Masa Kecilku

Bisa dibilang masa itu masa dimana aku menjadi seorang anak yang cengeng dan manja, satu kisah tentang Foto Ibuku, suatu ketika Bapakku memotret Ibu, Aku dan Kakakku, dengan pose yang berbeda-beda tentunya, Aku dan Kakakku duduk di teras rumah dan Ibuku berdiri disamping kami, terang saja Bapakku lebih fokus pada kami berdua karena memang beliau berniat mengabadikan kami dalam sebuah gambar dari kamera tua dengan roll film didalamnya, seminggu setelahnya foto itupun jadi setelah cuci cetak di studio entah dimana, waktu kulihat foto itu bergambar aku dan kakakku yang terlihat sangat jelas dan disana ada gambar ibuku yang hanya sebagian saja terlihat, entah kenapa aku dulu, tanpa basa basi langsung saja aku menangis terisak-isak karena foto itu, hanya karena gambar ibuku terpotong, saat itu aku tidak peduli dengan keadaan dimana roll film kamera tua itu sudah habis, aku ingi kami di foto ulang dan aku ingin foto yang tadi dibuang jauh-jauh.

Masa kecilku memang terlalu manja, sedikit lebih besar aku menjadi anak yang bengal dan sedikit bandel, aku memasuki dunia sekolah dan mengenal banyak teman sebaya di SD Negeri tak jauh dari rumah kakek dan nenekku, tak begitu jauh juga dengan rumah bapak dan ibuku, hanya 15 menit ditempuh dengan berjalan kaki, setiap kali pulang sekolah, aku tak langsung pulang ke rumah, kami bermain di sawah, bersama kedua teman atau bilang saja sahabat dekatku, mereka adalah Untung(nDok) dan Aji(nJink'a), setiap kali disawah hanya ada tawa diantar kami meski kadang juga tangis, suatu ketika saat kami bermain berlarian saling kejar dipematang sawah tanpa menghiraukan tanaman kacang yang ditanam ditepian pematang itu yang baru saja bertunas, kami dikagetkan dengan teriakan pak tani pemilik sawah yang geram karena tanaman kacangnya kami injak-injak, tanpa banyak bicara kamipun berlari ketakutan, saat itu yang berada dibelakang adalah nDok, nJink'a di belakangku dan tentu saja aku yang didepan, nDok yang dibelakang tak bisa melihat jelas pematang yang sempit itu karena nJink'a dan aku didepnnya, mungkin karena itu dia terjatuh terjerembab dipematang itu, dia berteriak dan kami berhenti untuk mengangkatnya, salah satu kakinya masuk kedalam lumpur karena sawah baru saja dibajak dan masih basah, sialnya kami tak pernah melepas sepatu jika bermain-main dimanapun, jelas saja sepatu dia tak ikut terangkat, masih ada didalam lumpur, dengan mata sedikit berkaca-kaca dan masih berjongkok dia bilang "Bagaimana sepatuku?" belum sempat kami jawab, petani tadi muncul lagi, dengan wajah garangnya dan berteriak-teriak sambil mengacungkan sabitnya semakin membuat kami bertiga kalang kabut hampir mati ketakutan, tanpa memikirkan sepatu kamipun langsung berlari menjauh, sahabatku yang hanya bersepatu sebelah itupun berhenti dan masih bertanya tentang sepatunya, kami putuskan untuk mengambilnya bersama nanti sesudah ganti baju, kami berkumpul dirumah nDok meski biasanya juga begitu, rumah hanya sebagai tempat tidur kalau malam bagi kami, kami kembali ke sawah dimana sepatu tadi berada, dengan daya ingat yang masih belum sempurna karena rasa takut kami oleh ulah petani garang tadi kami mencari di setiap tepian sawah, dengan nada gembira bagaikan mendapatkan harta karun berlimpah ruah sahabatku itu berkata "Disini" segera saja kami menggali dan mengambil sepatu itu.
Tas plastik yang kami bawa dari rumah khusus untuk menghilangkan jejak jika kami membawa sepatu yang hanya sebelah dan berlumuran lumpur, kami menuju sungai yang lumayan besar tempat dimana kami biasa menghabiskan hari-hari untuk mencuci sepatu itu, biasanya disungai itu sudah banyak sekali teman-teman entah yang mandi, memancing atau sekedar bermain.

Selesai mencuci sepatu, kami menjemurnya diatas batu, sambil menunggu kering kami pun ikut bermain, banyak sekali permainan kami, meloncat salto dari batu cadas ke sungai mungkin Loncat Indah pikir kami saat itu, bermain pasir yang dibulatkan lalu dibuatkan Treck seperti mobil tamiya dan hotwells impian kami atau saling berbagi teman untuk membentuk dua kelompok lalu memainkan Perang Dunia ke tiga, amunisi kami adalah lumpur ataupun pasir yang sudah dibulatkan, saling lempar dan sembunyi dibalik batu-batu besar, sebelum mata kami memerah karena terlalu lama berendam kami tidak akan pulang, sebelum pulang mata kami harus sudah tidak merah lagi karena jika masih merah kami akan mendapatkan ceramah yang panjang nan lebar, biasanya kami membakar daun-daun kering untuk menghangatkan badan sembari menunggu mata kami sudah tidak lagi merah, hampir menjelang Maghrib kami baru pulang, sesampainya dirumah kami semua lupa dengan sepatu yang tadi kami cuci itu, dengan tergesa-gesa sang empunya sepatu berlari ketempatku bersama sahabatku yang satunya lagi, langit hampir gelap, dan kami adalah pengecut yang penakut, tapi tidak ada pilihan lain, kami merasa asing meski kami ditempat biasa dimana kami sering bermain, entahlah, mungkin karena sudah sangat sore dan tak ada segerobolan orang-orang seperti tadi siang, kami lihat sepatunya masih berada ditempat yang semula saat kami menjemurnya tadi siang, bergegas kami mengambilnya lalu berlari pulang.

Keesokan harinya kamipun melakukan hal yang sama, sepulang sekolah bermain disawah, pulang dengan baju sedikit kotor karena lumpur, bermain disungai dengan permainan yang sama, teman yang sama dan sahabat yang sama namun beda tema dan cerita.
Share:

Aku

Sebuah kisah tentang kehidupan manusia, manusia yang biasa saja, layaknya manusia yang menjalani kehidupan dengan nyawa yang ada, untuk kali pertamanya aku menceritakan tentang "Aku", ya, Aku.

Awal kehidupanku sama seperti manusia pada dasarnya, keluar dari rahim seorang Ibu yang hebat. Kata mereka tangisku penuh menyesaki ruang bersalin kecil itu, di rumah sakit umum, bukan rumah sakit bersalin, begitu menghembuskan napas pertama, aku disambut dengan ucapan syukur kepada-Nya dari orang-orang yang menanti kehadiranku, syukur mereka karena hebatnya Ibu yang bersusah payah memberiku dunia baru setelah membawaku kemanapun ia pergi selama 9 bulan, syukur atas selamatnya Ibu dan Aku, tak lupa dikumandangkan Adzan ditelinga kananku oleh seorang laki-laki yang aku sebut bapak.

Dunia baru telah kuhirup udaranya, segar dan sampai saat ini masih kuhirup kesegaran itu, di rumah bapakku yang sederhana namun tetap nyaman untuk sekedar berteduh dikala hujan ataupun panas, dimana disana sudah ada anak dari orangtuaku yang pertama, ya, dia kakakku.

Sedikit tentang kedatanganku untuk menghirup udara dunia. Aku adalah orang yang hidup dalam keluarga yang sederhana, banyak cerita masa kecil yang masih teringat dalam otakku ini, penuh dan sesak.
Share: