Bulan Purnama-ku

Malam, gelap, sunyi, bulan bersinar terang, aku melihatnya kembali tapi aku tak lagi mengerti akan siapa dirinya kini, berubahkah dia? -bulanku yang purnama- memandang dunia secara berbeda, yang dulu sering dilihatnya terang kini dalam kegelapan, cahaya itu dinikmatinya, kegelapan malam itu juga dinikmatinya, aku tak mengerti apa dunia yang dia harapkan, dunia yang ingin dia jadikan ke-satu-nya.


Dia berubah, melihatku seperti tak lagi mengenal siapa aku, aku yang menjadikannya malaikat kecil dalam pikiran ini! Lupakah dia tentang kata yang dulu pernah ku ucapkan padanya, jika hanya dialah nama yang akan selalu ada dalam batin ini? meski aku tak akan lagi memilikinya jika satu saat nanti tak lagi terpilih dalam hatinya nama seorang aku, yang karena itu aku memilihnya, dunianya kini terlalu rumit untuk pengertianku, terlalu susah untuk mengikuti jalan pikirannya, meski aku tahu itulah dirinya sejak dulu, namun saat ini aku sungguh terlalu kekurangan pikiran untuk membuatnya dimengerti oleh akal ini.


Apa yang dia cari? ke-dunia-an? aku tak mampu melihat ini semua, aku selalu membuang muka untuk melihatnya, takut untuk mengerti, aku membutakan diri atas dirinya dan semua itu, dia yang telah menjadi Salma-ku dalam cerita Sayap-Sayap Patah Gibran dan Kemegahan Dunia-ku dalam puisi-puisi Rumi, tak mengertikah ia –Bulan Purnamaku–


Aku ingin menjadikannya lagi keindahan seperti dulu lagi, seperti keindahan nama yang disandangnya –Bulan Purnama– yang akan sayu menerangi gelapnya malamku dengan cahaya yang dibiaskannya dari telaga jiwa ini, aku ingin membuatnya se-patuh api yang berkobar membara, se-bengal air dalam cawan, seperti itu agar tercipta lagi keindahannya seperti dulu.


Kertas putih yang dibawa bersamanya dulu masih kosong dalam sepengetahuanku, namun entah kini apa yang dituliskannya di atas kertas itu, entah dengan tinta apa dia goreskan pena itu, namun andai aku diperbolehkan lagi untuk melihat kertas itu, aku akan meminta agar aku dapat menuliskan satu kata saja dalam kertas itu, dengan tinta hitam yg tebal akan kutuliskan di atas kertas itu sebuah kata ” CUKUP “, agar dia mengerti saat itu tak ada aku dalam setiap goresan-goresan penanya sebelum aku menuliskan kata itu, dan aku akan memohon padanya agar tak lagi mencari kata lain untuk dicoretkannya lagi, karena akupun tak mampu menambahkan meski hanya beberapa kalimat yang akan sama saja seperti gelas retak terisi penuh air.


Untukmu –Bulan Purnamaku– aku akan menuduhmu sebagai malaikat kecilku lagi seperti dulu.



-Bulan Purnama- seindah itukah nama perempuan itu? sepolos itu kah saat kamu mengenalnya? secantik itukah sampai kamu sebut malaikat? apa kamu mencintainya? masih seutuh dulu??????

kenapa??
kenapa??
kenapa??
kenapa kamu sampai 'kehilangan'nya saat dia masih milikmu?
apa kamu kurang menjaganya?
atau mungkin. .
apa karenamu dia berubah??

arghhhhhhhhhh
aku kehabisan kata. . .
seandainya saja aku -Bulan Purnamamu-




Ya...seindah itu karena memang itulah namanya
saat pertama kali aku mengenalnya, seperti itu, seperti kertas putih yang belum tergoreskan tinta oleh lain orang namun entah saat ini aku juga tak mengetahui apa isi kertas itu.
aku menyebutnya begitu dalam hati, aku mengacuhkan orang yang tak menyebutnya begitu.
Aku tak tau masihkah aku mencintainya, hanya saja saat aku menatap matanya, aku seperti melihat masalaluku yang secara tiba2 menggetarkan hati ini dengan hebatnya, entah keutuhan itu, aku masih mencari jawaban atas pertanyaan itu yg juga menjadi pertanyaan dalam pikiranku sejak bertemu dirinya setelah lama tak melihatnya dengan pandangan yang jelas bukan yg terkabur oleh banyak kabut kecemasan.


Akupun tak mengerti, aku kehilangan dirinya karena dia yang menginginkan, dulu alasannya seperti alasan salma pada gibran untuk meninggalkan gibran hanya saja disini alasan itu tidak terjadi karena ada penolakan dari ibundanya.


bukan karena aku, aku merasakan perubahan itu dari semua sisi dalam dirinya.


Ya...seandainya saja kau adalah -Bulan Purnamaku- kau pasti mengerti kata2ku yg tertulis disana didalam "Seperti Dulu".
karena kaupun mengagumi apa yang aku kagumi, tidak seperti dia yang tak mengagumi keindahan kata2 seperti kita mengagumi keindahan kata2...


Dan sesungguhnya Andaianmu itu tak kumengerti...

Share:

Bahasa Keras tentang Wanita

Wanita, makhluk indah yang diciptakan dengan berbagai keindahan-keindahan yang memang dianugrahkan untuk dinikmati, hanya saja menikmati semua itu sudah ditentukan waktu dan orang yang tepat, dengan pengakuan sah dari semua pihak. Ya, Wanita bukan untuk dinikmati sebelum waktunya. Untukmu sahabatku, kaum keturunan Adam, mereka --Wanita-- adalah manusia bukanlah sebuah barang yang bisa kalian ambil lalu buang, bukan sebuah tisu yang sekali saja terpakai lalu kalian lemparkan dengan perasaan jijik ke tempat sampah. Bukan seperti itu kawan, mereka adalah Ibumu dan Ibumu adalah mereka, ingat itu sahabat, jika kalian nodai mereka sama halnya kalian menodai kesucian seorang Ibu yang dengan begitu hebatnya menjadi pintu perantaramu memasuki dunia fana ini.

Untukmu kaum keturunan Hawa, aku memanggilmu dan aku ingin menyampaikan sesuatu yang mungkin akan menyakitkan bagimu, Kalian --Wanita-- diberi keindahan-keindahan itu untuk dijaga sampai tiba saatnya kalian harus menyerahkannya kepada yang satu, yang telah dengan sah memiliki seluruh bagian dari keindahan-keindahan itu, kalian tidak perlu menyombongkan diri dengan keindahan-keindahan yang melebihi keindahan wanita lain, keindahan yang diberikan padamu dengan lebih adalah amanat yang sangat berat, kesucianmu adalah tanggungjawabmu, kesucianmu adalah sebuah matahari jika kehidupanmu adalah tatasurya, jika kesucian itu hilang maka seluruh tata surya tidak ada artinya lagi. Dan ingat satu kalimat yang menyakitkan ini "70 dari 100 persen penghuni neraka adalah Wanita", ya, terkesan memang tidak dan mungkin sangat tidak adil tapi pikirkan mantra sakti ini "Kalian kangkangkan kaki kalian dan semua pria akan merelakan segalanya untuk meraihnya" --maafkan aku jika kalimat itu benar-benar sakti untuk membungkus otak kalian jika aku merendahkan kalian, maaf ini bahasa keras yang ingin kupakai untuk sebuah kejujuran dan kemuakanku terhadap mereka yang melakukan segalanya termasuk merelakan kesucian itu demi sebuah keduniawian yang disebut harta-- dengan keindahanmu kalian bisa meredam amarah dan segala bentuk kenafsuan, kalian pun bisa mendapatkan segalanya dengan keindahan yang kalian miliki, tapi bukan itu tujuan dari diberikannya keindahan itu padamu, bukan itu.
Sudah kukatakan padamu, keindahan itu untuk yang satu, dimana waktu dan siapa sudah ditentukan dalam garis kehidupanmu, kalian bisa merubah garis itu tapi kalian tidak bisa merubah satu titik besar yang memang harus kalian lewati.
Share:

Hujan Kemarin

Selamat pagi duniaku, Hujan kali ini menyirami lagi tanah kering dijalan2 dimana kita sering lewati dulu, saat2 seperti ini, membuatku merasakan kembali sesuatu yg hilang, harum tanah yg terlihat seperti bayanganmu yg melenggang merayu untuk mengajakku menari bersama tetesan air hujan itu lagi, seperti dulu saat kita sengaja membasahi diri dengan tamparan air2 hujan itu
(Tulisanku yg ditulis kembali oleh seorang Adikku)


Hari ini tidak hujan, tapi hela napas ini masih belum melupakan segaris senyum indah itu...
Hari ini tidak hujan, dan hari ini aku tau tidak akan ada seberkas kasih yg terlontar dari bibir itu, aku mulai kaku melunglai karena semuanya terjadi kembali, ya, saat ini, tanah kering itu gambaran dari apa yg ada dalam titik pikiran jahatku, membuangku lebih jauh dalam pembodohan dengan keadaan dalam titian papan kecil diatas jurang dalam, mematahkan semua keniscayaanku pada sebuah cerita cinta kasih yg sempurna...


Kali ini tidak hujan, tapi tetap menjadi hitam karena sebuah kegalauan yg gaduh riuh mengisi jurang2 hati, memenuhi setiap lekukan kedalaman itu dengan begitu keras, sisi2nya sudah hampir rubuuh tak mampu menahan semuanya, sepertinya sudah dalam keadaan koma, mungkin sekarat, adakah yang akan membangunnya kembali nanti atau mampukah aku membiarkan manusia lain menyusun kembali puing2 itu...


Aku sudah tak mampu lagi berkata, semua kata sudah kutukarkan dengan beberapa hati untuk mengganti hati yg lama, demi sebuah cerita yg selalu saja sama akhirnya dan akulah yg terakir menelan pahitnya kebodohanku itu....
Share:

Hal Bodoh lagi

Kenapa selalu saja kau merasa bangga dengan kebodohan-kebodohan itu? Dengan bangganya kau lakukan dengan kesenangan hati, tanpa ada rasa salah diri, kemana otak yang Ia berikan padamu, tak bisakah untuk kau gunakan sedikit berpikir jernih?
Tak mampukah sedikit saja kau gunakan nalar? Dengan seribu satu alasan-alasan masuk akal menurutmu belum tentu masuk akal juga untuk mereka, berpikirlah!!!
Ataukah aku harus membuka kedua matamu dengan semua kata-kata yang lebih keras dan janggal? Aku tau pasti hanya akan ada tangis disana, bukan untukku semua ini, tapi untukmu, bukan untuk mereka, tapi untukmu sendiri.
Share:

Beda kita, kita beda

Kau, yang ada dalam tulisanku ini, aku yakin kau mampu mengerti dengan pasti bahwa kaulah yang ada dalam tulisan busuk ini.


Kau tahu? Kita sedikit banyak berbeda, lebih dari sekedar perbedaan badaniah, kau banyak berubah sudah, dari caramu mengucapkan kata perkata padaku, rasa itu, rasa yang kau bilang pernah hilang, kutanyakan padamu itukah rasa yang sangat kau yakini dan banggakan padaku? Saat ini aku tidak ingin membicarakan hal itu denganmu, sesuatu yang kali ini ingin ku nyatakan padamu sesuatu yang sangat membedakan kita, Gayamu membunuhku, ya, gaya hidup itu, saat ini kita sudah terlalu jauh berbeda, aku bukan manusia tinggi sepertimu atau mereka yang merasa punya dan bisa, aku manusia rendahan, karena aku sadar tentang ketidak abadian dunia, jika harus memilih untuk berkasta, kasta rendah yang akan menjadi pilihanku. dari kasta ini aku mampu mengerti siapa yang benar-benar menjadikan aku "ada" bukan karena aku berada.


Tidak cukup kesenangan hari ini, tapi kesenangan esok hari, lusa dan selanjutnya. Mungkin hari ini kau bisa mendandani hidupmu dengan kemegahan bodoh itu, tahu apa kita tentang hari esok? Mati atau hiduppun kita tak mengerti, tidak salah menyiapkan segalanya, aku hidup dengan kesederhanaan yang sudah aku katakan padamu dan aku yakin kaupun sudah tahu itu, aku tidak ingin merubahmu menjadi sepertiku, pun aku tidak mau merubah hidupku hanya demi sebuah kebodohan gaya hidup.


Jika semua ini memang tak sama, seperti itulah adanya, hidupku bukan hidupmu, hidupmu bukan hidupku, atur saja semaumu, aku tidak mau mengaturmu meski sudah menjadi keharusan bagiku untuk itu tetapi aku tahu kau tidak tahu dan tak mau tahu tentang itu.
Share:

Masa Kecilku

Bisa dibilang masa itu masa dimana aku menjadi seorang anak yang cengeng dan manja, satu kisah tentang Foto Ibuku, suatu ketika Bapakku memotret Ibu, Aku dan Kakakku, dengan pose yang berbeda-beda tentunya, Aku dan Kakakku duduk di teras rumah dan Ibuku berdiri disamping kami, terang saja Bapakku lebih fokus pada kami berdua karena memang beliau berniat mengabadikan kami dalam sebuah gambar dari kamera tua dengan roll film didalamnya, seminggu setelahnya foto itupun jadi setelah cuci cetak di studio entah dimana, waktu kulihat foto itu bergambar aku dan kakakku yang terlihat sangat jelas dan disana ada gambar ibuku yang hanya sebagian saja terlihat, entah kenapa aku dulu, tanpa basa basi langsung saja aku menangis terisak-isak karena foto itu, hanya karena gambar ibuku terpotong, saat itu aku tidak peduli dengan keadaan dimana roll film kamera tua itu sudah habis, aku ingi kami di foto ulang dan aku ingin foto yang tadi dibuang jauh-jauh.

Masa kecilku memang terlalu manja, sedikit lebih besar aku menjadi anak yang bengal dan sedikit bandel, aku memasuki dunia sekolah dan mengenal banyak teman sebaya di SD Negeri tak jauh dari rumah kakek dan nenekku, tak begitu jauh juga dengan rumah bapak dan ibuku, hanya 15 menit ditempuh dengan berjalan kaki, setiap kali pulang sekolah, aku tak langsung pulang ke rumah, kami bermain di sawah, bersama kedua teman atau bilang saja sahabat dekatku, mereka adalah Untung(nDok) dan Aji(nJink'a), setiap kali disawah hanya ada tawa diantar kami meski kadang juga tangis, suatu ketika saat kami bermain berlarian saling kejar dipematang sawah tanpa menghiraukan tanaman kacang yang ditanam ditepian pematang itu yang baru saja bertunas, kami dikagetkan dengan teriakan pak tani pemilik sawah yang geram karena tanaman kacangnya kami injak-injak, tanpa banyak bicara kamipun berlari ketakutan, saat itu yang berada dibelakang adalah nDok, nJink'a di belakangku dan tentu saja aku yang didepan, nDok yang dibelakang tak bisa melihat jelas pematang yang sempit itu karena nJink'a dan aku didepnnya, mungkin karena itu dia terjatuh terjerembab dipematang itu, dia berteriak dan kami berhenti untuk mengangkatnya, salah satu kakinya masuk kedalam lumpur karena sawah baru saja dibajak dan masih basah, sialnya kami tak pernah melepas sepatu jika bermain-main dimanapun, jelas saja sepatu dia tak ikut terangkat, masih ada didalam lumpur, dengan mata sedikit berkaca-kaca dan masih berjongkok dia bilang "Bagaimana sepatuku?" belum sempat kami jawab, petani tadi muncul lagi, dengan wajah garangnya dan berteriak-teriak sambil mengacungkan sabitnya semakin membuat kami bertiga kalang kabut hampir mati ketakutan, tanpa memikirkan sepatu kamipun langsung berlari menjauh, sahabatku yang hanya bersepatu sebelah itupun berhenti dan masih bertanya tentang sepatunya, kami putuskan untuk mengambilnya bersama nanti sesudah ganti baju, kami berkumpul dirumah nDok meski biasanya juga begitu, rumah hanya sebagai tempat tidur kalau malam bagi kami, kami kembali ke sawah dimana sepatu tadi berada, dengan daya ingat yang masih belum sempurna karena rasa takut kami oleh ulah petani garang tadi kami mencari di setiap tepian sawah, dengan nada gembira bagaikan mendapatkan harta karun berlimpah ruah sahabatku itu berkata "Disini" segera saja kami menggali dan mengambil sepatu itu.
Tas plastik yang kami bawa dari rumah khusus untuk menghilangkan jejak jika kami membawa sepatu yang hanya sebelah dan berlumuran lumpur, kami menuju sungai yang lumayan besar tempat dimana kami biasa menghabiskan hari-hari untuk mencuci sepatu itu, biasanya disungai itu sudah banyak sekali teman-teman entah yang mandi, memancing atau sekedar bermain.

Selesai mencuci sepatu, kami menjemurnya diatas batu, sambil menunggu kering kami pun ikut bermain, banyak sekali permainan kami, meloncat salto dari batu cadas ke sungai mungkin Loncat Indah pikir kami saat itu, bermain pasir yang dibulatkan lalu dibuatkan Treck seperti mobil tamiya dan hotwells impian kami atau saling berbagi teman untuk membentuk dua kelompok lalu memainkan Perang Dunia ke tiga, amunisi kami adalah lumpur ataupun pasir yang sudah dibulatkan, saling lempar dan sembunyi dibalik batu-batu besar, sebelum mata kami memerah karena terlalu lama berendam kami tidak akan pulang, sebelum pulang mata kami harus sudah tidak merah lagi karena jika masih merah kami akan mendapatkan ceramah yang panjang nan lebar, biasanya kami membakar daun-daun kering untuk menghangatkan badan sembari menunggu mata kami sudah tidak lagi merah, hampir menjelang Maghrib kami baru pulang, sesampainya dirumah kami semua lupa dengan sepatu yang tadi kami cuci itu, dengan tergesa-gesa sang empunya sepatu berlari ketempatku bersama sahabatku yang satunya lagi, langit hampir gelap, dan kami adalah pengecut yang penakut, tapi tidak ada pilihan lain, kami merasa asing meski kami ditempat biasa dimana kami sering bermain, entahlah, mungkin karena sudah sangat sore dan tak ada segerobolan orang-orang seperti tadi siang, kami lihat sepatunya masih berada ditempat yang semula saat kami menjemurnya tadi siang, bergegas kami mengambilnya lalu berlari pulang.

Keesokan harinya kamipun melakukan hal yang sama, sepulang sekolah bermain disawah, pulang dengan baju sedikit kotor karena lumpur, bermain disungai dengan permainan yang sama, teman yang sama dan sahabat yang sama namun beda tema dan cerita.
Share:

Aku

Sebuah kisah tentang kehidupan manusia, manusia yang biasa saja, layaknya manusia yang menjalani kehidupan dengan nyawa yang ada, untuk kali pertamanya aku menceritakan tentang "Aku", ya, Aku.

Awal kehidupanku sama seperti manusia pada dasarnya, keluar dari rahim seorang Ibu yang hebat. Kata mereka tangisku penuh menyesaki ruang bersalin kecil itu, di rumah sakit umum, bukan rumah sakit bersalin, begitu menghembuskan napas pertama, aku disambut dengan ucapan syukur kepada-Nya dari orang-orang yang menanti kehadiranku, syukur mereka karena hebatnya Ibu yang bersusah payah memberiku dunia baru setelah membawaku kemanapun ia pergi selama 9 bulan, syukur atas selamatnya Ibu dan Aku, tak lupa dikumandangkan Adzan ditelinga kananku oleh seorang laki-laki yang aku sebut bapak.

Dunia baru telah kuhirup udaranya, segar dan sampai saat ini masih kuhirup kesegaran itu, di rumah bapakku yang sederhana namun tetap nyaman untuk sekedar berteduh dikala hujan ataupun panas, dimana disana sudah ada anak dari orangtuaku yang pertama, ya, dia kakakku.

Sedikit tentang kedatanganku untuk menghirup udara dunia. Aku adalah orang yang hidup dalam keluarga yang sederhana, banyak cerita masa kecil yang masih teringat dalam otakku ini, penuh dan sesak.
Share: