, lalu aku meyakinkan diriku sendiri untuk melangkah, lagi. Kali ini giliranmukah? Sedangkan kemarin kamu mempermudah pemikiranku dengan pikiranmu, tak bisakah kamu ulangi saja pemikiranmu itu untukku?

Ah... Aku hanya mampu membaca novel-novelku untuk menghilangkan ketakutanku jika kamu benar-benar kehilangan keseimbangan dan jatuh, sungguh, aku sampai bosan mengulang-ulang kembali tulisan-tulisan yang mungkin sudah tidak lagi asing ini, jika kamu tau aku memilihmu untukku, bukan berarti dirimu harus seperti ini, membuat celah yang akan menjadi jurang lama kelamaan, sadarkah kamu jika aku sangat gugup kali ini? Kita yang sebenarnya sudah terlalu jauh melangkah meski kamu anggap ini belum seberapa, tapi apakah kamu melihatku saat mencoba memutar balik keadaan yang memang sudah sangat hancur ini untukmu, untukku dan untuk kita? Sedikit tertawa aku melihat semua ini, memikirkan hal ini kali ini sangat membuatku tersenyum sendiri, sangat adil, dan sungguh sangat tidak benar.

Apa maumu? Semuanya kembali seperti dulu? Itu hal yang bodoh jika kamu masih seperti saat ini, mengacuhkan semua yang seharusnya sangat penting untuk dipikirkan, seharusnya kamu bisa melihat lebih dalam fenomena-fenomena yang kamu atau aku alami untuk menjadikannya sebuah lubang jarum yang akan menjadi pintu keluar kita dari dalam gua dalam ini, tapi apa? Kamu seakan ingin menyerah begitu saja, menjadikan ini sangat lucu, kita sedang tidak bermain-main, kita sedang tidak bercanda, bukan saatnya untuk berlari melarikan diri dari semua ini, kita sudah terlambat. Jika kamu ingin lari dari semua ini, lalu kenapa dulu kamu datang kembali kesini jika hanya untuk berlari ketakutan karena semua ini? Aku sungguh sangat heran.
Share:

Tepian Cemara Hitam

Aku sedang berada dipersimpangan jalan, menatap kelu langit hitam, ya, di pojok jalan temaram lampu pudar, sekeliling berbalut kabut terombang ambing angin, daun-daun cemara berguguran jatuh menimpa tanah, jelegar petir fatamurgana membuaiku dalam pilu sendu syahdu, dibalik pagar semak-semak, ada kelinci garang tertikam kuku-kuku musang hitam, memerah darah putihnya selimut tubuhnya, gemerincing lonceng-lonceng air menusuk rongga-rongga hati menyayupkan mata fana ini, di tepi hutan cemara, mencoba membiaskan wajahmu kembali dalam desiran ranting cemara hitam, cahaya purnama menyelinap disela-sela dedaunan membelah batang-batang kokoh pembawa kehidupan lain, membawa roh dari malam ditepi hutan cemara.


Dentang berisik detik jarum jam mengganggu telinga, mengusik ketenangan pikiranku, mengindahkan damainya embun yang membasahi dunia hitam ini, membiarkannya berlalu menetes diantara dahan-dahan getas, mengikis kehangatan perlahan. Dibawah cemara hitam, kelam, basah. Aroma ini, membawaku sekali lagi kedalam sebuah pembodohan imaji, ciptaanku, untukku dan karena aku.


Kali ini waktu benar-benar mengulitiku, menggores sedikit luka kecil dan lalu menyiramnya dengan asam, melepuh, mengering lalu membusuk. Lumut yang ikut menghitam bersama cemara, rerumputan yang mengering berubah merah, menyala, panas dan sangat membosankan.


Tepian cemara hitam, jalan yang dulu sering kita lalui mengisyaratkan kelelahan jiwa menahan semuanya, sendiri, tanpamu.
Share:

Hilang

Aku merasa hilang, kehilangan dan dihilangkan.
Dibekukan lalu disublimkan
Aku kehilangan arah
Tujuanku
Perahuku,
Layarku hilang
Kemudiku dibuang entah kemana

Dihadapkannya aku dalam kebimbangan
Menemukan jalan pulang,
Jalan menepi ditepian tebing-tebing tajam
Merajam setiap kapal yang datang
Terhunus karang
Tersapu ombak besar

Aku menantang semua ini untukmu,
Melawan derasnya arus gelombang pasang
Yang entah kapan akan surut
Tapi kemana kau?
Dimana dirimu saat aku benar-benar kebingungan
Menjalankan perahu kecil kita?
Kau meninggalkanku
Mengacuhkanku
Menghilangkanku
Dimana hatimu?

Dimana dan apa dosaku padamu?
Share:

Pagi Ini

Air mata ini benar-benar tumpah, aku masih tak kuasa melawan semua ini, aku ingin masih tetap bersamamu, menikmati pagi ini, menjalani hari yang singkat ini, kemarilah, seperti tadi, biarkan kulepas semua kepedihanku, aku tak ingin kau pergi lagi seperti kemarin, haruskah aku menghadapi semua ini lagi sendiri...


Apa aku mampu membiarkanmu pergi
Aku merasa tak mampu
Tidak akan pernah mampu menjalani semua pikiran itu


Aku tau aku rapuh
Saat ini aku sudah sangat tidak mampu berdiri tegak
Sebagian jiwaku hilang
Pergi
Berlari
Menjauh dari semua ini


Aku tak ingin kau pergi
Tolong aku, jangan pergi lagi
Biarkan saja semua seperti ini
Haruskah aku mengganti semua ini dengan yang lain
Aku tak yakin aku dapatkan kebahagiaan seperti ini, nanti


Kawan, aku benar-benar patah
Tersungkur terbujur kaku membeku
Kau yang dalam tulisan ini
Aku mohon, tetap tinggal
Disini, Bersamaku, meski tak ada restu itu lagi
Aku ingin jalani hari-hariku bersamamu, lagi
Aku memohon, dengan segenap nyawa ini untuk tidak melepaskannya
Tolong, berikan lagi aku keceriaanku dan indahnya bersamamu
Share:

Tolong Aku

Tolong aku, bunuh saja aku saat ini juga, sungguh keadaan ini menyiksaku, aku seakan tak mampu menahan air mata ini, aku ingin menangis kawan, aku ingin menangis sekeras mungkin, sekeras-kerasnya, biar saja dunia tau aku menangis, biar saja semua akan mentertawakan tangisku itu, tapi aku hanya mampu meneteskan sedikit air mata tanpa bersuara saat ini, terlalu pedih kawan, sungguh teramat sangat sedih seakan hati kecilku ini tak mampu menahan semua itu, menjadikannya beku seperti kesedihan-kesedihanku yang lain dan lalu melumatnya hilang, tapi kawan, saat ini terlalu besar kepedihan ini, sungguh aku tak mampu berbicara dengan benar kali ini....
Ketika cinta membawa kami kembali dalam penyatuan hati, sebuah restu tak ada lagi, membuatku kalap dalam luka yang harus dengan terpaksa kubuat, membelah hati ini dan menyisihkannya, satu kali lagi aku benar-benar merasa sangat tak berdaya melawannya, aku salah dengan pemikiranku, membiarkan pikiran ini mempermudah jalan-jalan setapak penuh aral itu, aku tau keadaan ini Dia-lah yang membuatnya, tapi apa daya jika aku memang benar-benar masih sangat menyayanginya. Saat ini harus ada yang patah meski aku tau pasti akupun akan tumbang karena semua ini, aku ingin dia tau jika aku sungguh menyayanginya tapi jika restu itu tak mampu kuraih aku tak mampu berpikir kembali, sungguh kawan, aku sungguh masih sangat menyayanginya meski apa yang telah dia perbuat padaku, aku ikhlas menerimanya tapi tidak untuk mereka, aku tau ini tentang hidupku tapi ini pun tentang hidup orang lain, aku sungguh sangat mengerti semua ini, mereka, semuanya, tapi aku benar-benar tak mampu menghalau perasaan yang sama seperti dulu padanya.

Aku mulai memburuk kawan, aku mulai merasa mati, aku mulai merasa kehilangan dan akan sangat kehilangan, saat ini, beban ini, membunuhku.
Share:

Falling Dew

Ah, akhirnya sekali lagi aku merasa mati bersama tetesan embun yang jatuh dari dedaunan, membasahi jalanan aspal yang sebentar lagi terik matahari menguapkannya dan awan yang membentuk kiasan-kiasan wajah-wajah sakit dengan jahatnya akan menjatuhkan embun itu lagi, sekali lagi aku benar-benar merasakan perasaan yang hampir benar-benar membunuhku ini, entah, cemas, ragu, kecewa, bimbang dan berbagai rasa yang saling berlomba mengisi relung-relung jiwa ini, menjadikannya pucat pasi, lemah merapuh dan hampir patah, sesaat kemarin aku merasa manusia paling berbahagia dengan tawa yang gelak menggelegar tanpa dipalsukan. Hari inipun aku masih tertawa dengan kepalsuan yang dipaksakan, memakai lagi topeng-topeng senyum itu untuk mengelabuhi semuanya, mengisyaratkan pada mereka bahwa dalam batinku tidak terjadi sesuatu yang mampu membuatku menepi ditembok-tembok ratapan.

Aku mengalihkan sendiri duniaku, menjadikannya gelap dan terang dengan pikiran ini, saat semua sudah pada titik puncaknya, aku hanya bisa meluapkan semua amarah ini pada tulisan-tulisan basi yang sesungguhnya teramat sangat menggangguku jika kubaca kembali tulisan usangku, mengembalikan sebongkah kenangan dengan dilemparkan tepat di otak kecilku, menjadikannya sebuah file system yang sulit di hapus. Udara ini lagi, kenapa hanya dengan menghirup udara seperti ini membuatku kalut terbalut perasaan yang sama lagi seperti yang sudah kulalui, membuatku merasa menjadi seorang pesakitan, menundukkan kepala ini dan meneteskan air-air yang entah tercipta dari apa, aku sungguh-sungguh tak pernah mampu menahan sakit ini, aku masih mencoba bertahan dengan keyakinanku jika suatu saat ini semua akan meninggalkanku dan tak akan kembali lagi, terkadang aku berpikir aku salah berpikir, salah meyakini, salah menempatkan pikiran-pikiran ini dalam keadaan yang memang sangat kumengerti jika aku meletakkannya disana pikiranku ini akan menjadi sebuah pedang berkarat yang akan menusukku dengan sendirinya, aku memang benar-benar bodoh untuk selalu memikirkan semua ini tapi aku tak mampu menolak semua pemikiran-pemikiran ini, begitu benar saat-saat aku merasa lelah dengan hati namun sangat salah saat aku memulai menyatukan dua hati dalam satu pikiran.

Dan aku lelah, aku mulai terpuruk kembali, mendalami luka-luka lama untuk kucari bakteri-bakteri kecil yang membuatnya tak kunjung kering, ingin ku bunuh semuanya saja agar lukaku cepat mengering agar aku mampu berjalan tanpa tersengal-sengal menahan pedihnya luka yang memang sangat dalam. Aku sangat lelah, menahan kehausan atas kejujuran-kejujuran meski aku tau jika aku meminum air-air kejujuran ini dari gelas kristal tajam akan melukai bibirku yang bergetar menahan kehausan itu, dan meski aku tau jika terkadang air-air itu beracun dan siap membunuhku lagi, setidaknya aku kehilangan dahagaku atas kejujuran-kejujuran itu bukan dari makanan-makanan kebohongan itu.

