Yang Tak Terungkap (Prolog)

Aku menulis ini di teras rumah ketika hujan turun dengan derasnya, sembari menghisap asap rokok yang mungkin saja kau benci meski tak pernah kau utarakan padaku saat kita pergi bersama atau sedang duduk bersebelahan saat bersama mereka, teman, kawan dan sahabat kita, sama seperti rasa ini yang tak pernah terungkap padamu hingga saat ini, saat aku berani menulis hampir semua yang mampu kuingat tentangmu, tentang kita, ah ya, banyak yang ingin kukatakan padamu selama ini, saat kita bercanda, bercerita, atau bahkan saat kau membagi kisah kesahmu tentangnya, tentang masa lalu yang hampir saja terlewati tanpa kita mau mengenal lebih dekat satu sama lain, yang membuatku tak tahan untuk tidak mengejekmu, tapi lidahku terlalu kelu. Ya, ini tulisanku tentang siapa dirimu selama ini untukku, meski pada akhirnya aku tak memilikimu. Sama seperti hujan yang turun malam ini, dimana esok pasti akan habis terserap bumi, menyisakan wangi tanah yang sungguh membuatku menghelanya dalam-dalam seperti yang pernah kukatakan padamu kesukaanku, aku ingin tulisan ini hanya menyampaikan yang tak pernah kuungkap padamu lalu menghilang dan menyisakan sebuah kenangan saat kau menghirup wangi tanah basah setelah hujan. Jika semua tulisan ini tak tersampaikan padamu atau bahkan ketika kau membacanya dan tak mampu menyadari bahwa kaulah yang aku tulis, maka biarlah ini tetap menjadi sebuah kata yang tak terungkap.

Share:

0 Comments:

Post a Comment

Yang punya nama, kasih nama donk woe!!!