Menghamba Hitam

Jika semua yang ada di dunia ini hitam, tentu akan sangat menyenangkan bagiku, untukku. Untuk mereka pecinta warna-warni, sungguh itu akan sangat membosankan, lebih membosankan lagi bagiku, jika harus melihat mereka para pecinta warna-warni kebingungan menentukan ke arah mana mereka menetapkan tujuan, karena didepan mereka semua hitam, sepertimu, ketidak-konsistenanmu terkadang tertawa kecil, sedikit terbahak saat kau terjatuh karena warna kesukaanmu mulai pudar, dan aku akan terbahak saat kau mengubah warna itu, mungkin saat ini merah muda, jika sudah mulai pudar, mungkin akan kau ganti menjadi ungu, dan itulah yang sangat membuatku tak habis pikir, kenapa? karena warna yang kau yakini itu tidak kau pertahankan.


Aku, jangan kau tanyakan lagi, aku disini masih saja menghitamkan seluruh duniaku sendiri, menatapinya penuh satu, konsistensi bukan sekedar adaptasi setiap perubahan warna yang memang kau rubah sendiri, idealisme bukan sekedar latah dengan keadaan, jika aku bicarakan sebuah sikap disini, sikapmu itu sangat mempengaruhimu, pikiranmu, kau tak akan mampu menghadapi keadaan yang kau ciptakan saat masih berwarna merah muda, kenyataan keadaan pada warna ungu itu sekarang kau bilang sangat tidak bersahabat, selanjutnya, kau akan mengubah warnamu lagi menjadi biru, saat keadaan biru kau mengerti, kau akan mengubahnya lagi, ini sebuah ketidak-pastian yang sangat-sangat membingungkan orang-orang disekitarmu, termasuk aku.


Jika hitam, sudah, hitamkan semua dunia, jika putih, putihkan semua, pendirian, prinsip, terima keadaan yang sudah kita buat, kenyataannya memang kitalah awal dari keadaan-keadaan ini, kita yang menciptakan keadaan ini meski tanpa tersadar, hukum sebab dan akibat, hidup tetap akan ada sebab jika ada akibat, tak akan ada akibat tanpa sebab, itulah kenapa aku sering bilang padamu, jika semua perlu alasan, dan alasan itu harus benar-benar tepat, sebelum menjatuhkan pilihan pada keputusan, agar akibat dari semuanya seperti yang kita inginkan. Akibat, bisa kita pikirkan saat sebelum membuat sebuah Sebab, ini yang haruis kau tau, karena dirimu tak pernah mau tau apa Akibat dari Senan yang tak pernah kau pikirkan itu, seperti yang aku katakan, aku akan tertawa saat akibat itu menemuimu.


Hitamku, Warna-warnimu, berlainan, aku tak mengharuskanmu menghitamkan warnamu, cukup pilih salah satu warnamu, tak perlu menggantinya dengan yang lain meski kau tau satu saat warnamu akan pudar, itu sudah menjadi siklus yang memang harus dan musti terjadi, tidak akan pernah bisa kita mengelak darinya, kecuali dengan kebodohan menggantinya dengan warna lain, dan itu menjijikkan.
Share:

0 Comments:

Post a Comment

Yang punya nama, kasih nama donk woe!!!