Persepsiku Tentang Orang Tua

Tidak selamanya orang tua itu benar, mereka manusia, masih tempat salah, khilaf dan lupa. Tidak selamanya yang mereka inginkan itu terbaik untuk kita, mungkin keputusan-keputusan mereka terlalu subjektif, sedangkan kita memiliki pemikiran kita sendiri, kita tidak harus melawan, kita hanya perlu bicara, bicara dan bicara. Rasionalisme kita akan mampu mencairkan kekerasan hati dari keputusan yang kita anggap salah itu, jika kita mampu berasionalisasi, tapi jika tidak, itu sangat disayangkan dan itu kebodohan, kebodohan untuk melakukan kesalahan-kesalahan karena menuruti keputusan-keputusan salah yang dibenar-benarkan.

Kita sebagai seorang individu memiliki otak untuk berpikir, dan kita sudah dewasa, kita tau mana yang baik dan buruk untuk kita ataupun untuk semua, jika mereka salah, katakan salah, jangan hanya diam saja seperti patung yang akan dianggap kita mengiyakan keputusan salah itu. Jika benar-benar benar keputusan itu, lakukan, dan kita tau kita mampu berpikir itu adalah benar, bukan menelan mentah-mentah segala yang dibenarkan, sekali lagi kukatakan itu kebodohan.

Setiap orang tua memang menginginkan yang terbaik bagi putra-putrinya, tapi yang mengerti yang terbaik adalah putra dan putrinya sendiri, karena kehidupan putra-putrinya adalah milik putra-putrinya, mereka(putra-putri) yang akan menjalani kehidupan, bukan orang tua. Dan terkadang yang kita anggap terbaik menjadi salah, itu biasa, inilah kehidupan, seharusnya kita bisa berpikir lebih dalam, gabungkan saja pendapat kita dengan pendapat orang tua, tidak perlu ditimbang mana yang lebih baik, ambil saja jalan tengahnya.
Share:

Segenggam Harapan, Bulat.

Aku menggenggam setiap harapan-harapan dengan ketidak pastianmu.
Aku menahannya,
Pedih dan perih
Aku masih berdiri dan mempertahankannya.

Harapanku bulat
Benar-benar bulat
Sayang harapanmu masih tak berbentuk
Meliuk-liuk, memanjang, melebar, menciut.

Angan yang memuncah
Menyeruat dalam gelap pikiran terang.
Dingin, kamu memanas
Aku masih mencoba dingin.

Kasih,
Senandungkan lagi cinta untukku
Bukan seperti ini

Jikapun harus berakhir
Akhiri ini dengan ketidak sakitanku
Agar aku tak lagi merasakan resah
Gelisah.

Mati, terbunuh
Terhalang rindang hutan
Melangkah kelu
Menyebrangi lautan.

Aku benar-benar tak lagi hidup.
Share: