Patah


Detak kepiluan meruntuhkan puing-puing tembok retak
Disana, disisi hati penuh tanya
Dirimu menggubah segalanya
Dan kau lagi, kenapa? Kenapa harus kau?
Kenapa harus selalu dirimu yang menjadikanku kuat menghadapi lemahnya jiwa-jiwa kematian.

Dalam setiap lamunku, tak mampu kubayangkan wajahmu lagi, seperti apa dirimu saat ini, hanya saja aku mampu memperkuat keyakinanku untuk hidup karenamu, taukah kamu aku selalu dan terus saja memikirkanmu? Menjadikanmu sebuah kekaguman dari patahnya ranting-ranting pohon yang tumbuh subur dalam hati ini. Sayatan-sayatan itu, sayatan dari perempuan lain, begitu saja sembuh jika aku membuatmu kembali dalam pikiranku, bukan salahmu tak mengetahui ini, salahku yang terlalu takut mengungkapkannya, lagi.

Seandainya kamu tau, dan seandainya aku berani mengatakan, betapa dirimu selalu menyapa dalam setiap kepedihan-kepedihan dan mengobatinya secara gaib, menyentuhnya begitu saja, membawa kehangatan seorang kekasih meski hanya dalam angan ini, aku ingin kau tau, aku mencintaimu lebih dari mereka, hanya disini, aku tak pernah berani mengungkapkannya lagi, padamu, hanya pada tulisan-tulisan tak tertata ini yang meluapkan isi otak ini tentangmu, denganmu, untukmu. Dan masih saja, sesungguhnya ini tak cukup membantu, sungguh, ini sebenar-benarnya kesalahan, menjadikanmu sebuah bahan obrolanku dengan diriku, ah, tapi biarkan mereka tau, biarkan mereka mengerti keresahanku tentangmu, perasaanku padamu, tentang siapa dirimu untukku.

Bukan lagi sebuah rahasia untuk para sahabat yang terkadang mengunjungi dan membaca tulisan-tulisanku, berharap mereka mengerti akan keluhan-keluhan ini sebagai sebuah ungkapan kelu bibir bisu. Meski patah, ini bukan goyah.
Share:

2 comments:

Yang punya nama, kasih nama donk woe!!!