Berdiri diantara gelap dan terang, diantara dingin dan panas, sekelebat sketsa diantara langit temaram, oh, apa itu? Apakah itu hantu? Bukan, itu bukan hantu, hanya awan berwarna abu-abu... Ini bukan puisi, hanya sekedar senandung untuk malam yang masih menjagaku. Ah, aku resah... Aku malas pulang, aku masih begadang karena sandalku diambil orang, dasar manusia jalang... Teman setiaku sudah habis terbakar, jikapun kucari lagi dengan apa aku akan membayar? Ah, Tuhan... Aku hanya mampu terkapar menahan lapar...
Ada laba-laba hitam menyulam sarang diantara tembok belang, malaikat bertanya, sedang apa disini? Menanti fajar jawabku... Aku lari ke hutan, bertemu ikan Hiu. Aku lari ke laut, bertemu macan, dunia macam apa ini? Semuanya terbalik, ataukah aku harus lari kelaut belok ke hutan? Tapi disana ada jurang...
Oh, dini hari yang usang... Lihat itu belalang tua diujung daun, warnanya kuning kecoklat-coklatan, kakinya berjumlah enam, dua didepan empat dibelakang, dan lihat, ada kumbang dan berang-berang, mustahil itu kenyataan.
Kemana mata ini akan memandang? Nanti disaat hari mulai terang, saat para keledai keluar kandang, siapakah yang akan datang menantang? Menghunus pedang, memulai perang. Oh siang...
Sudah... Fajar mulai datang, sepertinya memang aku harus pulang... trararatang...
stres..
ReplyDelete@Anonymous :P
ReplyDelete