Bagaimana?

Bagaimana aku bisa menjadi yang terbaik untukmu?
Sedangkan saat kau bersedih, kau harus menantiku ditengah malam untuk sekedar berbicara denganmu,
Bahkan terkadang kau harus memintaku untuk itu.

Bagaimana aku bisa menjadi yang terbaik untukmu?
Jika saat ini saja aku masih terpaku membeku disini, meski jiwa ini ingin bersamamu
tapi raga ini masih belum mampu menggapai sebuah kata padu.

Bagaimana aku bisa menjadi yang terbaik untukmu?
Jika hanya kutempelkan sedikit senyum dibibirmu, dan begitu banyak pilu dalam kelu
Hingga aku terkadang tak mampu menahan tangismu.

Bagaimana aku bisa menjadi yang terbaik untukmu?
Sedangkan aku tak berikan perhatian yang cukup, seperti yang mereka lakukan untukmu
Terlalu banyak perhatianku tersita untuk kita, aku dan kamu.

Bagaimana aku bisa menjadi yang terbaik untukmu?
Jika setiap kalimatku menusukmu, melukai segenap relung hatimu.
Sepertinya sudah terlalu banyak perih yang kuberikan padamu.

Masih pantaskah aku menyandingmu?
Memilikimu, seutuhnya?
Dan apakah sudah kumiliki seutuhnya dirimu?
Share:

Galauku

Jikapun kehadiranku tak teringinkan olehmu, baiklah dan biarlah aku menghilang dari semuanya, darimu, darinya dan mereka, tapi kasih, aku ingin kamu tau, setidaknya saat ini adalah selamanya, bukan dariku, tapi darimu untukmu, kamu tau setiap kalimatku adalah ambigu yang memang aku biarkan seperti itu, aku ingin melesakkannya kedalam pikiranmu, jika hatimu pedih karena keadaannya, bukankah itu rasa yang berbeda, berbeda dari mereka, berbeda atas apa yang kamu rasakan atas mereka. Sejalan dengan itu, aku tak mengerti setiap langkahku untukmu, menjadikanku kebingungan, haruskah aku melangkah maju atau berputar kembali kejalan semula yang aku lalui dengan kesendirian yang sudah biasa saja, jikapun harus begitu, aku merelakanmu, ya, meskipun aku tau aku akan menjadi manusia munafik, seperti apa yang pernah kukatakan padamu, manusia yang merelakan orang yang disayanginya untuk orang lain tanpa alasan yang tepat adalah manusia munafik. Kamu gelisah atasnya, aku galau atas itu, perasaan seperti apa itu? Yang seperti apa? Aku selalu mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan bodohku itu, bukan darimu, tapi dari otakku. Ataukah aku harus menggunakan hatiku untuk mendapatkan jawaban atas semua pertanyaan bodoh itu? Tapi, sayang, aku telah lama mendapatkan jawaban itu, yang aku tau sebenar-benarnya adalah pernyataan hati atas apa yang bergelora didalamnya, menyeruak menembus perisai-perisai batin yang pernah terkoyak.


Dan kasih, bayangan itu menggangguku, bayangan dari cahaya itu, bukan bayanganku atau bayanganmu, bayangan itu yang menggalaukan setiap kalimat yang akan terucap dari kelunya bibir hitam ini. Aku, aku tidak ingin berdiri diatas terangnya permukaan hati, hatimu, seperti yang biasa kulakukan, menyendiri dalam gelap, aku ingin seperti itu, berdiri tegak dalam gelapnya relung terdalam hati, hatimu. Aku sudah bosan dengan terik sinar-sinar itu, yang membuat bayangan-bayangan dari setiap diriku, setiap melangkah, bayangan itu selalu saja menyapa, sepertinya memang benar-benar ingin membuatku gila atas semua yang kulakukan, menjajagi setiap jengkal kehidupanku denganmu.


Aku ingin kamu tau, setiap kata yang tersusun dalam kalimatku adalah benar-benar apa yang ada dalam isi kepalaku.


Share: