Jalan antara Maya dan Nyata

Aku tau siapa aku, tidak perlu kesadaran tingkat tinggi untuk mengetahui hal itu, dari apa yang aku tau, itulah aku. Yang aku tau... bukanlah seperti apa yang kalian ingin tau...
@ November 16 at 7:59pm
Today is December 27

Aku bukan manusia cerdas, pandai dan sebagainya, aku bukan juga manusia berharta seperti dirimu saat ini, tapi aku benar2 yakin jika aku masih lebih punya otak untuk sedikit berpikir mana benar dan mana yang salah untuk dilakukan, tidak sepertimu yg sepertinya tidak mampu memikirkan salah benar, dan lalu menyalahkan keadaan.
@ November 17 at 3:09pm
Today is December 27

Hari ini hujan lagi... tak seperti kemarin, hujan kali ini sangat menakutkan aku, tak seperti biasanya aku yang suka dengan kegelapan dan kesunyian, kali ini ada perasaan lain saat kutatap dalam2 gelap mendung itu, sedikit rasa pedih dan begitu banyak kesedihan disana di mendung itu, di air yg jatuh itu kurasakan betap...a tersiksanya tetesan itu seperti mengaduh keras ditelingaku.
@ November 18 at 12:42pm
Today is December 27

Siang ini jalan didepan berkabut lagi, dingin yg menusuk pori2 dengan angin yg begitu lembut menjamah setiap bagian dirini dan aku berfikir.... bulan inikah yg membikin dingin....
@ November 19 at 1:24am
Today is December 27

Kepedihan hidupmu adalah topeng dari kebahagiaan yg belum terlepas dari tempatnya, suatu saat kau akan mengerti apa arti penderitaan itu jika kebhagiaan mulai membuka topeng kepedihan itu.
@ November 20 at 6:07am
Today is December 27

Apa dan siapa kita itu seharusnya tidak menjadi masalah, tapi akan menjadi suatu masalah yang sangat rumit jika sudah dihubungkan dengan keduniawian.
@ November 20 at 6:40pm
Today is December 27


Satu kisah pilu dalam sebuah anyaman kehidupan diamana satu manusia dengan nama "Aku" sebagai pemeran utama, semuanya seperti drama dengan cerita yang terlalu dramastis membuatnya terlalu memuakkan untuk diceritakan.
@ November 22 at 6:01pm
Today is December 27

Bukan saatnya untuk merangkak, saatnya kita berlari, saatnya untuk kita meraih sebuah mimpi kisah kehidupan...
@ November 25 at 2:52pm
Today is December 27

Tidak perlu menjadi manusia munafik untuk mendapatkan kebahagiaan2, meski kecil, tapi semua itu abadi.
@ November 29 at 6:15pm
Today is December 27

Diam dalam pekat embun membuatku semakin terperosok dalam pikiran-pikiranku, sayu angin menyeruak kedalam telinga terasa seperti lagu hitam kesukaanku, senyapnya kegelapan membawa aroma tanah yang membasah tertimpa hujan yang masih menyisakan titik-titik air gerimis yang terlihat indah memantulkan cahaya bulan.
@ November 29 at 9:00pm
Today is December 27

Aku akan datang saat kau terpuruk, dan maaf aku akan menghilang saat kau merasa menang.
@ December 2 at 6:55pm
Today is December 27

Memasuki alam kisi-kisi bumi dalam kerangka langit, menguak sebuah misteri kedangkalan...
@ December 4 at 12:49pm
Today is December 27

Seventh hours ago, seven way to heaven has been opened, seventh hours to come, seven way to hell call you to enter in, only seventh to seven.
@ December 4 at 5:38pm
Today is December 27

Mencoba merubah gemerlap cahaya siang menjadi sebuah cahaya malam yang temaram, membuat sebuah kedamaian yang tak akan terdapati dalam silaunya siang...
@ December 6 at 11:11pm
Today is December 27

Seorang sahabat dan atau adikku mengharapkan sebuah kesempatan lagi, mengiba, betapa tak berdayanya aku untuk membelanya, untukmu yang merasa, aku hanya ingin katakan sudahlah, kehidupan masih bisa dan harus berjalan meski tanpanya, tunjukkan padanya, suatu saat dia akan menyesal telah meninggalkanmu, masih ada aku disini, masih ada sahabat2 lain disini.
@ December 8 at 12:31pm
Today is December 27

Aku merasa berada diantara mayat - mayat hidup yang hanya mampu berdiri diantara kenangan2 masalalu tanpa mampu mengambil apa yg bisa untuk menghadapi masa depan, iya, kamu, mayat hidup itu, tidak perlu meratapi semua itu, cukup jadikan sebuah perjalanan lalu, berdiri!!! Bangkit dari kekalahanmu, Lalu berlarilah mengejar sesuatu yg sempat hilang!!!
@ December 9 at 10:40pm
Today is December 27

Busuk membusuk, diantara pahitnya pelepah kehidupan mencari setetes madu beracun untuk menghilangkan dahaga jiwa, bodoh kawan, bukan itu seharusnya yang sekarang kau lakukan!!!!
@ December 10 at 7:27pm
Today is December 27
Sekali lagi, kau merasa paling tinggi, kau lupa jika daun akan kembali pada akarnya....
@ December 11 at 12:38pm
Today is December 27

Diriku masih milikku, belum dan bukan milikmu, biarkan kehidupanku berjalan tanpa aturanmu, atur saja kehidupanmu yang lebih kacau daripada kehidupanku meski dirimu dalam keadaan lebih mudah tapi bukan berarti kehidupanmu berada tepat pada jalan yg tepat.
@ December 13 at 4:45pm
Today is December 27

Benci hanylah sebuah kata ungkapan untuk menjelaskan ketidak sukaan, dan aku tidak suka hari ini....
@ December 19 at 8:18pm
Today is December 27

Aku tidak melihat keburukanmu sebagai keburukan, hanya melihatnya sebagai kekhilafan, tapi saat ini aku sudah tak mengerti mengapa ada pemikiran konyol ini lagi, dan ini tak mengubah apapun dalam kehidupanku, jadi selamat menikmati apapun yang kamu inginkan karena aku tidak akan ada dalam cerita kehidupan itu lagi.
@ Wed at 6:13pm
Today is December 27

Ciptakan kesenangan kita sendiri meski dengan kesederhanaan, cukup untuk menghilangkan rasa penat seharian ini.
@ Thu at 4:57pm
Today is December 27

Hai.. kamu yg ada disana, mari kemarilah untuk sekedar menari dan bernyanyi atau duduk bercerita ditemani sepiala air kehidupan dan asap jika kamu suka, jangan tanyakan roti padaku, aku pun lapar.
@ Thu at 8:18pm
Today is December 27

Wangi tanah ini mengajakku kembali untuk meregang webuah pemikiran untuk memasukkan nama baru didalamnya....
@ Yesterday at 10:19pm
Today is December 27

Aku bukan malaikat, aku hanya iblis kecil yg mecoba terbang dengan sayap angsa....
@ 10 hours ago

Today is December 27
Share:

Sore itu 19 Tahun yang lalu

Sore ini, sebuah arti dari kenangan kutemui kembali, di rumah sederhana hasil jerih payah ayahku, di teras rumah dimana aku dibesarkan yang mungkin sudah lebih tujuh tahun yang lalu aku tinggalkan, sesekali masih berkunjung, sekedarnya, tak beberapa lama, sore ini berbeda.


Teras yang menghadap timur dimana matahari menampakkan sinarnya dipagi hari, aku terduduk menatap maha karya sang pencipta ditemani ibuku, bercerita tentang masa depanku, tentang apa yang ingin kulakukan, tentang apa yang ingin kuraih, kuyakinkan ibuku bahwa anaknya ini ingin sekali menjadi seseorang yang mampu membahagiakannya meski tak akan dapat mengganti semua jasa mereka berdua yang telah menjadikanku seorang aku yang sampai saat ini masih berdiri diatas bumi ini dengan tegak. Angin sore seolah mengerti suasana ini, menghembuskan pelan semilir udara senja dimana langit timur tersinari jingga matahari yang nampak begitu indah, sedikit awan - awan tipis menyelimuti biru langit timur yang sedang menjadi sebuah lukisan indah dimataku, kualihkan mataku kearah wanita terhebat yang pernah kumiliki seumur hidupku, ibuku, tatapannya kosong menatap langit senja timur mendengarkan anaknya bercerita tentang keinginan - keinginannya, sedikit membasah dengan air yang tak akan kubiarkan menetes dari sela - sela mata yang setia mengawasiku semenjak aku terlahir kedunia sampai saat ini.


Entah apa yang ibuku pikirkan, tak juga tuturnya yang mendinginkan gejolak - gejolak amarah dan egoisme mudaku mengucapkan patahan - patahan kata yang selalu membuatku tersenyum kecil dan hampir saja melelehkan genangan air dalam mata ini. Ah sudah musim rambutan ternyata, kupetik beberapa rambutan dari halaman rumah ayahku ini, aku ingat betul pohon ini sudah ada semenjak aku masih sering bermain dihalaman ini, saat aku masih takut akan hujan dan mendung yang hitam tebal berbeda dengan saat ini aku yang sangat mengagumi pekat mendung temaram dan yang akan mendatangkan hujan. Tak sengaja kuingat lagi masa itu, saat ayahku belum pulang dari tanggungjawab yang diberikan kepadanya, aku hanya bertiga dirumah itu, aku, ibu dan kakakku, disaat hitam mendung menutupi birunya langit sore seperti ini, lebih pekat dan lebih menakutkan, kakakku masih sibuk menghitung kelerengnya ditemani lampu minyak, jangan tanyakan listrik saat itu, masih belum menjangkau daerah yang kuhapal semua jalan dan tempatnya itu, kakakku yang sudah lebih mengerti akan keadaan ini menjadikannya acuh pada apa yg aku takutkan, aku terduduk dipojok rumah memandangi kakak yang sangat kubanggakan atas kesediaannya melindungi dan mangajakku kemanapun dia pergi bermain bersama teman - temannya, tangisku semakin tak tertahankan saat gemuruh suara petir menggema dilangit, kakakku yang masih sedikit lebih besar dariku menutup telinganya saat kilat terlihat seperti lampu blitz yang sering dipakai ayahku untuk mengabadikan gambar diriku, aku menutup mata seraya menangis sejadi - jadinya saat hujan lebat dan angin yang sangat tidak bersahabat itu mulai ada, dan ibuku berlari menghampiriku seakan tau apa yang akan aku lakukan disaat - saat seperti ini, direngkuhnya aku dalam pelukan penuh kasihnya sembari berkata "Ibu disini" yang sedikit menenangkan aku dari tangisku, dengan tergugup kutanyakan padanya "Ayah bagaimana ibu?" dijawabnya penuh dengan kehangatan "Ayah akan baik - baik saja", kehangatan yang mungkin tidak aku hiraukan saat itu, tapi bagiku yang saat ini adalah sebuah anugrah, ibuku terus memelukku sampai saat ayahku pulang dari kewajibannya dan saat - saat itu dipenuhi tawa kakakku yang melontarkan ejekan - ejekannya padaku yang membuat seisi rumah tertawa, ditanyakan ayahku pada ibuku apa yang telah terjadi, diceritakan ibuku pada ayahku semua apa yang terjadi dan apa yang aku lakukan bersama kakakku satu hari itu, dengan senyumnya yang menyejukkan itu ayahku mengusap kepalaku seraya mengucapkan kata yang sangat aku benci "Anak cengeng..." .


Segera saja kutepis pikiran ini yang berjalan - jalan kembali ke masa - masa kecil penuh cerita agar tak kuteteskan airmata syukur ini dihadapan ibuku sore ini yang akan membuatnya kebingungan dan bertanya - tanya apa yang terjadi yang sangat pasti aku tau ibuku juga akan menitikkan airmata yang tak kurelakan untuk terjatuh karena mengkhawatirkanku, dengan nada malas kukatakan pada ibuku untuk segera menjemput adik kesayanganku yang masih belajar mamahami ayat - ayat suci, kuantarkan sampai ke gerbang rumah seseorang dimana adikku belajar membaca ayat - ayat itu dan sekali lagi dengan rasa berat hati aku pamit untuk mengejar mimpi - mimpiku lagi.


Untukmu Ayah dan Ibuku, aku masih anakmu yang seperti dulu, hanya saja anakmu yang saat ini ingin lebih mampu menggali sebuah potensi diri untuk membuat Ayah dan Ibu bangga saat menyebutku "Itu anakku" dan terimakasih untuk semua yang aku rasakan selama ini, maafkan semua ketidak patuhan dan kelakuanku yang membuatmu sangat tidak berkenan.
Share:

Mencintai Masalalu

Melupakannya adalah suatu kesalahan, masalalu yang membuat kita menjadi saat ini bukan masa depan, dan saat ini adalah masalalu dari masa depan, mencintai masalalu tak semudah mencintai masa ini dan yang akan datang, bukan untuk berlarut-larut dalam sebuah kesedihan atau kebahagiaan masalau, bukan juga untuk tetap tinggal dalam masa itu, cintai masalalu agar kita mengerti apa yang akan kita lakukan dimasa yang akan datang, cintai masalalu untuk menjadikanmu ikhlas dalam menjalani hari ini ataupun esok.


Bukan sekedar mencintai tapi juga pahami dan pelajari, terkadang manusia dengan bodohnya mengulangi kesalahan-kesalahan fatal yang pernah dilakukannya dimasalalu, karena mereka terkadang terlalu bodoh dengan mengatakan "Tidak perlu mengungkit Masalalu" sedangkan buku tak hanya harus ditulis tapi juga dibaca, saat kita lupa, kita tidak akan menuliskannya pada lembar kosong, kita tetap akan membuka halaman lama buku itu karena memang semua pernah kita tulis disana.


Jika manusia menganggap masalalu adalah sekedar masalalu dan bukan pelajaran, manusia-manusia seperti inilah yang sangat tidak mampu mengendalikan pikirannya, dan percayalah, mereka yang menjadikan masalalu itu tiada adalah sampah-sampah yang tidak patut bercengkrama dengan debu.



Share:

Unconnected

Sebuah kelembutan jiwa, hati dan nurani, perasaan itu, rasa itu anugerah yang disebut sebagai Cinta, terkadang menyakitkan dan terkadang sangat membahagiakan, rasa itu sebuah keadaan diamana saat manusia menjadikan sesuatu yang buruk menjadi indah, dimana semua pelik menjadi mudah, dan itulah Cinta.


Cinta adalah keikhlasan, keikhlasan menerima keadaan dengan apa adanya, menerima sesuatu yang sangat sulit dimengerti, menjalani perih dengan kesenangan-kesenangan, seperti menyusuri jalan penuh duri aral dengan menari-nari, meski terluka dan berdarah tetapi cinta seharusnya mampu menjadi benang-benang fibrin yang akan menyembuhkan luka-luka itu, cinta bukan sekedar rasa ingin memiliki, cinta adalah sesuatu yang berbeda, sulit dimengerti seperti bulan yang tak mengerti kenapa dia harus selalu mengitari bumi, tetap ada alasan dari semua itu, hanya saja mungkin kita belum mampu melihat dengan mata yang berbeda.


Saat cinta ada dalam hatimu, detak jantung itu akan menyepat tak tentu, membuat kegalauan yang entah apa alasannya, saat cinta itu ada dalam hati dan dihadapanmu kau akan merasa sangat tenang.


Setiap manusia pernah memiliki cinta yang pertama, seperti Gibran yang mencintai sesorang untuk pertama kalinya, Salma cinta pertama Gibran, akhir dari kisah itu sangat menyedihkan. Bukan hanya Gibran, akupun mempunyai seseorang yang membuatku bagaikan seorang bajak laut yang terdampar disebuah pulau penuh emas untuk pertama kalinya, dia manusia yang sampai saat ini masih membuat hatiku berdegup kencang tak menentu saat menatap dalam-dalam matanya, membuat tulang-tulangku melunglai lemas, membuatku bergetar hebat, dan membuatku terlihat bodoh dengan tingkahku yang sangat tidak seperti diriku yang biasanya, dialah wanita pertama yang mampu membuatku mencairkan airmata yang sangat beku, dia wanita pertama yang mampu membuatku tertegun terkagum atas keindahan-keindahan dirinya, wanita pertama yang mampu membuatku mersakan hangatnya sebuah senyuman, dia yang sampai saat ini masih saja bermain-main dalam pikiran ini menyisakan sedikit harapan palsu ciptaanku sendiri. Dia, V.A.W Wanita yang sungguh sangat membuatku kehilangan kendali atas pikiran dan tingkahku.


Sepenggal kisah ini mengingatkanku akan Gibran yang kehilangan Salmanya, aku masih ingat semua itu, saat dimana aku masih sering mengunjunginya di hari sabtu sore, aku manusia yang menghormati keadaan, aku tidak ingin mengunjunginya di sabtu malam untuk menghindari cibiran orang padanya dan atau keluarganya, aku ingin dia sempurna dimana saja seperti sesempurna dia dimataku, senyum yang selalu kurindukan itu masih keluar seminggu sebelumnya, tapi tidak untuk satu sabtu sore setelah seminggu yang lalu, matanya yang membuatku melihat dunia lebih indah terlihat sayu penuh dengan pantulan cahaya seperti sebuah telaga yang setiap saat beriak tersapu angin, wajahnya yang ayu itu terlihat mendung dengan sedikit ketakutannya atas kedatanganku, tanyaku dalam hati "ada apa dengan bulan purnamaku ini?" pertanyaan yang sangat menggaguku untuk mengagumi keindahan yang sungguh sangat tak tergantikan itu, tak seperti biasanya, dia terdiam mematung terkadang memalingkan mukanya dariku untuk menghapus air yang keluar pelan dari sudut-sudut matanya, sesekali mengisak, membuatku terdiam tak mengerti apa yang sedang terjadi padanya bulan purnamaku, sedikit kalimatku mencoba untuk membuat suasana mencair ternyata masih saja tidak mampu membuatnya mengangkat kalimat-kalimat yang sering kudengar darinya, sebelum matahari benar-benar tenggelam, aku untuk sekali lagi mencoba bertanya pada seorang kekasih hati yang begitu aku cintai, "Ada apa sebenarnya denganmu? Adakah sesuatu dariku yang membuatmu menangis?" tak ada kata yang keluar dari bibir bak kelopak mawar pink yang membuat semua orang ingin menjaganya itu, hanya gelengan kepala membuat rambut panjangnya yang terurai mengikuti gerakan itu seperti gelombang sayu laut yang membiru. Hari hampir gelap namun langit masih saja kemerahan senja, aku masih ingin mengagumi keindahan itu tapi pikiran ini masih saja mengingatkanku untuk segera meninggalkan keindahan ini agar tak ada kata-kata yang menyakiti bulan purnamaku itu, dengan nada malas aku katakan padanya kata yang sangat-sangat aku benci "Aku pulang dulu, dimana Ibumu?" dengan lirih dia katakan "Belum pulang" dalam hatiku berharap dia akan menahanku "Akhirnya dia membuka bibir indah itu, akankah dia mengatakan apa yang sedang terjadi padanya?" tak juga harapan itu terasa nyata dia genggam tanganku yang membuatku semakin melunglai "Nanti aku katakan semuanya padamu, tapi bukan seperti ini, aku terlalu lemah untuk mengatakan hal ini, begini" tanpa ada kata lagi aku mencium kening sang bulan purnamaku itu lalu meninggalkannya dengan penuh rasa galau, ah rasa tak ingin pergi itu lagi.


Perjalanan pulang dari rumah terkasih kali itu sangat menyiksa batin dan pikiran ini, seusai perjalanan menyiksa itu seperti biasanya aku memasuki dunia kesukaanku, kamar hitamku, tak terasa sebuah pesan singkat terkirim dilayar tertera nama yang sangat membuatku terbingar setiap kali nama itu ada, dengan sedikit rasa yang berbeda aku membacanya pelan mencoba mengerti setiap kata dan kalimat yang dia tuliskan.


Aku sudah menyiapkan kalimat-kalimat ini tiga hari yang lalu, hanya saja aku ragu untuk mengirimkannya padamu, kamu tau aku sangat menghormati ayahku, aku sudah pernah mengatakan itu padamu sebelumnya. Aku tidak mau untuk tidak mengikuti perintahnya, mungkin ini akan sangat menyakitkan bagimu begitu juga untukku, empat hari yang lalu ayahku pulang, tak seperti biasanya dia membawa kebahagiaan untukku tapi aku ingin kamu tau empat hari ini aku menangis disetiap malamku, aku tau kamu sangat menyayangiku, tapi kita harus tidak saling memiliki lagi, ayahku menjodohkan aku dengan anak dari seseorang yang pernah menolongnya disana, saat kata itu keluar darinya aku tak mampu melihat dunia dengan baik, aku melemah dan hanya bisa mampu menangis sebisaku, ayahku menyukaimu, tapi ini berbeda, aku sudah memikirkannya dan tiga hari yang lalu aku katakan "Iya" pada ayahku dan dia sangat berterimakasih untuk itu, aku mohon padamu, jangan lagi temui aku bukan karena aku tidak ingin menemuimu, hanya saja aku ingin agar kita tidak saling bersedih, aku tidak ingin melihat wajahmu yang biasanya selalu ceria itu berubah sedih atau marah padaku, hanya itu, terimakasih untuk itu, terimakasih sudah begitu menyayangiku.


Tanpa sadar mata yang selama ini belum bisa mengeluarkan air yang terlalu mahal untuk dikeluarkan oleh seorang laki-laki dari matanya menitik disela-sela celah mata dan tertetes diantara remang lampu biru kamar hitam, di iringi lagu hitam yang biasa menemani setiap malam-malamku, kupejamkan mata ini mencoba menenangkan diri, menyusun kata dalam otak ini, menyusun hati yang tiba-tiba terpeca, aku belum mampu untuk menjawab semua itu.


Keesokan harinya aku mulai menata sebuah kalimat pendek mencoba untuk tegar seperti seorang yang benar-benar kuat "Baiklah, aku tau, Terimakasih untukmu sudah mau menjadi seorang kekasih yang baik, aku ingin kamu ingat, aku masih selalu menyayangimu" dan tak ada jawaban dari pesan ini, memang tidak ada yang perlu dijawb dari pesan singkatku itu. Mulai saat itu aku sudah tak lagi menemui ataupun menghubunginya lagi, hanya tulisan-tulisan dibuku yang entah dimana saat ini untuk mengagumi keindahan bulan purnamaku itu.


Untukmu -bulan purnamaku- jika saja kau baca tulisan ini aku ingin kau tau, aku masih ada dan aku masih melihat semua keindahanmu dalam kenangan-kenanganku atasmu. Terimakasih untukmu telah memberikan begitu banyak cerita dalam kehidupanku.
Share:

Pucuk Pohon Kesabaran

Diam dalam pekat embun tengah malam membuatku semakin terperosok dalam pikiran-pikiranku, sayu angin menyeruak kedalam telinga terasa seperti lagu hitam kesukaanku, senyapnya kegelapan membawa aroma tanah yang membasah tertimpa hujan yang masih menyisakan titik-titik air gerimis yang terlihat indah memantulkan cahaya bulan, kupejamkan mataku untuk kesekian kalinya menapaki kembali jalan-jalan seketsa kehidupan masa yang telah usang dalam catatan otak, tak banyak yang kuingat, begitu susahnya mengenang kembali kesenangan-kesenangan dan kebahagiaan-kebahagiaan jika aku tak ingin memikirkannya, aku berpikir tentang semua kesalahan-kesalahan tentangnya, bukan suatu kesalahan jika aku membiarkan kebodohan itu terjadi karena aku yakin semua bisa berubah, kesalahan ada dalam keyakinanku untuk sebuah perubahan, bodoh.


Setiap jengkal kesalahannya masih tersimpan rapih dalam rongga-rongga hati penuh sesak berdesakan dengan rasa yang masih belum dapat dimengerti antara batin dan pikiran ini, hingga tak ada lagi tempat untuk kesalahan-kesalahan yang sama sampai saat ini, kepercayaan yang dikhianati, kata-kata yang teringkari, kalimat-kalimat laknat yang terurai terberai, apa lagi? terlalu banyak untuk ku tulisakan dalam sebuah luapan amarah tulisan-tulisan berbahasa keji ini.


Bukan untuk menggali kembali sesuatu yang telah terkubur, hanya untuk membiarkan pikiran ini melihat dari mata yang selama ini tertutupi oleh hitamnya asap kebohongan yang dangkal untuk membutakan mata hati. Hela nafas panjangku untuk menikmati harum tanah kehujanan yang selama ini kukagumi, dan mataku mulai terbuka untuk menikmati kegelapan yang masih saja menjadi sebuah kedamaian yang tak tergantikan oleh silau matahari.


Sekali lagi dalam benakku. Langkahnya dalam ketidak pastian membuat sebuah pohon-pohon duniaku mengering, keputusan-keputusan aneh itu lagi, wajah ganas itu lagi dan sebentar lagi muka memelas akan segera datang menghampiri mata fana ini, satu pucuk pohon telah gugur kebumi, sebuah ranting patah, yang menyisakan batang itu semakin merapuh kering atas sebuah klise permainan itu.


Berpikirkah dirinya jika suatu saat pohon itu benar-benar tumbang dan hilang? Saat itu aku bukanlah seorang aku yang saat ini masih memiliki sebuah pohon dengan ranting-ranting sisa.
Share:

Bulan Purnama-ku

Malam, gelap, sunyi, bulan bersinar terang, aku melihatnya kembali tapi aku tak lagi mengerti akan siapa dirinya kini, berubahkah dia? -bulanku yang purnama- memandang dunia secara berbeda, yang dulu sering dilihatnya terang kini dalam kegelapan, cahaya itu dinikmatinya, kegelapan malam itu juga dinikmatinya, aku tak mengerti apa dunia yang dia harapkan, dunia yang ingin dia jadikan ke-satu-nya.


Dia berubah, melihatku seperti tak lagi mengenal siapa aku, aku yang menjadikannya malaikat kecil dalam pikiran ini! Lupakah dia tentang kata yang dulu pernah ku ucapkan padanya, jika hanya dialah nama yang akan selalu ada dalam batin ini? meski aku tak akan lagi memilikinya jika satu saat nanti tak lagi terpilih dalam hatinya nama seorang aku, yang karena itu aku memilihnya, dunianya kini terlalu rumit untuk pengertianku, terlalu susah untuk mengikuti jalan pikirannya, meski aku tahu itulah dirinya sejak dulu, namun saat ini aku sungguh terlalu kekurangan pikiran untuk membuatnya dimengerti oleh akal ini.


Apa yang dia cari? ke-dunia-an? aku tak mampu melihat ini semua, aku selalu membuang muka untuk melihatnya, takut untuk mengerti, aku membutakan diri atas dirinya dan semua itu, dia yang telah menjadi Salma-ku dalam cerita Sayap-Sayap Patah Gibran dan Kemegahan Dunia-ku dalam puisi-puisi Rumi, tak mengertikah ia –Bulan Purnamaku–


Aku ingin menjadikannya lagi keindahan seperti dulu lagi, seperti keindahan nama yang disandangnya –Bulan Purnama– yang akan sayu menerangi gelapnya malamku dengan cahaya yang dibiaskannya dari telaga jiwa ini, aku ingin membuatnya se-patuh api yang berkobar membara, se-bengal air dalam cawan, seperti itu agar tercipta lagi keindahannya seperti dulu.


Kertas putih yang dibawa bersamanya dulu masih kosong dalam sepengetahuanku, namun entah kini apa yang dituliskannya di atas kertas itu, entah dengan tinta apa dia goreskan pena itu, namun andai aku diperbolehkan lagi untuk melihat kertas itu, aku akan meminta agar aku dapat menuliskan satu kata saja dalam kertas itu, dengan tinta hitam yg tebal akan kutuliskan di atas kertas itu sebuah kata ” CUKUP “, agar dia mengerti saat itu tak ada aku dalam setiap goresan-goresan penanya sebelum aku menuliskan kata itu, dan aku akan memohon padanya agar tak lagi mencari kata lain untuk dicoretkannya lagi, karena akupun tak mampu menambahkan meski hanya beberapa kalimat yang akan sama saja seperti gelas retak terisi penuh air.


Untukmu –Bulan Purnamaku– aku akan menuduhmu sebagai malaikat kecilku lagi seperti dulu.



