Datang seolah merayap dari sebuah keruhnya hati kau menemuiku, untuk saat seperti ini di akhir bulan januari. Kau bicarakan lagi apa yang sebenarnya harus sudah tersimpan rapi dan terkubur dalam-dalam, sebuah hati, terluka, dan matamu memperlihatkan semua itu padaku, aku bertanya dalam hatiku, "Inikah saat yang aku tunggu-tunggu?" saat dimana kau terbunuh oleh semua keputusan-keputusan itu. Dan lagi, kau ulangi kata yang sangat aku benci saat ini, Cinta.
Saat kuberikan semua itu, kemana kau? seharusnya bukan saat ini kau minta itu, kenapa tidak sedari dulu? Mungkin saat ini yang tertinggal disini hanya sisa-sisa dari sebuah rasa yang dulu pernah teramat besar yang kau acuhkan dan yang kau inginkan saat ini. Datang pergi lagi, seperti kemarin, membunuh satu hati lalu datang pergi itu lagi. Pergi saja selamanya, tak perlu kembali dengan sebuah kebusukan hati yang terluka dan meminta hati lain untuk menggantinya.
Jangan bicarakan ini lagi denganku, sampai saat ini cinta masih membuatku berpikir keras untuk sekedar menemukan arti dari semua itu, Cinta, Nafsu atau sekedar pelengkap masa-masa remaja? Semua hampir sama tidak berbeda, sekali datang kemudian pergi berlalu. Adapun pembodohan yang menganggap semua itu sebuah seleksi, darimana aturan bodoh itu? Dan aku tau, pemikiran bodoh itu yang kau genggam dengan erat.
Saat kuberikan semua itu, kemana kau? seharusnya bukan saat ini kau minta itu, kenapa tidak sedari dulu? Mungkin saat ini yang tertinggal disini hanya sisa-sisa dari sebuah rasa yang dulu pernah teramat besar yang kau acuhkan dan yang kau inginkan saat ini. Datang pergi lagi, seperti kemarin, membunuh satu hati lalu datang pergi itu lagi. Pergi saja selamanya, tak perlu kembali dengan sebuah kebusukan hati yang terluka dan meminta hati lain untuk menggantinya.
Jangan bicarakan ini lagi denganku, sampai saat ini cinta masih membuatku berpikir keras untuk sekedar menemukan arti dari semua itu, Cinta, Nafsu atau sekedar pelengkap masa-masa remaja? Semua hampir sama tidak berbeda, sekali datang kemudian pergi berlalu. Adapun pembodohan yang menganggap semua itu sebuah seleksi, darimana aturan bodoh itu? Dan aku tau, pemikiran bodoh itu yang kau genggam dengan erat.
hmm setuju! apa seh cinta itu.
ReplyDelete