Jreng... Jreng...

Udah lama banget g posting disini, hehehe... Udah lama juga g maen gitar, kemaren sempet maen bentar dan apa jadinya? Jari-jari ane sedikit sakit, Chord sih g lupa, cuman lagunya aja g ada... Hahaha... Mau gitarin lagu-lagu jaman sekarang, g ada yang bener lagunya... Hadheh... Jadi bingung mau main gitar kan? Damn...

Entah ada setan apa kemaren niat banget cari gitar (Pinjem) ke rumah temen, yah mungkin emang lagi kurang kerjaan, lagi kurang duit juga... Haha... Ada yang mau kasih kerjaan dengan duit yang lumayan? :nohope: Boring sih intinya kemaren, ya keadaan yang wajar wal maklum, setiap orang mengalaminya, bukan begitu? Dan itu manusiawi... Eheheh... Ternyata ane masih manusia juga... Wakakakak...
Share:

Ada apa lagi ini?

Sungguh aku tidak mengerti, apa lagi yang aku lakukan? Apa lagi kesalahanku? Apa lagi?

Seharusnya, kamu mengerti dengan apa yang aku bilang, "Biacaralah, biar semua jelas, jangan biarkan semua orang mencari tahu sendiri." Karena dengan kau biarkan mereka atau bahkan aku mengerti sendiri apa yang terjadi dan yang menjadi masalah ini, kamu yang akan tersakiti, kamu tau kenapa? Karena dengan begitu, kamu harus menunggu sekian lama untuk membuat orang itu benar-benar mengerti dengan diammu itu. Cobalah sedikit terbuka, ungkapkan semua, kamu tidak akan pernah merasa sakit hati atau apalah itu. Jika salah, katakan ini atau itu yang salah, jika diam, hanya akan terpendam dan tidak akan lagi terungkap, nanti, semuanya akan menjadi sebuah bom waktu yang benar-benar siap menghancurkan semuanya, bukan cuma kamu, tapi aku ataupun orang lain juga. Ayolah, aku sudah mencoba untuk seperti itu setiap kali terjadi hal ini, dan ini efektif, aku tidak pernah merasakan sakit hati yang berkepanjangan.

Maaf, ini bukan keharusan, tapi ada baiknya jika kamu pikirkan apa yang aku katakan ini. Setiap kalimatku yang seperti ini sebenarnya bukan untukku saja, tapi kita ataupun mereka juga, ya, memang aku menerimamu apa adanya, tapi untuk kebaikan bersama, apakah tidak mau sedikitpun kamu merubah kebiasaan itu? Diam tak mau sama sekali mencoba mengungkap dan berbicara tentang apa yang kamu rasakan dan tentang apa ini semua. Ayolah.... Ini demi kita.
Share:

Bingung

Kasih, bukan aku kehilangan rasa itu, hanya saja, aku masih dalam kebingungan dalam menentukan hidupku, tidak ada hubungannya denganmu saat ini, tapi akan sangat berhubungan erat denganmu nanti. Aku dalam keadaan yang saat ini belum bisa kumengerti sepenuhnya, tanpa solusi pasti, masih mencoba dan mencoba. Merangkak tak beraturan, bimbang dihadapkan dua persimpangan yang akan menemukan kembali persimpangan yang hampir sama saja.

Ini bukan tentang rasa itu, aku mulai lelah dengan keadaan hidupku sendiri, tanpa membawamu dalam kebingungan ini karena sudah kutempatkan dirimu pada sisi yang pasti, ini tentang ingin jadi apa aku nanti yang akan menjadi, akan seperti apa kita nanti, sesi ini adalah sesi dimana aku harus menentukan kehidupanku nanti dan kehidupanmu kelak saat itu tiba, terkadang aku ngeri membayangkan saat nanti jika hidupku masih saja seperti ini, jadi, kasih, biarkan aku menentukan dengan benar kehidupanku ini dulu tanpa membawamu dalam kebingungan ini, kumohon tetap berdiri di sisi yang sudah kuberikan itu dengan keyakinan rasa ini tak berubah sama sekali, dan yakinkan dirimu, aku dalam keadaan yang sangat tidak aku sukai.

Jangan pernah terbebani dengan ini semua, karena ini adalah tanggungjawabku sebagai seorang yang nanti harus memimpinmu. Semangatmu, seharusnya menegarkanku, tapi jika ini sangat membebanimu, aku memohon maaf darimu. Jati diriku hampir benar-benar menghilang, aku yang selalu memprotes segala sesuatu yang mengikat kini harus terikat dengan doktrinitas yang selama ini kuanggap sampah. Demi kehidupanku dan kehidupanmu, nanti.
Share:

Monolog

Waktu kian bergulir, mengganti hari menjadi minggu. Prolog, dialog dan epilog, berputar tak beraturan. Mengganti ataupun terganti, tanpa bisa melawan sebuah konsep pasti dari sebuah sinergi. Sedangkan doktrinasi sosial semakin tak terbendung lagi menggerogoti kemanusiaan hari ini dan nanti. Sadar atau tidak, diriku dalam sesat sosial itu, mengayuh bidu tanpa dayung, mencoba meraih tepi yang tak bertuan, semua salah, dan aku lelah. Apakah aku hampir dan mulai kalah? Kali ini aku benar-benar gelisah, mungkinpun jengah.

Ini bukan tentang cinta, kasih dan kedamaian, ini adalah sesi dimana setiap insan dalam keadaan resah dan bertanya-tanya, siapa aku sebenarnya? Dengan apa aku akan menjalani ini selanjutnya? Untuk sebagian manusia, ini adalah titik dimana semua akan diakhirinya yang mereka sebut putus asa, menyerah pada keadaan dan pasrah dalam ketidak pastian. Tapi ini benar-benar terjadi padaku, hampir lebur luluh otak ini dipaksa keras untuk menemukan solusi pasti, atau hanya berandai-andai menghibur diri.

Wahai Aku, kau yang dulu hidup, sudah saatnyakah kau mati? Memenjarakan otak dan jiwa itu dalam kelu pilu? Mendulang kembali angan tanpa realisasi? Inikah dirimu? Inikah diriku? Ragamu tak sekuat bayanganmu, jiwamu rapuh dan otakmu ternyata tak lebih baik dari seekor kerbau. Dimana jiwamu yang keras itu? Dimana hatiku yang membaja itu? Haruskah hilang kau telantarkan aku? Ini tentangmu dan aku. Mengertilah.
Share: