Ah, akhirnya sekali lagi aku merasa mati bersama tetesan embun yang jatuh dari dedaunan, membasahi jalanan aspal yang sebentar lagi terik matahari menguapkannya dan awan yang membentuk kiasan-kiasan wajah-wajah sakit dengan jahatnya akan menjatuhkan embun itu lagi, sekali lagi aku benar-benar merasakan perasaan yang hampir benar-benar membunuhku ini, entah, cemas, ragu, kecewa, bimbang dan berbagai rasa yang saling berlomba mengisi relung-relung jiwa ini, menjadikannya pucat pasi, lemah merapuh dan hampir patah, sesaat kemarin aku merasa manusia paling berbahagia dengan tawa yang gelak menggelegar tanpa dipalsukan. Hari inipun aku masih tertawa dengan kepalsuan yang dipaksakan, memakai lagi topeng-topeng senyum itu untuk mengelabuhi semuanya, mengisyaratkan pada mereka bahwa dalam batinku tidak terjadi sesuatu yang mampu membuatku menepi ditembok-tembok ratapan.
Aku mengalihkan sendiri duniaku, menjadikannya gelap dan terang dengan pikiran ini, saat semua sudah pada titik puncaknya, aku hanya bisa meluapkan semua amarah ini pada tulisan-tulisan basi yang sesungguhnya teramat sangat menggangguku jika kubaca kembali tulisan usangku, mengembalikan sebongkah kenangan dengan dilemparkan tepat di otak kecilku, menjadikannya sebuah file system yang sulit di hapus. Udara ini lagi, kenapa hanya dengan menghirup udara seperti ini membuatku kalut terbalut perasaan yang sama lagi seperti yang sudah kulalui, membuatku merasa menjadi seorang pesakitan, menundukkan kepala ini dan meneteskan air-air yang entah tercipta dari apa, aku sungguh-sungguh tak pernah mampu menahan sakit ini, aku masih mencoba bertahan dengan keyakinanku jika suatu saat ini semua akan meninggalkanku dan tak akan kembali lagi, terkadang aku berpikir aku salah berpikir, salah meyakini, salah menempatkan pikiran-pikiran ini dalam keadaan yang memang sangat kumengerti jika aku meletakkannya disana pikiranku ini akan menjadi sebuah pedang berkarat yang akan menusukku dengan sendirinya, aku memang benar-benar bodoh untuk selalu memikirkan semua ini tapi aku tak mampu menolak semua pemikiran-pemikiran ini, begitu benar saat-saat aku merasa lelah dengan hati namun sangat salah saat aku memulai menyatukan dua hati dalam satu pikiran.
Dan aku lelah, aku mulai terpuruk kembali, mendalami luka-luka lama untuk kucari bakteri-bakteri kecil yang membuatnya tak kunjung kering, ingin ku bunuh semuanya saja agar lukaku cepat mengering agar aku mampu berjalan tanpa tersengal-sengal menahan pedihnya luka yang memang sangat dalam. Aku sangat lelah, menahan kehausan atas kejujuran-kejujuran meski aku tau jika aku meminum air-air kejujuran ini dari gelas kristal tajam akan melukai bibirku yang bergetar menahan kehausan itu, dan meski aku tau jika terkadang air-air itu beracun dan siap membunuhku lagi, setidaknya aku kehilangan dahagaku atas kejujuran-kejujuran itu bukan dari makanan-makanan kebohongan itu.
Mengertilah, saat kukatakan "Aku baik-baik saja" saat itu aku sedang merangkak diatas tanah berduri. Dan saat embunku mulai terjatuh lagi, aku ingin kau mengerti, aku memulai lagi pemikiran-pemikiran kerasku.
Aku mengalihkan sendiri duniaku, menjadikannya gelap dan terang dengan pikiran ini, saat semua sudah pada titik puncaknya, aku hanya bisa meluapkan semua amarah ini pada tulisan-tulisan basi yang sesungguhnya teramat sangat menggangguku jika kubaca kembali tulisan usangku, mengembalikan sebongkah kenangan dengan dilemparkan tepat di otak kecilku, menjadikannya sebuah file system yang sulit di hapus. Udara ini lagi, kenapa hanya dengan menghirup udara seperti ini membuatku kalut terbalut perasaan yang sama lagi seperti yang sudah kulalui, membuatku merasa menjadi seorang pesakitan, menundukkan kepala ini dan meneteskan air-air yang entah tercipta dari apa, aku sungguh-sungguh tak pernah mampu menahan sakit ini, aku masih mencoba bertahan dengan keyakinanku jika suatu saat ini semua akan meninggalkanku dan tak akan kembali lagi, terkadang aku berpikir aku salah berpikir, salah meyakini, salah menempatkan pikiran-pikiran ini dalam keadaan yang memang sangat kumengerti jika aku meletakkannya disana pikiranku ini akan menjadi sebuah pedang berkarat yang akan menusukku dengan sendirinya, aku memang benar-benar bodoh untuk selalu memikirkan semua ini tapi aku tak mampu menolak semua pemikiran-pemikiran ini, begitu benar saat-saat aku merasa lelah dengan hati namun sangat salah saat aku memulai menyatukan dua hati dalam satu pikiran.
Dan aku lelah, aku mulai terpuruk kembali, mendalami luka-luka lama untuk kucari bakteri-bakteri kecil yang membuatnya tak kunjung kering, ingin ku bunuh semuanya saja agar lukaku cepat mengering agar aku mampu berjalan tanpa tersengal-sengal menahan pedihnya luka yang memang sangat dalam. Aku sangat lelah, menahan kehausan atas kejujuran-kejujuran meski aku tau jika aku meminum air-air kejujuran ini dari gelas kristal tajam akan melukai bibirku yang bergetar menahan kehausan itu, dan meski aku tau jika terkadang air-air itu beracun dan siap membunuhku lagi, setidaknya aku kehilangan dahagaku atas kejujuran-kejujuran itu bukan dari makanan-makanan kebohongan itu.
Mengertilah, saat kukatakan "Aku baik-baik saja" saat itu aku sedang merangkak diatas tanah berduri. Dan saat embunku mulai terjatuh lagi, aku ingin kau mengerti, aku memulai lagi pemikiran-pemikiran kerasku.
0 Comments:
Post a Comment
Yang punya nama, kasih nama donk woe!!!