-Bulan Purnama- seindah itukah nama perempuan itu? sepolos itu kah saat kamu mengenalnya? secantik itukah sampai kamu sebut malaikat? apa kamu mencintainya? masih seutuh dulu??????

kenapa??
kenapa??
kenapa??
kenapa kamu sampai 'kehilangan'nya saat dia masih milikmu?
apa kamu kurang menjaganya?
atau mungkin. .
apa karenamu dia berubah??

arghhhhhhhhhh
aku kehabisan kata. . .
seandainya saja aku -Bulan Purnamamu-




Ya...seindah itu karena memang itulah namanya
saat pertama kali aku mengenalnya, seperti itu, seperti kertas putih yang belum tergoreskan tinta oleh lain orang namun entah saat ini aku juga tak mengetahui apa isi kertas itu.
aku menyebutnya begitu dalam hati, aku mengacuhkan orang yang tak menyebutnya begitu.
Aku tak tau masihkah aku mencintainya, hanya saja saat aku menatap matanya, aku seperti melihat masalaluku yang secara tiba2 menggetarkan hati ini dengan hebatnya, entah keutuhan itu, aku masih mencari jawaban atas pertanyaan itu yg juga menjadi pertanyaan dalam pikiranku sejak bertemu dirinya setelah lama tak melihatnya dengan pandangan yang jelas bukan yg terkabur oleh banyak kabut kecemasan.


Akupun tak mengerti, aku kehilangan dirinya karena dia yang menginginkan, dulu alasannya seperti alasan salma pada gibran untuk meninggalkan gibran hanya saja disini alasan itu tidak terjadi karena ada penolakan dari ibundanya.


bukan karena aku, aku merasakan perubahan itu dari semua sisi dalam dirinya.


Ya...seandainya saja kau adalah -Bulan Purnamaku- kau pasti mengerti kata2ku yg tertulis disana didalam "Seperti Dulu".
karena kaupun mengagumi apa yang aku kagumi, tidak seperti dia yang tak mengagumi keindahan kata2 seperti kita mengagumi keindahan kata2...


Dan sesungguhnya Andaianmu itu tak kumengerti...

Share:

Bahasa Keras tentang Wanita

Wanita, makhluk indah yang diciptakan dengan berbagai keindahan-keindahan yang memang dianugrahkan untuk dinikmati, hanya saja menikmati semua itu sudah ditentukan waktu dan orang yang tepat, dengan pengakuan sah dari semua pihak. Ya, Wanita bukan untuk dinikmati sebelum waktunya. Untukmu sahabatku, kaum keturunan Adam, mereka --Wanita-- adalah manusia bukanlah sebuah barang yang bisa kalian ambil lalu buang, bukan sebuah tisu yang sekali saja terpakai lalu kalian lemparkan dengan perasaan jijik ke tempat sampah. Bukan seperti itu kawan, mereka adalah Ibumu dan Ibumu adalah mereka, ingat itu sahabat, jika kalian nodai mereka sama halnya kalian menodai kesucian seorang Ibu yang dengan begitu hebatnya menjadi pintu perantaramu memasuki dunia fana ini.

Untukmu kaum keturunan Hawa, aku memanggilmu dan aku ingin menyampaikan sesuatu yang mungkin akan menyakitkan bagimu, Kalian --Wanita-- diberi keindahan-keindahan itu untuk dijaga sampai tiba saatnya kalian harus menyerahkannya kepada yang satu, yang telah dengan sah memiliki seluruh bagian dari keindahan-keindahan itu, kalian tidak perlu menyombongkan diri dengan keindahan-keindahan yang melebihi keindahan wanita lain, keindahan yang diberikan padamu dengan lebih adalah amanat yang sangat berat, kesucianmu adalah tanggungjawabmu, kesucianmu adalah sebuah matahari jika kehidupanmu adalah tatasurya, jika kesucian itu hilang maka seluruh tata surya tidak ada artinya lagi. Dan ingat satu kalimat yang menyakitkan ini "70 dari 100 persen penghuni neraka adalah Wanita", ya, terkesan memang tidak dan mungkin sangat tidak adil tapi pikirkan mantra sakti ini "Kalian kangkangkan kaki kalian dan semua pria akan merelakan segalanya untuk meraihnya" --maafkan aku jika kalimat itu benar-benar sakti untuk membungkus otak kalian jika aku merendahkan kalian, maaf ini bahasa keras yang ingin kupakai untuk sebuah kejujuran dan kemuakanku terhadap mereka yang melakukan segalanya termasuk merelakan kesucian itu demi sebuah keduniawian yang disebut harta-- dengan keindahanmu kalian bisa meredam amarah dan segala bentuk kenafsuan, kalian pun bisa mendapatkan segalanya dengan keindahan yang kalian miliki, tapi bukan itu tujuan dari diberikannya keindahan itu padamu, bukan itu.
Sudah kukatakan padamu, keindahan itu untuk yang satu, dimana waktu dan siapa sudah ditentukan dalam garis kehidupanmu, kalian bisa merubah garis itu tapi kalian tidak bisa merubah satu titik besar yang memang harus kalian lewati.
Share:

Hujan Kemarin

Selamat pagi duniaku, Hujan kali ini menyirami lagi tanah kering dijalan2 dimana kita sering lewati dulu, saat2 seperti ini, membuatku merasakan kembali sesuatu yg hilang, harum tanah yg terlihat seperti bayanganmu yg melenggang merayu untuk mengajakku menari bersama tetesan air hujan itu lagi, seperti dulu saat kita sengaja membasahi diri dengan tamparan air2 hujan itu
(Tulisanku yg ditulis kembali oleh seorang Adikku)


Hari ini tidak hujan, tapi hela napas ini masih belum melupakan segaris senyum indah itu...
Hari ini tidak hujan, dan hari ini aku tau tidak akan ada seberkas kasih yg terlontar dari bibir itu, aku mulai kaku melunglai karena semuanya terjadi kembali, ya, saat ini, tanah kering itu gambaran dari apa yg ada dalam titik pikiran jahatku, membuangku lebih jauh dalam pembodohan dengan keadaan dalam titian papan kecil diatas jurang dalam, mematahkan semua keniscayaanku pada sebuah cerita cinta kasih yg sempurna...


