Saat melihat senyum itu membuatku tidak mampu lagi mengecap kata untuk sedikit mencaci kelemahan ini.
Kalimat-kalimatmu seperti mantra yang membinasakan semua manusia dan menyisakanmu dimata hitam putihku, memberikannya warna-warna pelangi yang terpancar darimu bulan purnamaku.
Dirimu seakan menjelma dibenakku dengan roh-roh dari kematian-kematianku saat menahan semua api cemburu yang membuatku semakin terbunuh angan pasi.
Menyentuhmu menggetarkan duniaku, membuatnya kelu kaku membeku, bukan ini mauku, aku ingin menyentuhmu saat nanti semua benar-benar milikku, bukan saat ini, aku tak ingin menghancurkan keindahan-keindahanmu demi duniaku.
Anggunmu menghidupkan tanah-tanah kering halaman rumahmu yang dulu hijau oleh rerumputan, lemah lambatnya langkahmu seakan memutar kembali waktu, mengembalikan dedaunan yang gugur pada ranting-ranting pohon-pohon jati.
Mendengar cerita tentang hidupmu hari itu bagaikan senandung sesat yang menyesatkanku pada lamunan khitmat mengikuti gerakan bibirmu yang bagaikan mawar merah muda yang kembali menguncup jika sudah lelah mekar.
Suguhan minumanmu bagaikan geizer bagi seorang musafir dipadang pasir tandus penuh tulang, menghilangkan dahaga kebahagiaan dari sebuah penghormatan.
Kepatuhanmu meluluh lantakkan semua tembok kesombonganku, melongsorkan semua jurang-jurang dari palung-palung amarahku.
Dan saat kau tau, ini semua deskripsi basiku tentangmu duhai bulan purnama yang menjadikan malam-malamku temaram cahayamu.
Kalimat-kalimatmu seperti mantra yang membinasakan semua manusia dan menyisakanmu dimata hitam putihku, memberikannya warna-warna pelangi yang terpancar darimu bulan purnamaku.
Dirimu seakan menjelma dibenakku dengan roh-roh dari kematian-kematianku saat menahan semua api cemburu yang membuatku semakin terbunuh angan pasi.
Menyentuhmu menggetarkan duniaku, membuatnya kelu kaku membeku, bukan ini mauku, aku ingin menyentuhmu saat nanti semua benar-benar milikku, bukan saat ini, aku tak ingin menghancurkan keindahan-keindahanmu demi duniaku.
Anggunmu menghidupkan tanah-tanah kering halaman rumahmu yang dulu hijau oleh rerumputan, lemah lambatnya langkahmu seakan memutar kembali waktu, mengembalikan dedaunan yang gugur pada ranting-ranting pohon-pohon jati.
Mendengar cerita tentang hidupmu hari itu bagaikan senandung sesat yang menyesatkanku pada lamunan khitmat mengikuti gerakan bibirmu yang bagaikan mawar merah muda yang kembali menguncup jika sudah lelah mekar.
Suguhan minumanmu bagaikan geizer bagi seorang musafir dipadang pasir tandus penuh tulang, menghilangkan dahaga kebahagiaan dari sebuah penghormatan.
Kepatuhanmu meluluh lantakkan semua tembok kesombonganku, melongsorkan semua jurang-jurang dari palung-palung amarahku.
Dan saat kau tau, ini semua deskripsi basiku tentangmu duhai bulan purnama yang menjadikan malam-malamku temaram cahayamu.
0 Comments:
Post a Comment
Yang punya nama, kasih nama donk woe!!!