Mengertilah, saat kukatakan "Aku baik-baik saja" saat itu aku sedang merangkak diatas tanah berduri. Dan saat embunku mulai terjatuh lagi, aku ingin kau mengerti, aku memulai lagi pemikiran-pemikiran kerasku.
Share:

Masih

Hari ini aku masih membutakan diriku kawan...
Seperti kemarin
Untuknya
Ya kau tau itu
Tapi kawan... Bukankah aku sudah mengatakannya berulang kali padamu...
Mungkin....
Mungkin dialah sesuatu yang kukatakan padamu tak kumengerti sedikitpun
Aku selalu saja berharap banyak...
Tapi kau tau kawan, kau tau yang tak pernah kau rasakan ini


Sudahlah...
Ada apa denganmu? tak seperti biasanya dulu, yang acuh dengan semua kepedihan-kepedihan kita
Seharusnya saat ini kita bernostalgia dengan semua candamu dulu
Bukan seperti ini, aku tau yang kulakukan ini akan menyakitiku, aku mau karena aku ingin, lupakan itu!
Hari ini saja kawan...
Karena besok kita tak lagi berkumpul ditempat ini lagi untuk waktu yang cukup lama..
Ayolah... Aku meninggalkan kewajibanku hanya untuk hari ini...
Kesenangan-kesenangan itu lagi, bukan keadaan seperti ini, yang mencemaskan apa yang kulakukan...
Ini pilihanku, dan aku sudah memikirkannya dengan pikiranku...
Meski aku tau kita tidak pernah punya pikiran yang benar dan jernih tapi....
Sudahlah.....


Rokokku sudah mulai menipis, belikan aku kawan...
Jangan bilang tak punya uang...
Jika begitu kenapa tak kita gadaikan saja motormu itu atau handphoneku seperti dulu.. haha.. Aku sering tertawa jika mengingat hal itu kawan... Karena sebuah tragedi pecahnya kaca kantor guru kita harus puasa selama beberapa minggu... Tanpa rokok, tanpa sarapan... Haha.. Masa-masa indah...
pikiran dangkal anak SMA yang marah karena dipukul satpam gara-gara ketahuan bolos dan ngerokok dibelakang sekolahan...
Gurauan ini selalu kita bicarakan, banyak kenangan kawan, yang entah mereka ingat atau tidak...


Hey... Kenapa kita tidak pergi saja dari sini? bermain di kali seperti masa kecil kita dulu? Yah tapi kita mulai beranjak menua kawan... tapi ingatkah saat kita mencoba menghibur diri dengan pasir-pasir itu? Membuat bola dari pasir, membuat jalan sebagai track, dan kita berpikir itu adalah HotWeels, jika sudah mulai bosan, kita akan mulai saling lempar tanah padat dan kita berbikir itu adalah WorldWar ke Tiga, dan sampai mata kita memerah karena terlalu lama berendam hingga kita takut untuk pulang, kita mulai memainkan kertas yang kita namakan game bola aku ingat betul itu terinfluence dari Nitendo jadul milik teman yang pelitnya setengah mati itu...
Ingat saat kita hampir mati karena sok berpetualang jauh dan masuk ke gua kecil yg belum kita kenal, dan bodohnya kita tak berpikir bahwa jalan masuk kita adalah perosotan yang licin dan lumayan tinggi untuk ukuran kita waktu itu yg mustahil kita keluar melewati jalan masuk itu... Sok hebat kita terus saja maju... Senter kecil yg kita bawapun kehabisan batere ditengah jalan, lumpur dan air setinggi leher hampir saja membuat kita menangis dan menjerit sebelum kita melihat cahaya redup yg kita tau itu adalah matahari senja di sungai yg entah bagaimana kita sampai di gua itu, saat kita keluar hari sudah hampir malam, dengan baju berlumpur dan perasaan campur aduk kau kayuh sepeda bututku itu kembali kerumahmu... Mandi dan aku pulang dalam keadaan basah kuyup, dimarahi dan dihukum satu minggu tak boleh main denganmu... Kita hanya bertemu saat sekolah, dan masih saja kita melakukan hal-hal aneh.. Bermain disawah saat istirahat sampai saatnya masuk, seragam Putih Merah kita kotor karena lumpur dan dihukum untuk tidak mengikuti pelajaran lalu kita menimba air di sumur sekolah untuk mencuci baju kita, bermain air sampai buku-buku kita basah dan tulisan-tulisan kita luntur, lagi dan lagi kita kena marah dirumah... Haha... Masa-masa bodoh yg indah kawan...


Ya aku mengalihkan pembicaraan karena aku tak mau bahas lagi keputusanku itu, sudah kuputuskan bukan? dan aku memang harus menjalaninya...


Aku ingat semua itu kawan untuk nanti masa-masa dimana kita hanya bisa terduduk di kursi rumah kita dan saling menanyakan kapan kau atau aku mati... Yang seperti biasanya "Mati" adalah kata paling lucu untuk dibahas.....
Share:

Saat Ini untuk Nanti

Nanti, saat aku benar-benar Mati.
Aku ingin dunia memujamu
Mengelu-elukan namamu
Bukan karenaku tapi karenamu
Saat ini mereka mencacimu karena ulahmu
Memandang jijik pada setiap langkah-langkah bodohmu
Kamu, sebuah tubuh mati tanpa hati
Membiarkan semua terjamah begitu saja tanpa arti
Tak taukah? Itu bukan cinta.
Kemunafikan-kemunafikanmu yang harus kubayar dengan kesakitanku
Menghancurkan sebuah pikiran hati mati tersayat
Kebohongan-kebohonganmu, lalu kenapa aku yang harus terpuruk karena itu?
Taukah kamu aku hampir saja benar-benar membencimu?
Taukah kamu aku benar-benar hampir membunuhmu?
Taukah kamu saat ini aku benar-benar melaknat semua yang mengelilingimu?
Ya, Termasuk mereka, mereka yang kamu bilang penyelamatmu
Dan kamu tau? Semua itu palsu untukku
Hampir saja sebuah amarah membakar tubuhku
Sampai saat aku mengisak menangis timpuh memunguti serpihan-serpihan hati
Lalu menyusunnya kembali, karena aku tau itu bukan aku


Saat ini untuk Nanti, hanya itu yang mampu kuberikan padamu
Membiarkanmu menari dengan kebohongan-kebohongan basi
Melepasmu bernanyanyi dengan kemunafikan-kemunafikan itu
Tapi, masih saja kamu menemuiku dengan topeng-topeng itu
Tak mampukah kamu menguaknya? menjadikannya tiada?
Membuka topeng jahanam itu dan mengembalikan seluruh kehidupan tepat pada garis lurusnya.


Saat ini untuk Nanti
Aku ingin membuatmu mengerti jika hidup tak harus selalu memilih
Hidup tak harus selalu menang
Hidup tidaklah menyenangkn dengan kebusukan-kebusukan
Agar Nanti, mereka, dunia, memujamu atas saat ini
Meski aku tau, kamu tak akan mau mengembalikan semua yang bukan untukmu
Dan biarkan aku mati sampai saat dunia benar-benar mengelukan namamu.
Share:

Kita

Kawan.
Saat ini aku masih tak percaya
Kehidupan yg kita jalani terlalu keras
Sampai melemahkan aku saat melihatmu seperti itu
Dulu kita berjuang bersama meraih mimpi
Memecah sunyinya kehidupan siang dengan malam-malam kita
Yang sering kita lalui dengan nyanyian-nyanyian sendu, sahdu, pilu tentang apa yang kita lalui siang hari
Kali ini kita harus berada tak lagi dekat
Dari sini aku menyanyikan lagu yg sering kita buat lelucon
Aku tak mampu bernyanyi tanpa suaramu, hanya petikan-petikan gitar tak terarah

Entah.
Ini demi mengingat malam-malam kita atau apa aku masih mencoba mengerti apa yang siapa cari, seperti dulu
Tapi kau berjalan sendiri kali ini
Siang dan malam
Malammu kini malam yang tak ubahnya siangmu
Tak lagi kita menikmati kesenangan tertawa dan berteriak

Akupun berlari kawan
Meski beda arah
Aku masih temanmu
Aku masih seperti dulu yang sangat suka dengan keadaan malam
Disana, ditempat biasa kita berkumpul yang saat ini aku tak lagi bisa untuk mendatanginya terasa sepi tanpamu dan semua candamu.
Terkadang aku berpikir ingin pergi saja
Tapi disanalah aku dapatkan kesenangan-kesenangan sederhana itu
Ditemani segelas teh dan beberapa batang rokok tak masalah, demi Menghilangkan apa yang kita tak pahami saat siang yang begitu terik terlalui dengan mencoba dan mencoba

Nanti aku akan kembali kesana untuk bercerita lagi tentang semua yang kita lalui, Suka, duka dan semuanya
Kita tertawa sepuasnya...
Tunggu aku datang dan kutunggu kau datang lagi disana..
Share:

Deskripsi Basi

Saat melihat senyum itu membuatku tidak mampu lagi mengecap kata untuk sedikit mencaci kelemahan ini.


Kalimat-kalimatmu seperti mantra yang membinasakan semua manusia dan menyisakanmu dimata hitam putihku, memberikannya warna-warna pelangi yang terpancar darimu bulan purnamaku.


Dirimu seakan menjelma dibenakku dengan roh-roh dari kematian-kematianku saat menahan semua api cemburu yang membuatku semakin terbunuh angan pasi.


Menyentuhmu menggetarkan duniaku, membuatnya kelu kaku membeku, bukan ini mauku, aku ingin menyentuhmu saat nanti semua benar-benar milikku, bukan saat ini, aku tak ingin menghancurkan keindahan-keindahanmu demi duniaku.


Anggunmu menghidupkan tanah-tanah kering halaman rumahmu yang dulu hijau oleh rerumputan, lemah lambatnya langkahmu seakan memutar kembali waktu, mengembalikan dedaunan yang gugur pada ranting-ranting pohon-pohon jati.


Mendengar cerita tentang hidupmu hari itu bagaikan senandung sesat yang menyesatkanku pada lamunan khitmat mengikuti gerakan bibirmu yang bagaikan mawar merah muda yang kembali menguncup jika sudah lelah mekar.


Suguhan minumanmu bagaikan geizer bagi seorang musafir dipadang pasir tandus penuh tulang, menghilangkan dahaga kebahagiaan dari sebuah penghormatan.


Kepatuhanmu meluluh lantakkan semua tembok kesombonganku, melongsorkan semua jurang-jurang dari palung-palung amarahku.


Dan saat kau tau, ini semua deskripsi basiku tentangmu duhai bulan purnama yang menjadikan malam-malamku temaram cahayamu.
Share:

Biarkan Bulanku Tetap Perawan

Biarkan dia berlari

Menuju kehidupannya

Dalam genggamnya masih ada mahkota pujaanku

Jangan biarkan terlepas saat kau masih berlari

Jangan biarkan semua mata-mata laknat itu menelanjangimu

Bulan purnamaku

Hiraukan sampah-sampah keparat itu

Bukan untukku tapi untukmu dan penyuntingmu kelak

Meski aku tak lagi ada untukmu

Bulan Purnamaku

Pertanyakan hatimu saat Khilafmu

Pertanyakan otakmu saat bimbangmu

Ingat kembali pesan bodohku untukmu

Biarkan hanya satu

Bukan dua atau bahkan tiga

Meski bukan aku

Persetan dengan anggapan kampungan

Mereka lebih dungu daripada keledai

Bulan Purnamaku

Saat mereka datang padamu

Lihat mereka dengan sadarmu

Pejamkan matamu saat hasratmu menguasaimu

Kalahkan semua teori bedebah manusia masa kini
Share: