Pucuk Pohon Kesabaran

Diam dalam pekat embun tengah malam membuatku semakin terperosok dalam pikiran-pikiranku, sayu angin menyeruak kedalam telinga terasa seperti lagu hitam kesukaanku, senyapnya kegelapan membawa aroma tanah yang membasah tertimpa hujan yang masih menyisakan titik-titik air gerimis yang terlihat indah memantulkan cahaya bulan, kupejamkan mataku untuk kesekian kalinya menapaki kembali jalan-jalan seketsa kehidupan masa yang telah usang dalam catatan otak, tak banyak yang kuingat, begitu susahnya mengenang kembali kesenangan-kesenangan dan kebahagiaan-kebahagiaan jika aku tak ingin memikirkannya, aku berpikir tentang semua kesalahan-kesalahan tentangnya, bukan suatu kesalahan jika aku membiarkan kebodohan itu terjadi karena aku yakin semua bisa berubah, kesalahan ada dalam keyakinanku untuk sebuah perubahan, bodoh.


Setiap jengkal kesalahannya masih tersimpan rapih dalam rongga-rongga hati penuh sesak berdesakan dengan rasa yang masih belum dapat dimengerti antara batin dan pikiran ini, hingga tak ada lagi tempat untuk kesalahan-kesalahan yang sama sampai saat ini, kepercayaan yang dikhianati, kata-kata yang teringkari, kalimat-kalimat laknat yang terurai terberai, apa lagi? terlalu banyak untuk ku tulisakan dalam sebuah luapan amarah tulisan-tulisan berbahasa keji ini.


Bukan untuk menggali kembali sesuatu yang telah terkubur, hanya untuk membiarkan pikiran ini melihat dari mata yang selama ini tertutupi oleh hitamnya asap kebohongan yang dangkal untuk membutakan mata hati. Hela nafas panjangku untuk menikmati harum tanah kehujanan yang selama ini kukagumi, dan mataku mulai terbuka untuk menikmati kegelapan yang masih saja menjadi sebuah kedamaian yang tak tergantikan oleh silau matahari.


Sekali lagi dalam benakku. Langkahnya dalam ketidak pastian membuat sebuah pohon-pohon duniaku mengering, keputusan-keputusan aneh itu lagi, wajah ganas itu lagi dan sebentar lagi muka memelas akan segera datang menghampiri mata fana ini, satu pucuk pohon telah gugur kebumi, sebuah ranting patah, yang menyisakan batang itu semakin merapuh kering atas sebuah klise permainan itu.


Berpikirkah dirinya jika suatu saat pohon itu benar-benar tumbang dan hilang? Saat itu aku bukanlah seorang aku yang saat ini masih memiliki sebuah pohon dengan ranting-ranting sisa.
Share:

3 comments:

  1. keren..kerenn..! ne smua beneran tah? I mean that story inside.. q smpe mw nangizz pas bacanya..(hehe lebay!) sip..sip.

    ReplyDelete
  2. Hampir semuanya pengalaman pribadi... hehe... daripada marah2 ma orang mksudnya nulis2 gini... =="

    @ Anonymous : Thanks....

    ReplyDelete

Yang punya nama, kasih nama donk woe!!!