Waktu kian bergulir, mengganti hari menjadi minggu. Prolog, dialog dan epilog, berputar tak beraturan. Mengganti ataupun terganti, tanpa bisa melawan sebuah konsep pasti dari sebuah sinergi. Sedangkan doktrinasi sosial semakin tak terbendung lagi menggerogoti kemanusiaan hari ini dan nanti. Sadar atau tidak, diriku dalam sesat sosial itu, mengayuh bidu tanpa dayung, mencoba meraih tepi yang tak bertuan, semua salah, dan aku lelah. Apakah aku hampir dan mulai kalah? Kali ini aku benar-benar gelisah, mungkinpun jengah.
Ini bukan tentang cinta, kasih dan kedamaian, ini adalah sesi dimana setiap insan dalam keadaan resah dan bertanya-tanya, siapa aku sebenarnya? Dengan apa aku akan menjalani ini selanjutnya? Untuk sebagian manusia, ini adalah titik dimana semua akan diakhirinya yang mereka sebut putus asa, menyerah pada keadaan dan pasrah dalam ketidak pastian. Tapi ini benar-benar terjadi padaku, hampir lebur luluh otak ini dipaksa keras untuk menemukan solusi pasti, atau hanya berandai-andai menghibur diri.
Wahai Aku, kau yang dulu hidup, sudah saatnyakah kau mati? Memenjarakan otak dan jiwa itu dalam kelu pilu? Mendulang kembali angan tanpa realisasi? Inikah dirimu? Inikah diriku? Ragamu tak sekuat bayanganmu, jiwamu rapuh dan otakmu ternyata tak lebih baik dari seekor kerbau. Dimana jiwamu yang keras itu? Dimana hatiku yang membaja itu? Haruskah hilang kau telantarkan aku? Ini tentangmu dan aku. Mengertilah.
0 Comments:
Post a Comment
Yang punya nama, kasih nama donk woe!!!