Selamat pagi duniaku, Hujan kali ini menyirami lagi tanah kering dijalan2 dimana kita sering lewati dulu, saat2 seperti ini, membuatku merasakan kembali sesuatu yg hilang, harum tanah yg terlihat seperti bayanganmu yg melenggang merayu untuk mengajakku menari bersama tetesan air hujan itu lagi, seperti dulu saat kita sengaja membasahi diri dengan tamparan air2 hujan itu
(Tulisanku yg ditulis kembali oleh seorang Adikku)
(Tulisanku yg ditulis kembali oleh seorang Adikku)
Hari ini tidak hujan, tapi hela napas ini masih belum melupakan segaris senyum indah itu...
Hari ini tidak hujan, dan hari ini aku tau tidak akan ada seberkas kasih yg terlontar dari bibir itu, aku mulai kaku melunglai karena semuanya terjadi kembali, ya, saat ini, tanah kering itu gambaran dari apa yg ada dalam titik pikiran jahatku, membuangku lebih jauh dalam pembodohan dengan keadaan dalam titian papan kecil diatas jurang dalam, mematahkan semua keniscayaanku pada sebuah cerita cinta kasih yg sempurna...
Kali ini tidak hujan, tapi tetap menjadi hitam karena sebuah kegalauan yg gaduh riuh mengisi jurang2 hati, memenuhi setiap lekukan kedalaman itu dengan begitu keras, sisi2nya sudah hampir rubuuh tak mampu menahan semuanya, sepertinya sudah dalam keadaan koma, mungkin sekarat, adakah yang akan membangunnya kembali nanti atau mampukah aku membiarkan manusia lain menyusun kembali puing2 itu...
Aku sudah tak mampu lagi berkata, semua kata sudah kutukarkan dengan beberapa hati untuk mengganti hati yg lama, demi sebuah cerita yg selalu saja sama akhirnya dan akulah yg terakir menelan pahitnya kebodohanku itu....
Kali ini tidak hujan, tapi tetap menjadi hitam karena sebuah kegalauan yg gaduh riuh mengisi jurang2 hati, memenuhi setiap lekukan kedalaman itu dengan begitu keras, sisi2nya sudah hampir rubuuh tak mampu menahan semuanya, sepertinya sudah dalam keadaan koma, mungkin sekarat, adakah yang akan membangunnya kembali nanti atau mampukah aku membiarkan manusia lain menyusun kembali puing2 itu...
Aku sudah tak mampu lagi berkata, semua kata sudah kutukarkan dengan beberapa hati untuk mengganti hati yg lama, demi sebuah cerita yg selalu saja sama akhirnya dan akulah yg terakir menelan pahitnya kebodohanku itu....
0 Comments:
Post a Comment
Yang punya nama, kasih nama donk woe!!!