Kali ini tidak hujan, tapi tetap menjadi hitam karena sebuah kegalauan yg gaduh riuh mengisi jurang2 hati, memenuhi setiap lekukan kedalaman itu dengan begitu keras, sisi2nya sudah hampir rubuuh tak mampu menahan semuanya, sepertinya sudah dalam keadaan koma, mungkin sekarat, adakah yang akan membangunnya kembali nanti atau mampukah aku membiarkan manusia lain menyusun kembali puing2 itu...


Aku sudah tak mampu lagi berkata, semua kata sudah kutukarkan dengan beberapa hati untuk mengganti hati yg lama, demi sebuah cerita yg selalu saja sama akhirnya dan akulah yg terakir menelan pahitnya kebodohanku itu....
Share:

Hal Bodoh lagi

Kenapa selalu saja kau merasa bangga dengan kebodohan-kebodohan itu? Dengan bangganya kau lakukan dengan kesenangan hati, tanpa ada rasa salah diri, kemana otak yang Ia berikan padamu, tak bisakah untuk kau gunakan sedikit berpikir jernih?
Tak mampukah sedikit saja kau gunakan nalar? Dengan seribu satu alasan-alasan masuk akal menurutmu belum tentu masuk akal juga untuk mereka, berpikirlah!!!
Ataukah aku harus membuka kedua matamu dengan semua kata-kata yang lebih keras dan janggal? Aku tau pasti hanya akan ada tangis disana, bukan untukku semua ini, tapi untukmu, bukan untuk mereka, tapi untukmu sendiri.
Share:

Beda kita, kita beda

Kau, yang ada dalam tulisanku ini, aku yakin kau mampu mengerti dengan pasti bahwa kaulah yang ada dalam tulisan busuk ini.


Kau tahu? Kita sedikit banyak berbeda, lebih dari sekedar perbedaan badaniah, kau banyak berubah sudah, dari caramu mengucapkan kata perkata padaku, rasa itu, rasa yang kau bilang pernah hilang, kutanyakan padamu itukah rasa yang sangat kau yakini dan banggakan padaku? Saat ini aku tidak ingin membicarakan hal itu denganmu, sesuatu yang kali ini ingin ku nyatakan padamu sesuatu yang sangat membedakan kita, Gayamu membunuhku, ya, gaya hidup itu, saat ini kita sudah terlalu jauh berbeda, aku bukan manusia tinggi sepertimu atau mereka yang merasa punya dan bisa, aku manusia rendahan, karena aku sadar tentang ketidak abadian dunia, jika harus memilih untuk berkasta, kasta rendah yang akan menjadi pilihanku. dari kasta ini aku mampu mengerti siapa yang benar-benar menjadikan aku "ada" bukan karena aku berada.


Tidak cukup kesenangan hari ini, tapi kesenangan esok hari, lusa dan selanjutnya. Mungkin hari ini kau bisa mendandani hidupmu dengan kemegahan bodoh itu, tahu apa kita tentang hari esok? Mati atau hiduppun kita tak mengerti, tidak salah menyiapkan segalanya, aku hidup dengan kesederhanaan yang sudah aku katakan padamu dan aku yakin kaupun sudah tahu itu, aku tidak ingin merubahmu menjadi sepertiku, pun aku tidak mau merubah hidupku hanya demi sebuah kebodohan gaya hidup.


Jika semua ini memang tak sama, seperti itulah adanya, hidupku bukan hidupmu, hidupmu bukan hidupku, atur saja semaumu, aku tidak mau mengaturmu meski sudah menjadi keharusan bagiku untuk itu tetapi aku tahu kau tidak tahu dan tak mau tahu tentang itu.
Share:

Masa Kecilku

Bisa dibilang masa itu masa dimana aku menjadi seorang anak yang cengeng dan manja, satu kisah tentang Foto Ibuku, suatu ketika Bapakku memotret Ibu, Aku dan Kakakku, dengan pose yang berbeda-beda tentunya, Aku dan Kakakku duduk di teras rumah dan Ibuku berdiri disamping kami, terang saja Bapakku lebih fokus pada kami berdua karena memang beliau berniat mengabadikan kami dalam sebuah gambar dari kamera tua dengan roll film didalamnya, seminggu setelahnya foto itupun jadi setelah cuci cetak di studio entah dimana, waktu kulihat foto itu bergambar aku dan kakakku yang terlihat sangat jelas dan disana ada gambar ibuku yang hanya sebagian saja terlihat, entah kenapa aku dulu, tanpa basa basi langsung saja aku menangis terisak-isak karena foto itu, hanya karena gambar ibuku terpotong, saat itu aku tidak peduli dengan keadaan dimana roll film kamera tua itu sudah habis, aku ingi kami di foto ulang dan aku ingin foto yang tadi dibuang jauh-jauh.

Masa kecilku memang terlalu manja, sedikit lebih besar aku menjadi anak yang bengal dan sedikit bandel, aku memasuki dunia sekolah dan mengenal banyak teman sebaya di SD Negeri tak jauh dari rumah kakek dan nenekku, tak begitu jauh juga dengan rumah bapak dan ibuku, hanya 15 menit ditempuh dengan berjalan kaki, setiap kali pulang sekolah, aku tak langsung pulang ke rumah, kami bermain di sawah, bersama kedua teman atau bilang saja sahabat dekatku, mereka adalah Untung(nDok) dan Aji(nJink'a), setiap kali disawah hanya ada tawa diantar kami meski kadang juga tangis, suatu ketika saat kami bermain berlarian saling kejar dipematang sawah tanpa menghiraukan tanaman kacang yang ditanam ditepian pematang itu yang baru saja bertunas, kami dikagetkan dengan teriakan pak tani pemilik sawah yang geram karena tanaman kacangnya kami injak-injak, tanpa banyak bicara kamipun berlari ketakutan, saat itu yang berada dibelakang adalah nDok, nJink'a di belakangku dan tentu saja aku yang didepan, nDok yang dibelakang tak bisa melihat jelas pematang yang sempit itu karena nJink'a dan aku didepnnya, mungkin karena itu dia terjatuh terjerembab dipematang itu, dia berteriak dan kami berhenti untuk mengangkatnya, salah satu kakinya masuk kedalam lumpur karena sawah baru saja dibajak dan masih basah, sialnya kami tak pernah melepas sepatu jika bermain-main dimanapun, jelas saja sepatu dia tak ikut terangkat, masih ada didalam lumpur, dengan mata sedikit berkaca-kaca dan masih berjongkok dia bilang "Bagaimana sepatuku?" belum sempat kami jawab, petani tadi muncul lagi, dengan wajah garangnya dan berteriak-teriak sambil mengacungkan sabitnya semakin membuat kami bertiga kalang kabut hampir mati ketakutan, tanpa memikirkan sepatu kamipun langsung berlari menjauh, sahabatku yang hanya bersepatu sebelah itupun berhenti dan masih bertanya tentang sepatunya, kami putuskan untuk mengambilnya bersama nanti sesudah ganti baju, kami berkumpul dirumah nDok meski biasanya juga begitu, rumah hanya sebagai tempat tidur kalau malam bagi kami, kami kembali ke sawah dimana sepatu tadi berada, dengan daya ingat yang masih belum sempurna karena rasa takut kami oleh ulah petani garang tadi kami mencari di setiap tepian sawah, dengan nada gembira bagaikan mendapatkan harta karun berlimpah ruah sahabatku itu berkata "Disini" segera saja kami menggali dan mengambil sepatu itu.
Tas plastik yang kami bawa dari rumah khusus untuk menghilangkan jejak jika kami membawa sepatu yang hanya sebelah dan berlumuran lumpur, kami menuju sungai yang lumayan besar tempat dimana kami biasa menghabiskan hari-hari untuk mencuci sepatu itu, biasanya disungai itu sudah banyak sekali teman-teman entah yang mandi, memancing atau sekedar bermain.

Selesai mencuci sepatu, kami menjemurnya diatas batu, sambil menunggu kering kami pun ikut bermain, banyak sekali permainan kami, meloncat salto dari batu cadas ke sungai mungkin Loncat Indah pikir kami saat itu, bermain pasir yang dibulatkan lalu dibuatkan Treck seperti mobil tamiya dan hotwells impian kami atau saling berbagi teman untuk membentuk dua kelompok lalu memainkan Perang Dunia ke tiga, amunisi kami adalah lumpur ataupun pasir yang sudah dibulatkan, saling lempar dan sembunyi dibalik batu-batu besar, sebelum mata kami memerah karena terlalu lama berendam kami tidak akan pulang, sebelum pulang mata kami harus sudah tidak merah lagi karena jika masih merah kami akan mendapatkan ceramah yang panjang nan lebar, biasanya kami membakar daun-daun kering untuk menghangatkan badan sembari menunggu mata kami sudah tidak lagi merah, hampir menjelang Maghrib kami baru pulang, sesampainya dirumah kami semua lupa dengan sepatu yang tadi kami cuci itu, dengan tergesa-gesa sang empunya sepatu berlari ketempatku bersama sahabatku yang satunya lagi, langit hampir gelap, dan kami adalah pengecut yang penakut, tapi tidak ada pilihan lain, kami merasa asing meski kami ditempat biasa dimana kami sering bermain, entahlah, mungkin karena sudah sangat sore dan tak ada segerobolan orang-orang seperti tadi siang, kami lihat sepatunya masih berada ditempat yang semula saat kami menjemurnya tadi siang, bergegas kami mengambilnya lalu berlari pulang.

Keesokan harinya kamipun melakukan hal yang sama, sepulang sekolah bermain disawah, pulang dengan baju sedikit kotor karena lumpur, bermain disungai dengan permainan yang sama, teman yang sama dan sahabat yang sama namun beda tema dan cerita.
Share:

Aku

Sebuah kisah tentang kehidupan manusia, manusia yang biasa saja, layaknya manusia yang menjalani kehidupan dengan nyawa yang ada, untuk kali pertamanya aku menceritakan tentang "Aku", ya, Aku.

Awal kehidupanku sama seperti manusia pada dasarnya, keluar dari rahim seorang Ibu yang hebat. Kata mereka tangisku penuh menyesaki ruang bersalin kecil itu, di rumah sakit umum, bukan rumah sakit bersalin, begitu menghembuskan napas pertama, aku disambut dengan ucapan syukur kepada-Nya dari orang-orang yang menanti kehadiranku, syukur mereka karena hebatnya Ibu yang bersusah payah memberiku dunia baru setelah membawaku kemanapun ia pergi selama 9 bulan, syukur atas selamatnya Ibu dan Aku, tak lupa dikumandangkan Adzan ditelinga kananku oleh seorang laki-laki yang aku sebut bapak.

Dunia baru telah kuhirup udaranya, segar dan sampai saat ini masih kuhirup kesegaran itu, di rumah bapakku yang sederhana namun tetap nyaman untuk sekedar berteduh dikala hujan ataupun panas, dimana disana sudah ada anak dari orangtuaku yang pertama, ya, dia kakakku.

Sedikit tentang kedatanganku untuk menghirup udara dunia. Aku adalah orang yang hidup dalam keluarga yang sederhana, banyak cerita masa kecil yang masih teringat dalam otakku ini, penuh dan sesak.
Share:

Pembukaan

Ah, atau apalah, blog ini sengaja dibuat untuk menulis tanpa formalitas kata dan kalimat seperti apa yang biasanya ane tuliskan, baku atau tidak, bukan satu masalah disini, mungkin saatnya ane mengikuti perkembangan bahasa Indonesia (Ohmaigad...) yang seperti sudah mengalami banyak kemajuan (Tuhan... Maafkan hambamu ini...) dalam perbendaharaan katanya.
Share: