Aku, Kembali, Berdeskripsi

Tentang Aku, Aku dan Aku. Agar kalian tau, semoga kalian mengerti atas pengetahuanmu tentang Aku.

Aku, Sebenar-benarnya manusia yang tak pernah bisa melawan sifat-sifat kelemahanku, aku seorang yang sungguh sangat pemalu, tidak pernah percaya diri, sungkan menampakkan diri dalam keramaian, menghamba pada kesepian-kesepian yang memang sangat menenangkan dan menyenangkan bagiku, bukan untuk meratap, hanya untuk berpikir, sendiri. Aku, manusia yang tak pernah bisa menghindar dari pedih, perih, menjadikannya ajaran-ajaran hitam kehidupan, menjadikannya sebuah cahaya hitam kelam diantara semua yang memutih palsu. Aku, jikapun kalian bertemu denganku, aku akan lebih pendiam daripada ini, aku, manusia yang terkadang tak banyak bicara dan ketika satu kata terucap, satu hati mungkin dapat terluka, aku bahkan tak mengerti bagaimana cara mengendalikan kata-kata yang seakan keluar begitu saja.

Jikapun aku berdebat atau mendebatmu di dunia maya ini, itu wujud dari otak yang penuh ini. Saat aku bercanda, tertawa bersama kalian, mengertilah, itu pelampiasanku untuk bersosialisasi tanpa harus menunjukkan diriku. Aku mengerti ini sebuah kesalahn, benar-benar salah, namun saat aku bertemu dengan kalian satu saat nanti, aku yakin perubahan akan terasa padaku untuk mu. Aku memang manusia aneh, terkadang mereka yang tak terbiasa denganku, menjadikan sebuah kata "Sok Misterius" sebagai pendeskripsian untukku. Wahai kawan, mengertilah, aku tak memilih diantara kalian, kalian adalah manusia-manusia yang datang sebagai tamu, jika kalian tau, kalian adalah tamu yang akan kubiarkan mengacak-acak ruang tamuku, bahkan kamarku, agar aku dapat merasakan kehadiran kalian dalam rumah sepiku itu. Sahabat, mengertilah, kalian adalah warna-warniku diantara hitam dinding-dinding ruang tamuku, kalian bisa saja menorehkan cat dengan warna-warna kesukaan kalian, dan jangan pernah terkejut saat kalian kembali bertamu, ruangan itu kembali menghitam pekat seperti saat kalian datang.

Dari keterpurukan-keterpurukan itu, aku mencari sebuah ke-agresif-an jiwa-jiwa bergelora, aku pendiam, aku pemberontak keramaian-keramaian tak terarah, aku menjadikan semua duniaku untukku. Aku, dalam kesepianku, dalam kesendirianku, merasa dekat dengan diriku. Aku mengerti akan dunia-dunia kalian yang akan berbeda setiap kalian, aku menghormati segalanya atasmu, mereka dan aku.
Share:

Patah


Detak kepiluan meruntuhkan puing-puing tembok retak
Disana, disisi hati penuh tanya
Dirimu menggubah segalanya
Dan kau lagi, kenapa? Kenapa harus kau?
Kenapa harus selalu dirimu yang menjadikanku kuat menghadapi lemahnya jiwa-jiwa kematian.

Dalam setiap lamunku, tak mampu kubayangkan wajahmu lagi, seperti apa dirimu saat ini, hanya saja aku mampu memperkuat keyakinanku untuk hidup karenamu, taukah kamu aku selalu dan terus saja memikirkanmu? Menjadikanmu sebuah kekaguman dari patahnya ranting-ranting pohon yang tumbuh subur dalam hati ini. Sayatan-sayatan itu, sayatan dari perempuan lain, begitu saja sembuh jika aku membuatmu kembali dalam pikiranku, bukan salahmu tak mengetahui ini, salahku yang terlalu takut mengungkapkannya, lagi.

Seandainya kamu tau, dan seandainya aku berani mengatakan, betapa dirimu selalu menyapa dalam setiap kepedihan-kepedihan dan mengobatinya secara gaib, menyentuhnya begitu saja, membawa kehangatan seorang kekasih meski hanya dalam angan ini, aku ingin kau tau, aku mencintaimu lebih dari mereka, hanya disini, aku tak pernah berani mengungkapkannya lagi, padamu, hanya pada tulisan-tulisan tak tertata ini yang meluapkan isi otak ini tentangmu, denganmu, untukmu. Dan masih saja, sesungguhnya ini tak cukup membantu, sungguh, ini sebenar-benarnya kesalahan, menjadikanmu sebuah bahan obrolanku dengan diriku, ah, tapi biarkan mereka tau, biarkan mereka mengerti keresahanku tentangmu, perasaanku padamu, tentang siapa dirimu untukku.

Bukan lagi sebuah rahasia untuk para sahabat yang terkadang mengunjungi dan membaca tulisan-tulisanku, berharap mereka mengerti akan keluhan-keluhan ini sebagai sebuah ungkapan kelu bibir bisu. Meski patah, ini bukan goyah.
Share: