Sebuah kelembutan jiwa, hati dan nurani, perasaan itu, rasa itu anugerah yang disebut sebagai Cinta, terkadang menyakitkan dan terkadang sangat membahagiakan, rasa itu sebuah keadaan diamana saat manusia menjadikan sesuatu yang buruk menjadi indah, dimana semua pelik menjadi mudah, dan itulah Cinta.
Cinta adalah keikhlasan, keikhlasan menerima keadaan dengan apa adanya, menerima sesuatu yang sangat sulit dimengerti, menjalani perih dengan kesenangan-kesenangan, seperti menyusuri jalan penuh duri aral dengan menari-nari, meski terluka dan berdarah tetapi cinta seharusnya mampu menjadi benang-benang fibrin yang akan menyembuhkan luka-luka itu, cinta bukan sekedar rasa ingin memiliki, cinta adalah sesuatu yang berbeda, sulit dimengerti seperti bulan yang tak mengerti kenapa dia harus selalu mengitari bumi, tetap ada alasan dari semua itu, hanya saja mungkin kita belum mampu melihat dengan mata yang berbeda.
Saat cinta ada dalam hatimu, detak jantung itu akan menyepat tak tentu, membuat kegalauan yang entah apa alasannya, saat cinta itu ada dalam hati dan dihadapanmu kau akan merasa sangat tenang.
Setiap manusia pernah memiliki cinta yang pertama, seperti Gibran yang mencintai sesorang untuk pertama kalinya, Salma cinta pertama Gibran, akhir dari kisah itu sangat menyedihkan. Bukan hanya Gibran, akupun mempunyai seseorang yang membuatku bagaikan seorang bajak laut yang terdampar disebuah pulau penuh emas untuk pertama kalinya, dia manusia yang sampai saat ini masih membuat hatiku berdegup kencang tak menentu saat menatap dalam-dalam matanya, membuat tulang-tulangku melunglai lemas, membuatku bergetar hebat, dan membuatku terlihat bodoh dengan tingkahku yang sangat tidak seperti diriku yang biasanya, dialah wanita pertama yang mampu membuatku mencairkan airmata yang sangat beku, dia wanita pertama yang mampu membuatku tertegun terkagum atas keindahan-keindahan dirinya, wanita pertama yang mampu membuatku mersakan hangatnya sebuah senyuman, dia yang sampai saat ini masih saja bermain-main dalam pikiran ini menyisakan sedikit harapan palsu ciptaanku sendiri. Dia, V.A.W Wanita yang sungguh sangat membuatku kehilangan kendali atas pikiran dan tingkahku.
Sepenggal kisah ini mengingatkanku akan Gibran yang kehilangan Salmanya, aku masih ingat semua itu, saat dimana aku masih sering mengunjunginya di hari sabtu sore, aku manusia yang menghormati keadaan, aku tidak ingin mengunjunginya di sabtu malam untuk menghindari cibiran orang padanya dan atau keluarganya, aku ingin dia sempurna dimana saja seperti sesempurna dia dimataku, senyum yang selalu kurindukan itu masih keluar seminggu sebelumnya, tapi tidak untuk satu sabtu sore setelah seminggu yang lalu, matanya yang membuatku melihat dunia lebih indah terlihat sayu penuh dengan pantulan cahaya seperti sebuah telaga yang setiap saat beriak tersapu angin, wajahnya yang ayu itu terlihat mendung dengan sedikit ketakutannya atas kedatanganku, tanyaku dalam hati "ada apa dengan bulan purnamaku ini?" pertanyaan yang sangat menggaguku untuk mengagumi keindahan yang sungguh sangat tak tergantikan itu, tak seperti biasanya, dia terdiam mematung terkadang memalingkan mukanya dariku untuk menghapus air yang keluar pelan dari sudut-sudut matanya, sesekali mengisak, membuatku terdiam tak mengerti apa yang sedang terjadi padanya bulan purnamaku, sedikit kalimatku mencoba untuk membuat suasana mencair ternyata masih saja tidak mampu membuatnya mengangkat kalimat-kalimat yang sering kudengar darinya, sebelum matahari benar-benar tenggelam, aku untuk sekali lagi mencoba bertanya pada seorang kekasih hati yang begitu aku cintai, "Ada apa sebenarnya denganmu? Adakah sesuatu dariku yang membuatmu menangis?" tak ada kata yang keluar dari bibir bak kelopak mawar pink yang membuat semua orang ingin menjaganya itu, hanya gelengan kepala membuat rambut panjangnya yang terurai mengikuti gerakan itu seperti gelombang sayu laut yang membiru. Hari hampir gelap namun langit masih saja kemerahan senja, aku masih ingin mengagumi keindahan itu tapi pikiran ini masih saja mengingatkanku untuk segera meninggalkan keindahan ini agar tak ada kata-kata yang menyakiti bulan purnamaku itu, dengan nada malas aku katakan padanya kata yang sangat-sangat aku benci "Aku pulang dulu, dimana Ibumu?" dengan lirih dia katakan "Belum pulang" dalam hatiku berharap dia akan menahanku "Akhirnya dia membuka bibir indah itu, akankah dia mengatakan apa yang sedang terjadi padanya?" tak juga harapan itu terasa nyata dia genggam tanganku yang membuatku semakin melunglai "Nanti aku katakan semuanya padamu, tapi bukan seperti ini, aku terlalu lemah untuk mengatakan hal ini, begini" tanpa ada kata lagi aku mencium kening sang bulan purnamaku itu lalu meninggalkannya dengan penuh rasa galau, ah rasa tak ingin pergi itu lagi.
Perjalanan pulang dari rumah terkasih kali itu sangat menyiksa batin dan pikiran ini, seusai perjalanan menyiksa itu seperti biasanya aku memasuki dunia kesukaanku, kamar hitamku, tak terasa sebuah pesan singkat terkirim dilayar tertera nama yang sangat membuatku terbingar setiap kali nama itu ada, dengan sedikit rasa yang berbeda aku membacanya pelan mencoba mengerti setiap kata dan kalimat yang dia tuliskan.
Tanpa sadar mata yang selama ini belum bisa mengeluarkan air yang terlalu mahal untuk dikeluarkan oleh seorang laki-laki dari matanya menitik disela-sela celah mata dan tertetes diantara remang lampu biru kamar hitam, di iringi lagu hitam yang biasa menemani setiap malam-malamku, kupejamkan mata ini mencoba menenangkan diri, menyusun kata dalam otak ini, menyusun hati yang tiba-tiba terpeca, aku belum mampu untuk menjawab semua itu.
Keesokan harinya aku mulai menata sebuah kalimat pendek mencoba untuk tegar seperti seorang yang benar-benar kuat "Baiklah, aku tau, Terimakasih untukmu sudah mau menjadi seorang kekasih yang baik, aku ingin kamu ingat, aku masih selalu menyayangimu" dan tak ada jawaban dari pesan ini, memang tidak ada yang perlu dijawb dari pesan singkatku itu. Mulai saat itu aku sudah tak lagi menemui ataupun menghubunginya lagi, hanya tulisan-tulisan dibuku yang entah dimana saat ini untuk mengagumi keindahan bulan purnamaku itu.
Untukmu -bulan purnamaku- jika saja kau baca tulisan ini aku ingin kau tau, aku masih ada dan aku masih melihat semua keindahanmu dalam kenangan-kenanganku atasmu. Terimakasih untukmu telah memberikan begitu banyak cerita dalam kehidupanku.
Cinta adalah keikhlasan, keikhlasan menerima keadaan dengan apa adanya, menerima sesuatu yang sangat sulit dimengerti, menjalani perih dengan kesenangan-kesenangan, seperti menyusuri jalan penuh duri aral dengan menari-nari, meski terluka dan berdarah tetapi cinta seharusnya mampu menjadi benang-benang fibrin yang akan menyembuhkan luka-luka itu, cinta bukan sekedar rasa ingin memiliki, cinta adalah sesuatu yang berbeda, sulit dimengerti seperti bulan yang tak mengerti kenapa dia harus selalu mengitari bumi, tetap ada alasan dari semua itu, hanya saja mungkin kita belum mampu melihat dengan mata yang berbeda.
Saat cinta ada dalam hatimu, detak jantung itu akan menyepat tak tentu, membuat kegalauan yang entah apa alasannya, saat cinta itu ada dalam hati dan dihadapanmu kau akan merasa sangat tenang.
Setiap manusia pernah memiliki cinta yang pertama, seperti Gibran yang mencintai sesorang untuk pertama kalinya, Salma cinta pertama Gibran, akhir dari kisah itu sangat menyedihkan. Bukan hanya Gibran, akupun mempunyai seseorang yang membuatku bagaikan seorang bajak laut yang terdampar disebuah pulau penuh emas untuk pertama kalinya, dia manusia yang sampai saat ini masih membuat hatiku berdegup kencang tak menentu saat menatap dalam-dalam matanya, membuat tulang-tulangku melunglai lemas, membuatku bergetar hebat, dan membuatku terlihat bodoh dengan tingkahku yang sangat tidak seperti diriku yang biasanya, dialah wanita pertama yang mampu membuatku mencairkan airmata yang sangat beku, dia wanita pertama yang mampu membuatku tertegun terkagum atas keindahan-keindahan dirinya, wanita pertama yang mampu membuatku mersakan hangatnya sebuah senyuman, dia yang sampai saat ini masih saja bermain-main dalam pikiran ini menyisakan sedikit harapan palsu ciptaanku sendiri. Dia, V.A.W Wanita yang sungguh sangat membuatku kehilangan kendali atas pikiran dan tingkahku.
Sepenggal kisah ini mengingatkanku akan Gibran yang kehilangan Salmanya, aku masih ingat semua itu, saat dimana aku masih sering mengunjunginya di hari sabtu sore, aku manusia yang menghormati keadaan, aku tidak ingin mengunjunginya di sabtu malam untuk menghindari cibiran orang padanya dan atau keluarganya, aku ingin dia sempurna dimana saja seperti sesempurna dia dimataku, senyum yang selalu kurindukan itu masih keluar seminggu sebelumnya, tapi tidak untuk satu sabtu sore setelah seminggu yang lalu, matanya yang membuatku melihat dunia lebih indah terlihat sayu penuh dengan pantulan cahaya seperti sebuah telaga yang setiap saat beriak tersapu angin, wajahnya yang ayu itu terlihat mendung dengan sedikit ketakutannya atas kedatanganku, tanyaku dalam hati "ada apa dengan bulan purnamaku ini?" pertanyaan yang sangat menggaguku untuk mengagumi keindahan yang sungguh sangat tak tergantikan itu, tak seperti biasanya, dia terdiam mematung terkadang memalingkan mukanya dariku untuk menghapus air yang keluar pelan dari sudut-sudut matanya, sesekali mengisak, membuatku terdiam tak mengerti apa yang sedang terjadi padanya bulan purnamaku, sedikit kalimatku mencoba untuk membuat suasana mencair ternyata masih saja tidak mampu membuatnya mengangkat kalimat-kalimat yang sering kudengar darinya, sebelum matahari benar-benar tenggelam, aku untuk sekali lagi mencoba bertanya pada seorang kekasih hati yang begitu aku cintai, "Ada apa sebenarnya denganmu? Adakah sesuatu dariku yang membuatmu menangis?" tak ada kata yang keluar dari bibir bak kelopak mawar pink yang membuat semua orang ingin menjaganya itu, hanya gelengan kepala membuat rambut panjangnya yang terurai mengikuti gerakan itu seperti gelombang sayu laut yang membiru. Hari hampir gelap namun langit masih saja kemerahan senja, aku masih ingin mengagumi keindahan itu tapi pikiran ini masih saja mengingatkanku untuk segera meninggalkan keindahan ini agar tak ada kata-kata yang menyakiti bulan purnamaku itu, dengan nada malas aku katakan padanya kata yang sangat-sangat aku benci "Aku pulang dulu, dimana Ibumu?" dengan lirih dia katakan "Belum pulang" dalam hatiku berharap dia akan menahanku "Akhirnya dia membuka bibir indah itu, akankah dia mengatakan apa yang sedang terjadi padanya?" tak juga harapan itu terasa nyata dia genggam tanganku yang membuatku semakin melunglai "Nanti aku katakan semuanya padamu, tapi bukan seperti ini, aku terlalu lemah untuk mengatakan hal ini, begini" tanpa ada kata lagi aku mencium kening sang bulan purnamaku itu lalu meninggalkannya dengan penuh rasa galau, ah rasa tak ingin pergi itu lagi.
Perjalanan pulang dari rumah terkasih kali itu sangat menyiksa batin dan pikiran ini, seusai perjalanan menyiksa itu seperti biasanya aku memasuki dunia kesukaanku, kamar hitamku, tak terasa sebuah pesan singkat terkirim dilayar tertera nama yang sangat membuatku terbingar setiap kali nama itu ada, dengan sedikit rasa yang berbeda aku membacanya pelan mencoba mengerti setiap kata dan kalimat yang dia tuliskan.
Aku sudah menyiapkan kalimat-kalimat ini tiga hari yang lalu, hanya saja aku ragu untuk mengirimkannya padamu, kamu tau aku sangat menghormati ayahku, aku sudah pernah mengatakan itu padamu sebelumnya. Aku tidak mau untuk tidak mengikuti perintahnya, mungkin ini akan sangat menyakitkan bagimu begitu juga untukku, empat hari yang lalu ayahku pulang, tak seperti biasanya dia membawa kebahagiaan untukku tapi aku ingin kamu tau empat hari ini aku menangis disetiap malamku, aku tau kamu sangat menyayangiku, tapi kita harus tidak saling memiliki lagi, ayahku menjodohkan aku dengan anak dari seseorang yang pernah menolongnya disana, saat kata itu keluar darinya aku tak mampu melihat dunia dengan baik, aku melemah dan hanya bisa mampu menangis sebisaku, ayahku menyukaimu, tapi ini berbeda, aku sudah memikirkannya dan tiga hari yang lalu aku katakan "Iya" pada ayahku dan dia sangat berterimakasih untuk itu, aku mohon padamu, jangan lagi temui aku bukan karena aku tidak ingin menemuimu, hanya saja aku ingin agar kita tidak saling bersedih, aku tidak ingin melihat wajahmu yang biasanya selalu ceria itu berubah sedih atau marah padaku, hanya itu, terimakasih untuk itu, terimakasih sudah begitu menyayangiku.
Tanpa sadar mata yang selama ini belum bisa mengeluarkan air yang terlalu mahal untuk dikeluarkan oleh seorang laki-laki dari matanya menitik disela-sela celah mata dan tertetes diantara remang lampu biru kamar hitam, di iringi lagu hitam yang biasa menemani setiap malam-malamku, kupejamkan mata ini mencoba menenangkan diri, menyusun kata dalam otak ini, menyusun hati yang tiba-tiba terpeca, aku belum mampu untuk menjawab semua itu.
Keesokan harinya aku mulai menata sebuah kalimat pendek mencoba untuk tegar seperti seorang yang benar-benar kuat "Baiklah, aku tau, Terimakasih untukmu sudah mau menjadi seorang kekasih yang baik, aku ingin kamu ingat, aku masih selalu menyayangimu" dan tak ada jawaban dari pesan ini, memang tidak ada yang perlu dijawb dari pesan singkatku itu. Mulai saat itu aku sudah tak lagi menemui ataupun menghubunginya lagi, hanya tulisan-tulisan dibuku yang entah dimana saat ini untuk mengagumi keindahan bulan purnamaku itu.
Untukmu -bulan purnamaku- jika saja kau baca tulisan ini aku ingin kau tau, aku masih ada dan aku masih melihat semua keindahanmu dalam kenangan-kenanganku atasmu. Terimakasih untukmu telah memberikan begitu banyak cerita dalam kehidupanku.
keren..! hikz-hikz.. huaa
ReplyDeleteKo Keren sih??? hehe... makasih...
ReplyDelete