Akhir Januari

Datang seolah merayap dari sebuah keruhnya hati kau menemuiku, untuk saat seperti ini di akhir bulan januari. Kau bicarakan lagi apa yang sebenarnya harus sudah tersimpan rapi dan terkubur dalam-dalam, sebuah hati, terluka, dan matamu memperlihatkan semua itu padaku, aku bertanya dalam hatiku, "Inikah saat yang aku tunggu-tunggu?" saat dimana kau terbunuh oleh semua keputusan-keputusan itu. Dan lagi, kau ulangi kata yang sangat aku benci saat ini, Cinta.


Saat kuberikan semua itu, kemana kau? seharusnya bukan saat ini kau minta itu, kenapa tidak sedari dulu? Mungkin saat ini yang tertinggal disini hanya sisa-sisa dari sebuah rasa yang dulu pernah teramat besar yang kau acuhkan dan yang kau inginkan saat ini. Datang pergi lagi, seperti kemarin, membunuh satu hati lalu datang pergi itu lagi. Pergi saja selamanya, tak perlu kembali dengan sebuah kebusukan hati yang terluka dan meminta hati lain untuk menggantinya.


Jangan bicarakan ini lagi denganku, sampai saat ini cinta masih membuatku berpikir keras untuk sekedar menemukan arti dari semua itu, Cinta, Nafsu atau sekedar pelengkap masa-masa remaja? Semua hampir sama tidak berbeda, sekali datang kemudian pergi berlalu. Adapun pembodohan yang menganggap semua itu sebuah seleksi, darimana aturan bodoh itu? Dan aku tau, pemikiran bodoh itu yang kau genggam dengan erat.
Share:

Persimpangan penuh makna

Masih saja kuingat saat dimana kau membagi kegalauan hatimu itu padaku, saat dimana orang yang kau kasihi sedang dilamar oleh seseorang yang entah kita juga tidak mengenalnya, ditempat itu, tempat biasa kita menghabiskan malam-malam panjang dengan sedikit keseriusan dan saat itu berbeda, penuh dengan nada memelas yang serius, "Sudah biarkan saja" kataku, dengan gitar yang masih terpetik menjadikan sebuah nada acak yang sungguh tidak nyaman didengar, "Tidak mungkin, selama ini apa yang kurang dariku?" jawabmu dan pertanyaan bodohmu itu, sudah jelas kalimat yang menyakitkan yang keluar dari mulutku yang mulai asam kehabisan rokok karena menemanimu merenungi sebuah kebodohanmu sendir, "Sudah jelas, kurang mengungkapkannya, bagaimana mungkin dia tahu kalau kau menyayanginya seperti ini jika hanya dengan bahasa isyarat goblokmu itu?", "Sudahlah, sekarang kuturuti kau menyanyikan lagu kesukaanmu yang membuatku pusing mendengarnya, untuk melampiaskan sebuah perasaan sesal itu." dengan bodohnya kutawarkan untuk mengiringi lagu-lagu favoritnya yang sudah jelas akan membuatku tertawa terbahak-bahak dan hampir mati lemas mendengarkannya, "Jangan sekarang, nyanyikan saja lagu-lagu tidak jelas kesukaanmu yang kau bilang tidak akan membuatmu berlarut dalam sebuah kedukaan sepertiku" jawabnya mantap, jarang sekali dia menyetujuiku menyanyikan lagu kasar ditelinga manusia pendayu seperti sahabatku ini, "Yang benar saja, aku yakin telingamu tidak cukup mampu menikmati musik-musikku yang kau bilang seperti suara geledek itu." Sanggahku yang sebenarnya sedang malas memetik gitar karena perutku mulai tidak bersahabat, "Ah kau benar, mari nyanyikan lagu kebangsaanku" katanya, "Oh tidak" batinku "Sudahlah, biar aku hidupkan suasana yang sedang temaram kaku bisu bodoh ini." Sambil kulihat senyum yang menjijikkan itu lagi terpasang rapi di bibir manusia basi nan bodoh ini.


Mulai kupetik pelan lagu kesayanganku yang memang sedikit lembut itu, "If this world is wearing thin... And you're thinking of escape... I'll go anywhere with you... Just wrap me up in chains... But if you try to go alone... Don't think I'll understan..." Baru saja aku mulai bersemangat untuk melanjutkannya, celetuk bodoh dari orang bodoh menghentikanku "Aku punya ide, bagaimana kalau kita kesana besok dan aku akan mengatakan semua perasaan ini padanya?", "Ah sudah mulai gila sahabatku ini" dalam hatiku, seperti biasanya dengan bahasa sehari-hariku dengannya "Goblog, telat!" sambil menempatkan tangan ini ke kepala orang gila yang sedah mulai tersadar ini. "Wah, iya" gumamnya polos.


Hari semakin pagi dan jam yang terpasang di dinding sudah menunjukkan pukul 4 pagi, sudah banyak orang lalu lalang untuk mencari nafkahnya di pasar ini, sudah mulai banyak ibu-ibu menghidupkan lagi lampu-lampu rumah yang semalam aku lihat dipadamkan, Sahabatku yang masih betah dengan pose tidurannya itu belum juga mengajak untuk kembali pulang kerumah, tanpa menghiraukan kalau hari ini kami harus masih pergi kesekolah dan sudah kutebak dengan benar ujung dari semua ini, "Bolos lagi kita?!" Katanya setengah memaksa "Kita ke gunung saja, menghirup segarnya udara bersama asap rokok." kata-kata yang bodoh dan sangat tidak berhubungan keluar lagi, "Terserahlah, yang penting kita pulang dulu sekarang" kataku malas beranjak karena lelah dan kantuk yang sangat menyiksa "Aku ikut, kita nge-teh dulu dan makan gorengan buatan ibumu." dengan sedikit nada candanya yang semalam hilang itu, kalimat ini yang membuatku semakin tidak mampu mengantar kaki ini berjalan pulang karena akan ada dua jam setengah yang melelahkan lagi dengan sahabat yang sedang tidak seperti biasanya.


Benar saja, setengah tuju dia baru pulang, sehabis mandi dan sarapan seadanya karena jam sudah tidak mau menunggu lama, aku masih setia di depan rumah yang juga warung milik ibuku menanti seorang sahabat paling gila, kupalingkan pandangan ini kearah utara yang seperti mempunyai indra keenam akan datang orang gila dari arah sana, benar saja, datanglah orang gila dengan motornya dan seyum setan itu disusul pandangan orang-orang penuh curiga, dalam hati mereka pasti berkata "Anak sekolah sudah jam delapan masih belum berangkat, anak macam apa itu?" dan karena orang gila ini aku harus berbohong pada ibuku tercinta bahwa aku masuk jam 9 hari itu.
Share:

23 Tahun yang lalu

Aku terlahir dari seorang ibu yang sangat mengagumkan, menahan seluruh rasa sakitnya untuk membiarkan aku menginjak tanah bumi ini, menjadikan segala energinya sebuah kekuatan untuk membawaku kemanapun ia pergi selama sembilan bulan lebih, mengasihi setiap gerakan-gerakan yang sungguh sangat tidak bisa kubayagkan saat-saat itu.

23 Tahun yang lalu, akulah manusia yg sangat berbahagia terlahir dari seorang ibu yang selalu setia menasehati dengan sedikit kata-kata, 23 tahun yang lalu, aku menjadi sebuah manusia yang akan selalu merasa beruntung memiliki orag tua yag senantiasa memperhatikanku. Januari 6, kugenggam erat janji sang maha pati, dan selama 23 tahun ini aku tau banyak janji yang teringkari, aku mohonkan pengampunan untuk mereka, kedua orang tua yag sudah bersusah payah 23 tahun ini, aku mohon kasihi mereka dengan seluruh kasihmu Tuhan.
Share: