Kasih, bukan aku kehilangan rasa itu, hanya saja, aku masih dalam kebingungan dalam menentukan hidupku, tidak ada hubungannya denganmu saat ini, tapi akan sangat berhubungan erat denganmu nanti. Aku dalam keadaan yang saat ini belum bisa kumengerti sepenuhnya, tanpa solusi pasti, masih mencoba dan mencoba. Merangkak tak beraturan, bimbang dihadapkan dua persimpangan yang akan menemukan kembali persimpangan yang hampir sama saja.
Ini bukan tentang rasa itu, aku mulai lelah dengan keadaan hidupku sendiri, tanpa membawamu dalam kebingungan ini karena sudah kutempatkan dirimu pada sisi yang pasti, ini tentang ingin jadi apa aku nanti yang akan menjadi, akan seperti apa kita nanti, sesi ini adalah sesi dimana aku harus menentukan kehidupanku nanti dan kehidupanmu kelak saat itu tiba, terkadang aku ngeri membayangkan saat nanti jika hidupku masih saja seperti ini, jadi, kasih, biarkan aku menentukan dengan benar kehidupanku ini dulu tanpa membawamu dalam kebingungan ini, kumohon tetap berdiri di sisi yang sudah kuberikan itu dengan keyakinan rasa ini tak berubah sama sekali, dan yakinkan dirimu, aku dalam keadaan yang sangat tidak aku sukai.
Jangan pernah terbebani dengan ini semua, karena ini adalah tanggungjawabku sebagai seorang yang nanti harus memimpinmu. Semangatmu, seharusnya menegarkanku, tapi jika ini sangat membebanimu, aku memohon maaf darimu. Jati diriku hampir benar-benar menghilang, aku yang selalu memprotes segala sesuatu yang mengikat kini harus terikat dengan doktrinitas yang selama ini kuanggap sampah. Demi kehidupanku dan kehidupanmu, nanti.
0 Comments:
Post a Comment
Yang punya nama, kasih nama donk woe!!!