Aku tak akan pernah malu mengakuinya sebagai Ibu kesayanganku, akupun tak akan pernah malu mengakui aku menyayangi ibuku, dia seorang perempuan terhebat dalam kehidupanku dan akan selalu begitu meski tak seorangpun menganggapnya begitu, dan akulah yang akan selalu menjadikannya perempuan nomor wahid dalam hidupku. Dia, Ibuku, aku tak malu saat dia berada didepan rumah untuk menjual es campur buatannya disana dirumahku, dirumah yang didepannya bergambar lukisan bulan biru jingga diatas telaga hasil karya ayahku dan sedikit goresan kuasku. Kawan, aku suka hujan, sangat suka dengan tetesan-tetsan air dari langit, yang dianugrahkan Tuhan untuk kesejahteraan umatNya, tapi beberapa hari ini hujan sore hari, aku sangat membenci hal ini, kalian tau? Hujan tadi membuatku menangis dalam hati, bukan karena ketakutan masa kecilku akan gemuruh dan gelapnya mendung, saat aku pulang tadi aku hampir benar-benar menangis melihat Ibuku masih saja menunggu pembeli dibelakang meja kecil buatan kakakku, sibuk menutupinya agar tidak terkena air hujan, termenung memandangi setiap mereka yang melewati jalan depan rumahku tergesa karena hujan tak kunjung reda, kulihat dia terduduk di kursi bersama adik kecilku yang setia membantunya yang langsung memelukku meski aku sedikit basah kehujanan dan aku tak sanggup mengatakan apa yang adiiku katakan, yang membuatku benar-benar ingin sekali memeluk ibuku dan menangis dipangkuannya seperti dulu semasa kecilku. Saat kulihat meja dalam rumah, sudah tersedia Teh Hangat kesukaanku, saat kutanya adikku siapa yang mebuatkannya untukku, semakin aku tak mampu berucap lagi, dia Ibuku. Aku yang memintanya untuk tidak berjualan dipagi hari untuk bulan ini, dan Dia mengerti dalil ini, Tuhan, tempatkanlah Dia disisiMu dalam SurgaMu nanti saat hari pengadilanMu tiba. Aku hanya mampu terduduk lemas disampingnya hingga waktu tutup tiba, mengajaknya bercanda meski akupun sangat mengharu biru dengan ketabahannya menjaga segala sesuatu termasuk diriku yang sampai saat ini masih belum mampu pergi, berlari dan menari. Jikapun aku telah mampu, aku tidak akan lagi membiarkannya terdiam terpaku. Dan kawan, Dialah Ibuku. Sederhananya ada padaku, diajarkannya aku. Dan sungguh ini tak diajarkannya padaku, siapa saja yang melukai hati Ibuku, akan kubakar otak mereka dengan kalimatku dan kuhancurkan raga mereka dengan tanganku jika perlu, siapa saja. Dan akan kukutuk setiap anak yang mendurhakai setiap ibu mereka. Kawan, Dia Ibuku.
Haruskah?
Apakah seseorang membutuhkan orang lain sebagai pelarian? Apakah aku harus melakukan hal itu juga? Bagaimana menurutmu? Bukankah berarti aku harus melakukan hal terbodoh karena aku membenci hal bodoh seperti itu? Katakan! Haruskah? Agar kamu tau perasaan apa yang sedang mencaci pikiran2ku saat ini atau agar aku mengerti bagaimana perasaanmu yang menjadikan orang lain sebagai pelarian? Lalu apa gunanya ini semua? Percuma saja sepertinya. Maaf, aku memang masih bodoh dan teramat kolot untuk mengerti hal2 baru seperti ini.
Bukan Puisi
Aku sedang tidak ingin berpuisi atau menyusun kata-kata dalam kalimat yang tak begitu jelas bermakna. Saat ini aku ingin bernyanyi.
Lagu dengan kalimat yang sarat akan keindahan kata. Bukan untukmu atau aku tapi untuk otakku yang sedang tidak berisi.
Kadangkala aku bertanya di mana cinta berada
Tersembunyi tiada kunjung menghampiri
Dua angsa memadu rindu di danau biru bercumbu
Pagut sepi ku di sini letih hati
Begitu jauh waktu kutempuh
Sendiri mengayun biduk kecil
Hampa berlayar, akankah berlabuh
Hanya diam menjawab kerisauan
Kadangkala aku berkhayal seorang di ujung sana
Juga tengah menanti tiba saatnya
Begitu ingin berbagi batin
Mengarungi hari yang berwarna
Di mana dia pasangan jiwaku
Ku mengejar bayangan
Begitu jauh waktu kutempuh
Sendiri mengayun biduk kecil
Hampa berlayar, akankah berlabuh
Hanya diam menjawab kerisauan
Aku berkhayal
Begitu ingin berbagi batin
Mengarungi hari yang berwarna
Di mana dia pasangan jiwaku
Ku mengejar bayangan, kian menghilang
Biduk kecil hampa berlayar, akankah berlabuh
Hanya diam menjawab kerisauan
Pasangan Jiwa - Katon Bagaskara.
Lagu dengan kalimat yang sarat akan keindahan kata. Bukan untukmu atau aku tapi untuk otakku yang sedang tidak berisi.