Persimpangan penuh makna

Masih saja kuingat saat dimana kau membagi kegalauan hatimu itu padaku, saat dimana orang yang kau kasihi sedang dilamar oleh seseorang yang entah kita juga tidak mengenalnya, ditempat itu, tempat biasa kita menghabiskan malam-malam panjang dengan sedikit keseriusan dan saat itu berbeda, penuh dengan nada memelas yang serius, "Sudah biarkan saja" kataku, dengan gitar yang masih terpetik menjadikan sebuah nada acak yang sungguh tidak nyaman didengar, "Tidak mungkin, selama ini apa yang kurang dariku?" jawabmu dan pertanyaan bodohmu itu, sudah jelas kalimat yang menyakitkan yang keluar dari mulutku yang mulai asam kehabisan rokok karena menemanimu merenungi sebuah kebodohanmu sendir, "Sudah jelas, kurang mengungkapkannya, bagaimana mungkin dia tahu kalau kau menyayanginya seperti ini jika hanya dengan bahasa isyarat goblokmu itu?", "Sudahlah, sekarang kuturuti kau menyanyikan lagu kesukaanmu yang membuatku pusing mendengarnya, untuk melampiaskan sebuah perasaan sesal itu." dengan bodohnya kutawarkan untuk mengiringi lagu-lagu favoritnya yang sudah jelas akan membuatku tertawa terbahak-bahak dan hampir mati lemas mendengarkannya, "Jangan sekarang, nyanyikan saja lagu-lagu tidak jelas kesukaanmu yang kau bilang tidak akan membuatmu berlarut dalam sebuah kedukaan sepertiku" jawabnya mantap, jarang sekali dia menyetujuiku menyanyikan lagu kasar ditelinga manusia pendayu seperti sahabatku ini, "Yang benar saja, aku yakin telingamu tidak cukup mampu menikmati musik-musikku yang kau bilang seperti suara geledek itu." Sanggahku yang sebenarnya sedang malas memetik gitar karena perutku mulai tidak bersahabat, "Ah kau benar, mari nyanyikan lagu kebangsaanku" katanya, "Oh tidak" batinku "Sudahlah, biar aku hidupkan suasana yang sedang temaram kaku bisu bodoh ini." Sambil kulihat senyum yang menjijikkan itu lagi terpasang rapi di bibir manusia basi nan bodoh ini.


Mulai kupetik pelan lagu kesayanganku yang memang sedikit lembut itu, "If this world is wearing thin... And you're thinking of escape... I'll go anywhere with you... Just wrap me up in chains... But if you try to go alone... Don't think I'll understan..." Baru saja aku mulai bersemangat untuk melanjutkannya, celetuk bodoh dari orang bodoh menghentikanku "Aku punya ide, bagaimana kalau kita kesana besok dan aku akan mengatakan semua perasaan ini padanya?", "Ah sudah mulai gila sahabatku ini" dalam hatiku, seperti biasanya dengan bahasa sehari-hariku dengannya "Goblog, telat!" sambil menempatkan tangan ini ke kepala orang gila yang sedah mulai tersadar ini. "Wah, iya" gumamnya polos.


Hari semakin pagi dan jam yang terpasang di dinding sudah menunjukkan pukul 4 pagi, sudah banyak orang lalu lalang untuk mencari nafkahnya di pasar ini, sudah mulai banyak ibu-ibu menghidupkan lagi lampu-lampu rumah yang semalam aku lihat dipadamkan, Sahabatku yang masih betah dengan pose tidurannya itu belum juga mengajak untuk kembali pulang kerumah, tanpa menghiraukan kalau hari ini kami harus masih pergi kesekolah dan sudah kutebak dengan benar ujung dari semua ini, "Bolos lagi kita?!" Katanya setengah memaksa "Kita ke gunung saja, menghirup segarnya udara bersama asap rokok." kata-kata yang bodoh dan sangat tidak berhubungan keluar lagi, "Terserahlah, yang penting kita pulang dulu sekarang" kataku malas beranjak karena lelah dan kantuk yang sangat menyiksa "Aku ikut, kita nge-teh dulu dan makan gorengan buatan ibumu." dengan sedikit nada candanya yang semalam hilang itu, kalimat ini yang membuatku semakin tidak mampu mengantar kaki ini berjalan pulang karena akan ada dua jam setengah yang melelahkan lagi dengan sahabat yang sedang tidak seperti biasanya.


Benar saja, setengah tuju dia baru pulang, sehabis mandi dan sarapan seadanya karena jam sudah tidak mau menunggu lama, aku masih setia di depan rumah yang juga warung milik ibuku menanti seorang sahabat paling gila, kupalingkan pandangan ini kearah utara yang seperti mempunyai indra keenam akan datang orang gila dari arah sana, benar saja, datanglah orang gila dengan motornya dan seyum setan itu disusul pandangan orang-orang penuh curiga, dalam hati mereka pasti berkata "Anak sekolah sudah jam delapan masih belum berangkat, anak macam apa itu?" dan karena orang gila ini aku harus berbohong pada ibuku tercinta bahwa aku masuk jam 9 hari itu.
Share:

23 Tahun yang lalu

Aku terlahir dari seorang ibu yang sangat mengagumkan, menahan seluruh rasa sakitnya untuk membiarkan aku menginjak tanah bumi ini, menjadikan segala energinya sebuah kekuatan untuk membawaku kemanapun ia pergi selama sembilan bulan lebih, mengasihi setiap gerakan-gerakan yang sungguh sangat tidak bisa kubayagkan saat-saat itu.

23 Tahun yang lalu, akulah manusia yg sangat berbahagia terlahir dari seorang ibu yang selalu setia menasehati dengan sedikit kata-kata, 23 tahun yang lalu, aku menjadi sebuah manusia yang akan selalu merasa beruntung memiliki orag tua yag senantiasa memperhatikanku. Januari 6, kugenggam erat janji sang maha pati, dan selama 23 tahun ini aku tau banyak janji yang teringkari, aku mohonkan pengampunan untuk mereka, kedua orang tua yag sudah bersusah payah 23 tahun ini, aku mohon kasihi mereka dengan seluruh kasihmu Tuhan.
Share:

Jalan antara Maya dan Nyata

Aku tau siapa aku, tidak perlu kesadaran tingkat tinggi untuk mengetahui hal itu, dari apa yang aku tau, itulah aku. Yang aku tau... bukanlah seperti apa yang kalian ingin tau...
@ November 16 at 7:59pm
Today is December 27

Aku bukan manusia cerdas, pandai dan sebagainya, aku bukan juga manusia berharta seperti dirimu saat ini, tapi aku benar2 yakin jika aku masih lebih punya otak untuk sedikit berpikir mana benar dan mana yang salah untuk dilakukan, tidak sepertimu yg sepertinya tidak mampu memikirkan salah benar, dan lalu menyalahkan keadaan.
@ November 17 at 3:09pm
Today is December 27

Hari ini hujan lagi... tak seperti kemarin, hujan kali ini sangat menakutkan aku, tak seperti biasanya aku yang suka dengan kegelapan dan kesunyian, kali ini ada perasaan lain saat kutatap dalam2 gelap mendung itu, sedikit rasa pedih dan begitu banyak kesedihan disana di mendung itu, di air yg jatuh itu kurasakan betap...a tersiksanya tetesan itu seperti mengaduh keras ditelingaku.
@ November 18 at 12:42pm
Today is December 27

Siang ini jalan didepan berkabut lagi, dingin yg menusuk pori2 dengan angin yg begitu lembut menjamah setiap bagian dirini dan aku berfikir.... bulan inikah yg membikin dingin....
@ November 19 at 1:24am
Today is December 27

Kepedihan hidupmu adalah topeng dari kebahagiaan yg belum terlepas dari tempatnya, suatu saat kau akan mengerti apa arti penderitaan itu jika kebhagiaan mulai membuka topeng kepedihan itu.
@ November 20 at 6:07am
Today is December 27

