Sekali lagi kulihat ibuku sore ini terlalu sibuk, badannya yang lelah masih saja dipaksakannya untuk menyelesaikan pekerjaannya, ah ibuku, wanita yang tidak pernah mendengar kata anaknya ini untuk hal itu, untuk sekedar mengurangi kegiatan melelahkan itu, sedikit beristirahat, tapi apa katanya? Itu semua demi adik tercintaku, oh tuhan berikan ibuku kekuatan melebihi kekuatan yang dibutuhkannya untuk semua itu, meski tak pernah mengeluh tapi aku tau ibuku terkadang kelelahan, pukul 3 pagi ia sudah mulai terjaga dari lelapnya, dimana semua orang masih asik dengan bunga-bunga tidurnya ibuku sudah mematahkan ranting-ranting bunga tidurnya, menyiapkan gorengan yang akan dijualnya pagi nanti, sore ini ia mempersiapkan semua yang akan dijajakan di warung ibuku sampai nanti pukul 8 malam ia baru selesai, terkadang menyisakan waktu sebelum lelapnya untuk sekedar menantiku pulang memakan masakannya yang terkadang aku tidak memberi taunya jika aku tak bisa pulang sampai esok pagi saat aku pulang ia akan menanyakan kenapa aku tidak pulang tadi malam, ia menantiku karena terkadang ia memasak masakan kesukaanku atau sekedar menggoreng tahu kesukaanku, tak mampu aku membiarkan jerih payah ibuku itu terbuang sia-sia, jika masih bisa dimakan, aku memakan semuanya itu di pagi hari saat dimana aku benar-benar bisa meluangkan waktu untuk pulang, ibuku seolah tak pernah lelah memperhatikanku, jika aku membayangkan semua ini terkadang membuat otak ini terasa lemah mencair dan tak mampu berpikir.
Saat ini anaknya ini sudah tak lagi bisa seperti dulu sewaktu masih dalam masa-masa sekolah, yang akan pulang tepat waktu meski sekedar untuk mengganti seragam dengan baju sehari-hari dan lalu pergi lagi entah kemana, waktu itu, saat malam-malam tidak akan ku relakan mata ini terpejam atau aku memejamkan mata ini dengan menghabiskan waktu bersama sejawat diperemapatan atau ditempat teman untuk menanti pagi dini hari saat ibuku sudah terbangun dan memulai kegiatannya yg sudah kuhapal benar, aku pulang disaat bersamaan saat ia mulai memanaskan minyak gorengnya, aku menemaninya menghabiskan dini hari sebelum nanti aku harus pergi sekolah meski terkadang membolos atau masuk kelas sekedar untuk tertidur sampai bell istirahat kedua berbunyi, aku membantunya mengangkat apa yang bisa aku angkat dan pindahkan, menunggui api yang masih menggunakan kayu bakar sembari menghangatkan badan ini dari dinginnya pagi buta, menyeduh teh dalam panci yang lumayan besar yang sesungguhnya aku juga ingin membuat segelas teh untuk aku pun terkadang ibuku meminumnya, ah bangganya teh buatanku diminumnya, seperti itu sampai ayahku terjaga dan menyuruhku untuk segera manjalankan kewajibanku sebagai seorang pelajar, mandi dan menanti seorang teman didepan warung ibuku untuk berangkat bersama dengan motornya.
Ibuku menjadi salah satu orang yang sangat berarti dalam hidupku. Untukmu adikku yang mungkin belum mengerti arti sebuah pengorbanan dari semua orang tua.
Saat ini anaknya ini sudah tak lagi bisa seperti dulu sewaktu masih dalam masa-masa sekolah, yang akan pulang tepat waktu meski sekedar untuk mengganti seragam dengan baju sehari-hari dan lalu pergi lagi entah kemana, waktu itu, saat malam-malam tidak akan ku relakan mata ini terpejam atau aku memejamkan mata ini dengan menghabiskan waktu bersama sejawat diperemapatan atau ditempat teman untuk menanti pagi dini hari saat ibuku sudah terbangun dan memulai kegiatannya yg sudah kuhapal benar, aku pulang disaat bersamaan saat ia mulai memanaskan minyak gorengnya, aku menemaninya menghabiskan dini hari sebelum nanti aku harus pergi sekolah meski terkadang membolos atau masuk kelas sekedar untuk tertidur sampai bell istirahat kedua berbunyi, aku membantunya mengangkat apa yang bisa aku angkat dan pindahkan, menunggui api yang masih menggunakan kayu bakar sembari menghangatkan badan ini dari dinginnya pagi buta, menyeduh teh dalam panci yang lumayan besar yang sesungguhnya aku juga ingin membuat segelas teh untuk aku pun terkadang ibuku meminumnya, ah bangganya teh buatanku diminumnya, seperti itu sampai ayahku terjaga dan menyuruhku untuk segera manjalankan kewajibanku sebagai seorang pelajar, mandi dan menanti seorang teman didepan warung ibuku untuk berangkat bersama dengan motornya.
Ibuku menjadi salah satu orang yang sangat berarti dalam hidupku. Untukmu adikku yang mungkin belum mengerti arti sebuah pengorbanan dari semua orang tua.
Untukmu Adikku tercinta, kakakmu ini tidak lagi bisa berada dirumah setiap saat untuk menghibur ibu kita seperti dulu, saat ini hanya kamulah satu-satunya pelipur lelah ibu kita, tak perlu kau menemaninya di pagi-pagi buta karena itu bukan waktumu, cukup turuti semua kata mereka kedua orang tua kita yang terkadang menurutmu tidak sesuai keinginanmu tapi itulah yang terbaik saat ini, patuhi mereka melebihi kepatuhanmu padaku yang terkadang membiarkanmu bermanja-manja dengan rengekanmu itu padaku. Adikku, masih banyak ceritaku untukmu tapi kakakmu ini sudah tak mampu menyusun kalimat-kalimat ini dengan benar, dan aku yakin kau akan mengerti semua ini suatu saat nanti, masih terlalu panjang kehidupanmu untuk mencapai pengertian itu yang sampai saat ini masih saja membuat kakakmu ini seolah menjadi mayat hidup untuk sekedar mengerti arti dari semua ini. Dan memang kita, aku dan kamu dilahirkan dalam kesederhanaan tapi mereka kedua orang tua kita terlalu luar biasa untuk disamakan dengan mereka yang lebih dari kita, jangan pernah bandingkan, karena suatu saat kau akan mengerti betapa luar biasanya anugrah dari sang Esa yang telah mengijinkan kita terlahir dalam keluarga ini. Salam sayang selalu untukmu. "Aku"