Sore ini, sebuah arti dari kenangan kutemui kembali, di rumah sederhana hasil jerih payah ayahku, di teras rumah dimana aku dibesarkan yang mungkin sudah lebih tujuh tahun yang lalu aku tinggalkan, sesekali masih berkunjung, sekedarnya, tak beberapa lama, sore ini berbeda.
Teras yang menghadap timur dimana matahari menampakkan sinarnya dipagi hari, aku terduduk menatap maha karya sang pencipta ditemani ibuku, bercerita tentang masa depanku, tentang apa yang ingin kulakukan, tentang apa yang ingin kuraih, kuyakinkan ibuku bahwa anaknya ini ingin sekali menjadi seseorang yang mampu membahagiakannya meski tak akan dapat mengganti semua jasa mereka berdua yang telah menjadikanku seorang aku yang sampai saat ini masih berdiri diatas bumi ini dengan tegak. Angin sore seolah mengerti suasana ini, menghembuskan pelan semilir udara senja dimana langit timur tersinari jingga matahari yang nampak begitu indah, sedikit awan - awan tipis menyelimuti biru langit timur yang sedang menjadi sebuah lukisan indah dimataku, kualihkan mataku kearah wanita terhebat yang pernah kumiliki seumur hidupku, ibuku, tatapannya kosong menatap langit senja timur mendengarkan anaknya bercerita tentang keinginan - keinginannya, sedikit membasah dengan air yang tak akan kubiarkan menetes dari sela - sela mata yang setia mengawasiku semenjak aku terlahir kedunia sampai saat ini.
Entah apa yang ibuku pikirkan, tak juga tuturnya yang mendinginkan gejolak - gejolak amarah dan egoisme mudaku mengucapkan patahan - patahan kata yang selalu membuatku tersenyum kecil dan hampir saja melelehkan genangan air dalam mata ini. Ah sudah musim rambutan ternyata, kupetik beberapa rambutan dari halaman rumah ayahku ini, aku ingat betul pohon ini sudah ada semenjak aku masih sering bermain dihalaman ini, saat aku masih takut akan hujan dan mendung yang hitam tebal berbeda dengan saat ini aku yang sangat mengagumi pekat mendung temaram dan yang akan mendatangkan hujan. Tak sengaja kuingat lagi masa itu, saat ayahku belum pulang dari tanggungjawab yang diberikan kepadanya, aku hanya bertiga dirumah itu, aku, ibu dan kakakku, disaat hitam mendung menutupi birunya langit sore seperti ini, lebih pekat dan lebih menakutkan, kakakku masih sibuk menghitung kelerengnya ditemani lampu minyak, jangan tanyakan listrik saat itu, masih belum menjangkau daerah yang kuhapal semua jalan dan tempatnya itu, kakakku yang sudah lebih mengerti akan keadaan ini menjadikannya acuh pada apa yg aku takutkan, aku terduduk dipojok rumah memandangi kakak yang sangat kubanggakan atas kesediaannya melindungi dan mangajakku kemanapun dia pergi bermain bersama teman - temannya, tangisku semakin tak tertahankan saat gemuruh suara petir menggema dilangit, kakakku yang masih sedikit lebih besar dariku menutup telinganya saat kilat terlihat seperti lampu blitz yang sering dipakai ayahku untuk mengabadikan gambar diriku, aku menutup mata seraya menangis sejadi - jadinya saat hujan lebat dan angin yang sangat tidak bersahabat itu mulai ada, dan ibuku berlari menghampiriku seakan tau apa yang akan aku lakukan disaat - saat seperti ini, direngkuhnya aku dalam pelukan penuh kasihnya sembari berkata "Ibu disini" yang sedikit menenangkan aku dari tangisku, dengan tergugup kutanyakan padanya "Ayah bagaimana ibu?" dijawabnya penuh dengan kehangatan "Ayah akan baik - baik saja", kehangatan yang mungkin tidak aku hiraukan saat itu, tapi bagiku yang saat ini adalah sebuah anugrah, ibuku terus memelukku sampai saat ayahku pulang dari kewajibannya dan saat - saat itu dipenuhi tawa kakakku yang melontarkan ejekan - ejekannya padaku yang membuat seisi rumah tertawa, ditanyakan ayahku pada ibuku apa yang telah terjadi, diceritakan ibuku pada ayahku semua apa yang terjadi dan apa yang aku lakukan bersama kakakku satu hari itu, dengan senyumnya yang menyejukkan itu ayahku mengusap kepalaku seraya mengucapkan kata yang sangat aku benci "Anak cengeng..." .
Segera saja kutepis pikiran ini yang berjalan - jalan kembali ke masa - masa kecil penuh cerita agar tak kuteteskan airmata syukur ini dihadapan ibuku sore ini yang akan membuatnya kebingungan dan bertanya - tanya apa yang terjadi yang sangat pasti aku tau ibuku juga akan menitikkan airmata yang tak kurelakan untuk terjatuh karena mengkhawatirkanku, dengan nada malas kukatakan pada ibuku untuk segera menjemput adik kesayanganku yang masih belajar mamahami ayat - ayat suci, kuantarkan sampai ke gerbang rumah seseorang dimana adikku belajar membaca ayat - ayat itu dan sekali lagi dengan rasa berat hati aku pamit untuk mengejar mimpi - mimpiku lagi.
Untukmu Ayah dan Ibuku, aku masih anakmu yang seperti dulu, hanya saja anakmu yang saat ini ingin lebih mampu menggali sebuah potensi diri untuk membuat Ayah dan Ibu bangga saat menyebutku "Itu anakku" dan terimakasih untuk semua yang aku rasakan selama ini, maafkan semua ketidak patuhan dan kelakuanku yang membuatmu sangat tidak berkenan.
Teras yang menghadap timur dimana matahari menampakkan sinarnya dipagi hari, aku terduduk menatap maha karya sang pencipta ditemani ibuku, bercerita tentang masa depanku, tentang apa yang ingin kulakukan, tentang apa yang ingin kuraih, kuyakinkan ibuku bahwa anaknya ini ingin sekali menjadi seseorang yang mampu membahagiakannya meski tak akan dapat mengganti semua jasa mereka berdua yang telah menjadikanku seorang aku yang sampai saat ini masih berdiri diatas bumi ini dengan tegak. Angin sore seolah mengerti suasana ini, menghembuskan pelan semilir udara senja dimana langit timur tersinari jingga matahari yang nampak begitu indah, sedikit awan - awan tipis menyelimuti biru langit timur yang sedang menjadi sebuah lukisan indah dimataku, kualihkan mataku kearah wanita terhebat yang pernah kumiliki seumur hidupku, ibuku, tatapannya kosong menatap langit senja timur mendengarkan anaknya bercerita tentang keinginan - keinginannya, sedikit membasah dengan air yang tak akan kubiarkan menetes dari sela - sela mata yang setia mengawasiku semenjak aku terlahir kedunia sampai saat ini.
Entah apa yang ibuku pikirkan, tak juga tuturnya yang mendinginkan gejolak - gejolak amarah dan egoisme mudaku mengucapkan patahan - patahan kata yang selalu membuatku tersenyum kecil dan hampir saja melelehkan genangan air dalam mata ini. Ah sudah musim rambutan ternyata, kupetik beberapa rambutan dari halaman rumah ayahku ini, aku ingat betul pohon ini sudah ada semenjak aku masih sering bermain dihalaman ini, saat aku masih takut akan hujan dan mendung yang hitam tebal berbeda dengan saat ini aku yang sangat mengagumi pekat mendung temaram dan yang akan mendatangkan hujan. Tak sengaja kuingat lagi masa itu, saat ayahku belum pulang dari tanggungjawab yang diberikan kepadanya, aku hanya bertiga dirumah itu, aku, ibu dan kakakku, disaat hitam mendung menutupi birunya langit sore seperti ini, lebih pekat dan lebih menakutkan, kakakku masih sibuk menghitung kelerengnya ditemani lampu minyak, jangan tanyakan listrik saat itu, masih belum menjangkau daerah yang kuhapal semua jalan dan tempatnya itu, kakakku yang sudah lebih mengerti akan keadaan ini menjadikannya acuh pada apa yg aku takutkan, aku terduduk dipojok rumah memandangi kakak yang sangat kubanggakan atas kesediaannya melindungi dan mangajakku kemanapun dia pergi bermain bersama teman - temannya, tangisku semakin tak tertahankan saat gemuruh suara petir menggema dilangit, kakakku yang masih sedikit lebih besar dariku menutup telinganya saat kilat terlihat seperti lampu blitz yang sering dipakai ayahku untuk mengabadikan gambar diriku, aku menutup mata seraya menangis sejadi - jadinya saat hujan lebat dan angin yang sangat tidak bersahabat itu mulai ada, dan ibuku berlari menghampiriku seakan tau apa yang akan aku lakukan disaat - saat seperti ini, direngkuhnya aku dalam pelukan penuh kasihnya sembari berkata "Ibu disini" yang sedikit menenangkan aku dari tangisku, dengan tergugup kutanyakan padanya "Ayah bagaimana ibu?" dijawabnya penuh dengan kehangatan "Ayah akan baik - baik saja", kehangatan yang mungkin tidak aku hiraukan saat itu, tapi bagiku yang saat ini adalah sebuah anugrah, ibuku terus memelukku sampai saat ayahku pulang dari kewajibannya dan saat - saat itu dipenuhi tawa kakakku yang melontarkan ejekan - ejekannya padaku yang membuat seisi rumah tertawa, ditanyakan ayahku pada ibuku apa yang telah terjadi, diceritakan ibuku pada ayahku semua apa yang terjadi dan apa yang aku lakukan bersama kakakku satu hari itu, dengan senyumnya yang menyejukkan itu ayahku mengusap kepalaku seraya mengucapkan kata yang sangat aku benci "Anak cengeng..." .
Segera saja kutepis pikiran ini yang berjalan - jalan kembali ke masa - masa kecil penuh cerita agar tak kuteteskan airmata syukur ini dihadapan ibuku sore ini yang akan membuatnya kebingungan dan bertanya - tanya apa yang terjadi yang sangat pasti aku tau ibuku juga akan menitikkan airmata yang tak kurelakan untuk terjatuh karena mengkhawatirkanku, dengan nada malas kukatakan pada ibuku untuk segera menjemput adik kesayanganku yang masih belajar mamahami ayat - ayat suci, kuantarkan sampai ke gerbang rumah seseorang dimana adikku belajar membaca ayat - ayat itu dan sekali lagi dengan rasa berat hati aku pamit untuk mengejar mimpi - mimpiku lagi.
Untukmu Ayah dan Ibuku, aku masih anakmu yang seperti dulu, hanya saja anakmu yang saat ini ingin lebih mampu menggali sebuah potensi diri untuk membuat Ayah dan Ibu bangga saat menyebutku "Itu anakku" dan terimakasih untuk semua yang aku rasakan selama ini, maafkan semua ketidak patuhan dan kelakuanku yang membuatmu sangat tidak berkenan.
keren ya bro.... salam ya buat orang tuanya.... :)
ReplyDeleteMakasih bro... :D
ReplyDelete