Apa dan siapa kita itu seharusnya tidak menjadi masalah, tapi akan menjadi suatu masalah yang sangat rumit jika sudah dihubungkan dengan keduniawian.
@ November 20 at 6:40pm
Today is December 27


Satu kisah pilu dalam sebuah anyaman kehidupan diamana satu manusia dengan nama "Aku" sebagai pemeran utama, semuanya seperti drama dengan cerita yang terlalu dramastis membuatnya terlalu memuakkan untuk diceritakan.
@ November 22 at 6:01pm
Today is December 27

Bukan saatnya untuk merangkak, saatnya kita berlari, saatnya untuk kita meraih sebuah mimpi kisah kehidupan...
@ November 25 at 2:52pm
Today is December 27

Tidak perlu menjadi manusia munafik untuk mendapatkan kebahagiaan2, meski kecil, tapi semua itu abadi.
@ November 29 at 6:15pm
Today is December 27

Diam dalam pekat embun membuatku semakin terperosok dalam pikiran-pikiranku, sayu angin menyeruak kedalam telinga terasa seperti lagu hitam kesukaanku, senyapnya kegelapan membawa aroma tanah yang membasah tertimpa hujan yang masih menyisakan titik-titik air gerimis yang terlihat indah memantulkan cahaya bulan.
@ November 29 at 9:00pm
Today is December 27

Aku akan datang saat kau terpuruk, dan maaf aku akan menghilang saat kau merasa menang.
@ December 2 at 6:55pm
Today is December 27

Memasuki alam kisi-kisi bumi dalam kerangka langit, menguak sebuah misteri kedangkalan...
@ December 4 at 12:49pm
Today is December 27

Seventh hours ago, seven way to heaven has been opened, seventh hours to come, seven way to hell call you to enter in, only seventh to seven.
@ December 4 at 5:38pm
Today is December 27

Mencoba merubah gemerlap cahaya siang menjadi sebuah cahaya malam yang temaram, membuat sebuah kedamaian yang tak akan terdapati dalam silaunya siang...
@ December 6 at 11:11pm
Today is December 27

Seorang sahabat dan atau adikku mengharapkan sebuah kesempatan lagi, mengiba, betapa tak berdayanya aku untuk membelanya, untukmu yang merasa, aku hanya ingin katakan sudahlah, kehidupan masih bisa dan harus berjalan meski tanpanya, tunjukkan padanya, suatu saat dia akan menyesal telah meninggalkanmu, masih ada aku disini, masih ada sahabat2 lain disini.
@ December 8 at 12:31pm
Today is December 27

Aku merasa berada diantara mayat - mayat hidup yang hanya mampu berdiri diantara kenangan2 masalalu tanpa mampu mengambil apa yg bisa untuk menghadapi masa depan, iya, kamu, mayat hidup itu, tidak perlu meratapi semua itu, cukup jadikan sebuah perjalanan lalu, berdiri!!! Bangkit dari kekalahanmu, Lalu berlarilah mengejar sesuatu yg sempat hilang!!!
@ December 9 at 10:40pm
Today is December 27

Busuk membusuk, diantara pahitnya pelepah kehidupan mencari setetes madu beracun untuk menghilangkan dahaga jiwa, bodoh kawan, bukan itu seharusnya yang sekarang kau lakukan!!!!
@ December 10 at 7:27pm
Today is December 27
Sekali lagi, kau merasa paling tinggi, kau lupa jika daun akan kembali pada akarnya....
@ December 11 at 12:38pm
Today is December 27

Diriku masih milikku, belum dan bukan milikmu, biarkan kehidupanku berjalan tanpa aturanmu, atur saja kehidupanmu yang lebih kacau daripada kehidupanku meski dirimu dalam keadaan lebih mudah tapi bukan berarti kehidupanmu berada tepat pada jalan yg tepat.
@ December 13 at 4:45pm
Today is December 27

Benci hanylah sebuah kata ungkapan untuk menjelaskan ketidak sukaan, dan aku tidak suka hari ini....
@ December 19 at 8:18pm
Today is December 27

Aku tidak melihat keburukanmu sebagai keburukan, hanya melihatnya sebagai kekhilafan, tapi saat ini aku sudah tak mengerti mengapa ada pemikiran konyol ini lagi, dan ini tak mengubah apapun dalam kehidupanku, jadi selamat menikmati apapun yang kamu inginkan karena aku tidak akan ada dalam cerita kehidupan itu lagi.
@ Wed at 6:13pm
Today is December 27

Ciptakan kesenangan kita sendiri meski dengan kesederhanaan, cukup untuk menghilangkan rasa penat seharian ini.
@ Thu at 4:57pm
Today is December 27

Hai.. kamu yg ada disana, mari kemarilah untuk sekedar menari dan bernyanyi atau duduk bercerita ditemani sepiala air kehidupan dan asap jika kamu suka, jangan tanyakan roti padaku, aku pun lapar.
@ Thu at 8:18pm
Today is December 27

Wangi tanah ini mengajakku kembali untuk meregang webuah pemikiran untuk memasukkan nama baru didalamnya....
@ Yesterday at 10:19pm
Today is December 27

Aku bukan malaikat, aku hanya iblis kecil yg mecoba terbang dengan sayap angsa....
@ 10 hours ago

Today is December 27
Share:

Sore itu 19 Tahun yang lalu

Sore ini, sebuah arti dari kenangan kutemui kembali, di rumah sederhana hasil jerih payah ayahku, di teras rumah dimana aku dibesarkan yang mungkin sudah lebih tujuh tahun yang lalu aku tinggalkan, sesekali masih berkunjung, sekedarnya, tak beberapa lama, sore ini berbeda.


Teras yang menghadap timur dimana matahari menampakkan sinarnya dipagi hari, aku terduduk menatap maha karya sang pencipta ditemani ibuku, bercerita tentang masa depanku, tentang apa yang ingin kulakukan, tentang apa yang ingin kuraih, kuyakinkan ibuku bahwa anaknya ini ingin sekali menjadi seseorang yang mampu membahagiakannya meski tak akan dapat mengganti semua jasa mereka berdua yang telah menjadikanku seorang aku yang sampai saat ini masih berdiri diatas bumi ini dengan tegak. Angin sore seolah mengerti suasana ini, menghembuskan pelan semilir udara senja dimana langit timur tersinari jingga matahari yang nampak begitu indah, sedikit awan - awan tipis menyelimuti biru langit timur yang sedang menjadi sebuah lukisan indah dimataku, kualihkan mataku kearah wanita terhebat yang pernah kumiliki seumur hidupku, ibuku, tatapannya kosong menatap langit senja timur mendengarkan anaknya bercerita tentang keinginan - keinginannya, sedikit membasah dengan air yang tak akan kubiarkan menetes dari sela - sela mata yang setia mengawasiku semenjak aku terlahir kedunia sampai saat ini.


Entah apa yang ibuku pikirkan, tak juga tuturnya yang mendinginkan gejolak - gejolak amarah dan egoisme mudaku mengucapkan patahan - patahan kata yang selalu membuatku tersenyum kecil dan hampir saja melelehkan genangan air dalam mata ini. Ah sudah musim rambutan ternyata, kupetik beberapa rambutan dari halaman rumah ayahku ini, aku ingat betul pohon ini sudah ada semenjak aku masih sering bermain dihalaman ini, saat aku masih takut akan hujan dan mendung yang hitam tebal berbeda dengan saat ini aku yang sangat mengagumi pekat mendung temaram dan yang akan mendatangkan hujan. Tak sengaja kuingat lagi masa itu, saat ayahku belum pulang dari tanggungjawab yang diberikan kepadanya, aku hanya bertiga dirumah itu, aku, ibu dan kakakku, disaat hitam mendung menutupi birunya langit sore seperti ini, lebih pekat dan lebih menakutkan, kakakku masih sibuk menghitung kelerengnya ditemani lampu minyak, jangan tanyakan listrik saat itu, masih belum menjangkau daerah yang kuhapal semua jalan dan tempatnya itu, kakakku yang sudah lebih mengerti akan keadaan ini menjadikannya acuh pada apa yg aku takutkan, aku terduduk dipojok rumah memandangi kakak yang sangat kubanggakan atas kesediaannya melindungi dan mangajakku kemanapun dia pergi bermain bersama teman - temannya, tangisku semakin tak tertahankan saat gemuruh suara petir menggema dilangit, kakakku yang masih sedikit lebih besar dariku menutup telinganya saat kilat terlihat seperti lampu blitz yang sering dipakai ayahku untuk mengabadikan gambar diriku, aku menutup mata seraya menangis sejadi - jadinya saat hujan lebat dan angin yang sangat tidak bersahabat itu mulai ada, dan ibuku berlari menghampiriku seakan tau apa yang akan aku lakukan disaat - saat seperti ini, direngkuhnya aku dalam pelukan penuh kasihnya sembari berkata "Ibu disini" yang sedikit menenangkan aku dari tangisku, dengan tergugup kutanyakan padanya "Ayah bagaimana ibu?" dijawabnya penuh dengan kehangatan "Ayah akan baik - baik saja", kehangatan yang mungkin tidak aku hiraukan saat itu, tapi bagiku yang saat ini adalah sebuah anugrah, ibuku terus memelukku sampai saat ayahku pulang dari kewajibannya dan saat - saat itu dipenuhi tawa kakakku yang melontarkan ejekan - ejekannya padaku yang membuat seisi rumah tertawa, ditanyakan ayahku pada ibuku apa yang telah terjadi, diceritakan ibuku pada ayahku semua apa yang terjadi dan apa yang aku lakukan bersama kakakku satu hari itu, dengan senyumnya yang menyejukkan itu ayahku mengusap kepalaku seraya mengucapkan kata yang sangat aku benci "Anak cengeng..." .


Segera saja kutepis pikiran ini yang berjalan - jalan kembali ke masa - masa kecil penuh cerita agar tak kuteteskan airmata syukur ini dihadapan ibuku sore ini yang akan membuatnya kebingungan dan bertanya - tanya apa yang terjadi yang sangat pasti aku tau ibuku juga akan menitikkan airmata yang tak kurelakan untuk terjatuh karena mengkhawatirkanku, dengan nada malas kukatakan pada ibuku untuk segera menjemput adik kesayanganku yang masih belajar mamahami ayat - ayat suci, kuantarkan sampai ke gerbang rumah seseorang dimana adikku belajar membaca ayat - ayat itu dan sekali lagi dengan rasa berat hati aku pamit untuk mengejar mimpi - mimpiku lagi.


Untukmu Ayah dan Ibuku, aku masih anakmu yang seperti dulu, hanya saja anakmu yang saat ini ingin lebih mampu menggali sebuah potensi diri untuk membuat Ayah dan Ibu bangga saat menyebutku "Itu anakku" dan terimakasih untuk semua yang aku rasakan selama ini, maafkan semua ketidak patuhan dan kelakuanku yang membuatmu sangat tidak berkenan.
Share:

Mencintai Masalalu

Melupakannya adalah suatu kesalahan, masalalu yang membuat kita menjadi saat ini bukan masa depan, dan saat ini adalah masalalu dari masa depan, mencintai masalalu tak semudah mencintai masa ini dan yang akan datang, bukan untuk berlarut-larut dalam sebuah kesedihan atau kebahagiaan masalau, bukan juga untuk tetap tinggal dalam masa itu, cintai masalalu agar kita mengerti apa yang akan kita lakukan dimasa yang akan datang, cintai masalalu untuk menjadikanmu ikhlas dalam menjalani hari ini ataupun esok.


Bukan sekedar mencintai tapi juga pahami dan pelajari, terkadang manusia dengan bodohnya mengulangi kesalahan-kesalahan fatal yang pernah dilakukannya dimasalalu, karena mereka terkadang terlalu bodoh dengan mengatakan "Tidak perlu mengungkit Masalalu" sedangkan buku tak hanya harus ditulis tapi juga dibaca, saat kita lupa, kita tidak akan menuliskannya pada lembar kosong, kita tetap akan membuka halaman lama buku itu karena memang semua pernah kita tulis disana.


Jika manusia menganggap masalalu adalah sekedar masalalu dan bukan pelajaran, manusia-manusia seperti inilah yang sangat tidak mampu mengendalikan pikirannya, dan percayalah, mereka yang menjadikan masalalu itu tiada adalah sampah-sampah yang tidak patut bercengkrama dengan debu.



Share:

Unconnected

Sebuah kelembutan jiwa, hati dan nurani, perasaan itu, rasa itu anugerah yang disebut sebagai Cinta, terkadang menyakitkan dan terkadang sangat membahagiakan, rasa itu sebuah keadaan diamana saat manusia menjadikan sesuatu yang buruk menjadi indah, dimana semua pelik menjadi mudah, dan itulah Cinta.


Cinta adalah keikhlasan, keikhlasan menerima keadaan dengan apa adanya, menerima sesuatu yang sangat sulit dimengerti, menjalani perih dengan kesenangan-kesenangan, seperti menyusuri jalan penuh duri aral dengan menari-nari, meski terluka dan berdarah tetapi cinta seharusnya mampu menjadi benang-benang fibrin yang akan menyembuhkan luka-luka itu, cinta bukan sekedar rasa ingin memiliki, cinta adalah sesuatu yang berbeda, sulit dimengerti seperti bulan yang tak mengerti kenapa dia harus selalu mengitari bumi, tetap ada alasan dari semua itu, hanya saja mungkin kita belum mampu melihat dengan mata yang berbeda.


Saat cinta ada dalam hatimu, detak jantung itu akan menyepat tak tentu, membuat kegalauan yang entah apa alasannya, saat cinta itu ada dalam hati dan dihadapanmu kau akan merasa sangat tenang.


Setiap manusia pernah memiliki cinta yang pertama, seperti Gibran yang mencintai sesorang untuk pertama kalinya, Salma cinta pertama Gibran, akhir dari kisah itu sangat menyedihkan. Bukan hanya Gibran, akupun mempunyai seseorang yang membuatku bagaikan seorang bajak laut yang terdampar disebuah pulau penuh emas untuk pertama kalinya, dia manusia yang sampai saat ini masih membuat hatiku berdegup kencang tak menentu saat menatap dalam-dalam matanya, membuat tulang-tulangku melunglai lemas, membuatku bergetar hebat, dan membuatku terlihat bodoh dengan tingkahku yang sangat tidak seperti diriku yang biasanya, dialah wanita pertama yang mampu membuatku mencairkan airmata yang sangat beku, dia wanita pertama yang mampu membuatku tertegun terkagum atas keindahan-keindahan dirinya, wanita pertama yang mampu membuatku mersakan hangatnya sebuah senyuman, dia yang sampai saat ini masih saja bermain-main dalam pikiran ini menyisakan sedikit harapan palsu ciptaanku sendiri. Dia, V.A.W Wanita yang sungguh sangat membuatku kehilangan kendali atas pikiran dan tingkahku.


Sepenggal kisah ini mengingatkanku akan Gibran yang kehilangan Salmanya, aku masih ingat semua itu, saat dimana aku masih sering mengunjunginya di hari sabtu sore, aku manusia yang menghormati keadaan, aku tidak ingin mengunjunginya di sabtu malam untuk menghindari cibiran orang padanya dan atau keluarganya, aku ingin dia sempurna dimana saja seperti sesempurna dia dimataku, senyum yang selalu kurindukan itu masih keluar seminggu sebelumnya, tapi tidak untuk satu sabtu sore setelah seminggu yang lalu, matanya yang membuatku melihat dunia lebih indah terlihat sayu penuh dengan pantulan cahaya seperti sebuah telaga yang setiap saat beriak tersapu angin, wajahnya yang ayu itu terlihat mendung dengan sedikit ketakutannya atas kedatanganku, tanyaku dalam hati "ada apa dengan bulan purnamaku ini?" pertanyaan yang sangat menggaguku untuk mengagumi keindahan yang sungguh sangat tak tergantikan itu, tak seperti biasanya, dia terdiam mematung terkadang memalingkan mukanya dariku untuk menghapus air yang keluar pelan dari sudut-sudut matanya, sesekali mengisak, membuatku terdiam tak mengerti apa yang sedang terjadi padanya bulan purnamaku, sedikit kalimatku mencoba untuk membuat suasana mencair ternyata masih saja tidak mampu membuatnya mengangkat kalimat-kalimat yang sering kudengar darinya, sebelum matahari benar-benar tenggelam, aku untuk sekali lagi mencoba bertanya pada seorang kekasih hati yang begitu aku cintai, "Ada apa sebenarnya denganmu? Adakah sesuatu dariku yang membuatmu menangis?" tak ada kata yang keluar dari bibir bak kelopak mawar pink yang membuat semua orang ingin menjaganya itu, hanya gelengan kepala membuat rambut panjangnya yang terurai mengikuti gerakan itu seperti gelombang sayu laut yang membiru. Hari hampir gelap namun langit masih saja kemerahan senja, aku masih ingin mengagumi keindahan itu tapi pikiran ini masih saja mengingatkanku untuk segera meninggalkan keindahan ini agar tak ada kata-kata yang menyakiti bulan purnamaku itu, dengan nada malas aku katakan padanya kata yang sangat-sangat aku benci "Aku pulang dulu, dimana Ibumu?" dengan lirih dia katakan "Belum pulang" dalam hatiku berharap dia akan menahanku "Akhirnya dia membuka bibir indah itu, akankah dia mengatakan apa yang sedang terjadi padanya?" tak juga harapan itu terasa nyata dia genggam tanganku yang membuatku semakin melunglai "Nanti aku katakan semuanya padamu, tapi bukan seperti ini, aku terlalu lemah untuk mengatakan hal ini, begini" tanpa ada kata lagi aku mencium kening sang bulan purnamaku itu lalu meninggalkannya dengan penuh rasa galau, ah rasa tak ingin pergi itu lagi.


Perjalanan pulang dari rumah terkasih kali itu sangat menyiksa batin dan pikiran ini, seusai perjalanan menyiksa itu seperti biasanya aku memasuki dunia kesukaanku, kamar hitamku, tak terasa sebuah pesan singkat terkirim dilayar tertera nama yang sangat membuatku terbingar setiap kali nama itu ada, dengan sedikit rasa yang berbeda aku membacanya pelan mencoba mengerti setiap kata dan kalimat yang dia tuliskan.


Aku sudah menyiapkan kalimat-kalimat ini tiga hari yang lalu, hanya saja aku ragu untuk mengirimkannya padamu, kamu tau aku sangat menghormati ayahku, aku sudah pernah mengatakan itu padamu sebelumnya. Aku tidak mau untuk tidak mengikuti perintahnya, mungkin ini akan sangat menyakitkan bagimu begitu juga untukku, empat hari yang lalu ayahku pulang, tak seperti biasanya dia membawa kebahagiaan untukku tapi aku ingin kamu tau empat hari ini aku menangis disetiap malamku, aku tau kamu sangat menyayangiku, tapi kita harus tidak saling memiliki lagi, ayahku menjodohkan aku dengan anak dari seseorang yang pernah menolongnya disana, saat kata itu keluar darinya aku tak mampu melihat dunia dengan baik, aku melemah dan hanya bisa mampu menangis sebisaku, ayahku menyukaimu, tapi ini berbeda, aku sudah memikirkannya dan tiga hari yang lalu aku katakan "Iya" pada ayahku dan dia sangat berterimakasih untuk itu, aku mohon padamu, jangan lagi temui aku bukan karena aku tidak ingin menemuimu, hanya saja aku ingin agar kita tidak saling bersedih, aku tidak ingin melihat wajahmu yang biasanya selalu ceria itu berubah sedih atau marah padaku, hanya itu, terimakasih untuk itu, terimakasih sudah begitu menyayangiku.


Tanpa sadar mata yang selama ini belum bisa mengeluarkan air yang terlalu mahal untuk dikeluarkan oleh seorang laki-laki dari matanya menitik disela-sela celah mata dan tertetes diantara remang lampu biru kamar hitam, di iringi lagu hitam yang biasa menemani setiap malam-malamku, kupejamkan mata ini mencoba menenangkan diri, menyusun kata dalam otak ini, menyusun hati yang tiba-tiba terpeca, aku belum mampu untuk menjawab semua itu.


Keesokan harinya aku mulai menata sebuah kalimat pendek mencoba untuk tegar seperti seorang yang benar-benar kuat "Baiklah, aku tau, Terimakasih untukmu sudah mau menjadi seorang kekasih yang baik, aku ingin kamu ingat, aku masih selalu menyayangimu" dan tak ada jawaban dari pesan ini, memang tidak ada yang perlu dijawb dari pesan singkatku itu. Mulai saat itu aku sudah tak lagi menemui ataupun menghubunginya lagi, hanya tulisan-tulisan dibuku yang entah dimana saat ini untuk mengagumi keindahan bulan purnamaku itu.


Untukmu -bulan purnamaku- jika saja kau baca tulisan ini aku ingin kau tau, aku masih ada dan aku masih melihat semua keindahanmu dalam kenangan-kenanganku atasmu. Terimakasih untukmu telah memberikan begitu banyak cerita dalam kehidupanku.
Share:

Pucuk Pohon Kesabaran

Diam dalam pekat embun tengah malam membuatku semakin terperosok dalam pikiran-pikiranku, sayu angin menyeruak kedalam telinga terasa seperti lagu hitam kesukaanku, senyapnya kegelapan membawa aroma tanah yang membasah tertimpa hujan yang masih menyisakan titik-titik air gerimis yang terlihat indah memantulkan cahaya bulan, kupejamkan mataku untuk kesekian kalinya menapaki kembali jalan-jalan seketsa kehidupan masa yang telah usang dalam catatan otak, tak banyak yang kuingat, begitu susahnya mengenang kembali kesenangan-kesenangan dan kebahagiaan-kebahagiaan jika aku tak ingin memikirkannya, aku berpikir tentang semua kesalahan-kesalahan tentangnya, bukan suatu kesalahan jika aku membiarkan kebodohan itu terjadi karena aku yakin semua bisa berubah, kesalahan ada dalam keyakinanku untuk sebuah perubahan, bodoh.


Setiap jengkal kesalahannya masih tersimpan rapih dalam rongga-rongga hati penuh sesak berdesakan dengan rasa yang masih belum dapat dimengerti antara batin dan pikiran ini, hingga tak ada lagi tempat untuk kesalahan-kesalahan yang sama sampai saat ini, kepercayaan yang dikhianati, kata-kata yang teringkari, kalimat-kalimat laknat yang terurai terberai, apa lagi? terlalu banyak untuk ku tulisakan dalam sebuah luapan amarah tulisan-tulisan berbahasa keji ini.


Bukan untuk menggali kembali sesuatu yang telah terkubur, hanya untuk membiarkan pikiran ini melihat dari mata yang selama ini tertutupi oleh hitamnya asap kebohongan yang dangkal untuk membutakan mata hati. Hela nafas panjangku untuk menikmati harum tanah kehujanan yang selama ini kukagumi, dan mataku mulai terbuka untuk menikmati kegelapan yang masih saja menjadi sebuah kedamaian yang tak tergantikan oleh silau matahari.


Sekali lagi dalam benakku. Langkahnya dalam ketidak pastian membuat sebuah pohon-pohon duniaku mengering, keputusan-keputusan aneh itu lagi, wajah ganas itu lagi dan sebentar lagi muka memelas akan segera datang menghampiri mata fana ini, satu pucuk pohon telah gugur kebumi, sebuah ranting patah, yang menyisakan batang itu semakin merapuh kering atas sebuah klise permainan itu.


Berpikirkah dirinya jika suatu saat pohon itu benar-benar tumbang dan hilang? Saat itu aku bukanlah seorang aku yang saat ini masih memiliki sebuah pohon dengan ranting-ranting sisa.
Share: